BAKTI Targetkan Bangun 7.000 BTS di Daerah 3T Hingga 2024

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 06 Okt 2022, 08:00 WIB
Diperbarui 06 Okt 2022, 08:00 WIB
BAKTI
Perbesar
Direktur Infrastruktur BAKTI Kominfo Bambang Noegroho saat mengunjungi BTS 4G BAKTI di daerah 3T di Desa Selong Belanak, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Rabu (5/10/2022).

 

Liputan6.com, Lombok Timur - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) Kominfo menargetkan pembangunan BTS 4G di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) diselesaikan pada akhir 2024 dengan jumlah sekitar 7.000-an BTS.

Direktur Infrastruktur BAKTI Kominfo Bambang Noegroho menyebut, pihaknya berupaya untuk terus mengatasi kesenjangan akses internet yang terjadi di kota dengan di daerah 3T. Di mana, menurut data, ada 7.904 wilayah tanpa sinyal atau blank spot yang harus dibangun oleh BAKTI.

"Hingga September 2022, total BTS 4G yang sudah on-air mencapai 4.241 site. Jumlah itu terus bergerak seiring dengan pekerjaan kami," kata pria yang karib disapa Nugie ini di acara Media Gathering BAKTI, di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (5/10/2022).

"Targetnya hingga akhir 2024, BAKTI bisa membangun 7.000-an site. Kami harap ada anggaran yang cukup, sehingga di tahun depan bisa membangun lebih banyak BTS."

Dalam rangkaian acara ini, BAKTI mengajak media mengunjungi site BTS 4G BAKTI di daerah 3T yakni di Desa Selong Belanak, Lombok Tengah, NTB. Pada kesempatan itu, Nugie menyebut, sampai saat ini pihaknya terus mengejar target pembangunan BTS 4G sebanyak 7.904 site itu selesai pada 2024.

"Kami berharap semua wilayah bisa bebas blankspot, selama ini kami berkomunikasi dengan Kemenkeu untuk mendapatkan anggaran dari Kemenkeu guna menyelesaikan blankspot di 7.904 titik," kata pria yang karib disapa Nugi ini.

Nugi pun bercerita mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap rencana penyelesaian BTS 4G. Menurutnya, meski pandemi telah menurun secara signifikan, efek domino dampak pandemi masih terjadi.

Dalam hal ini, beban pekerjaan menjadi dobel karena harus menyelesaikan PR pekerjaan tahun 2021.

Pasalnya, sejak tahun 2021, meski dimulai pada saat pandemi mencapai puncaknya atau gelombang kedua di bulan Juni-Agustus 2021, mobilitas pekerja menjadi sangat terbatas, bahkan ada yang tidak bisa bekerja sama sekali.

"Situasi perekonomian dunia yang kurang bagus, di mana logistik dan distribusi terganggu serta kelangkaan suku cadang yang dibutuhkan, salah satunya micro chip. Namun BAKTI tetap berkomitmen dan bekerja keras bersama mitra untuk membangun BTS 4G BAKTI," katanya.

BAKTI mengklaim, saat pandemi, pihaknya membangun BTS di 2.555 lokasi dalam waktu yang singkat yakni 1,5 tahun.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


BAKTI Dorong UMKM Lombok Go Digital

<p>BAKTI Dorong UMKM Lombok Go Digital dengan Pelatihan Internet. (Liputan6.com/ Agustin Setyo Wardani)</p>

Lebih lanjut, BAKTI tidak hanya membangun infrastruktur telekomunikasi untuk menghubungkan daerah 3T dengan akses internet tetapi juga ikut memberdayakan masyarakat di daerah 3T dengan program pelatihan berbasis internet. UMKM, pendidikan, dan pariwisata adalah sebagian bidang yang disentuh program ini.

Salah satu wilayah yang didukung program pelatihan berbasis internet ini adalah Desa Sukarara, Lombok Timur. Di sini, dari sejak sebelum pandemi, yakni 2019, BAKTI memulai programnya.

UMKM diajak untuk belajar memasarkan produknya secara online (digital marketing), sementara para pemuda sekitar diajak untuk meningkatkan keterampilan Bahasa Inggris yang bisa menjadi bekal untuk menjadi tour guide bagi wisatawan asing.

Total, 30 pelaku UMKM di desa Sukarara dilatih digital marketing agar mampu memasarkan produknya secara online. Produk yang dipasarkan beragam, dari tenun, hasil kerajinan tangan, hingga produk makanan dari pangan lokal.

Salah satu wilayah yang didukung program pelatihan berbasis internet ini adalah Desa Sukarara, Lombok Timur. Di sini, dari sejak sebelum pandemi, yakni 2016, BAKTI memulai programnya.

UMKM diajak untuk belajar memasarkan produknya secara online, sementara para pemuda sekitar diajak untuk meningkatkan keterampilan Bahasa Inggris yang bisa menjadi bekal untuk menjadi tour guide bagi wisatawan asing.

Total, 30 pelaku UMKM di desa Sukarara dilatih digital marketing agar mampu memasarkan produknya secara online. Produk yang dipasarkan beragam, dari tenun

Di tengah pandemi yang membuat pariwisata Lombok sempat sepi, pelatihan berbasis internet dari BAKTI justru dirasakan manfaatnya bagi para pelaku UMKM, terutama para perajin tenun dan pembuat camilan berbahan lokal, yang bahkan bisa menembus pasar ekspor.


Melek Internet

<p>BAKTI Dorong UMKM Lombok Go Digital dengan Pelatihan Internet. (Liputan6.com/ Agustin Setyo Wardani)</p>

Satria sebagai salah satu pelaku UMKM penjual tenun menyebut, lewat program pelatihan digital marketing ini, dirinya yang semula tidak tahu internet jadi paham untuk membuat etalase dan menjual produknya di platform WhatsApp Business, Instagram, dan lain-lain.

"Awalnya tidak mengerti internet, terima kasih kepada BAKTI, setelah ada pelatihan, sekarang bisa menjajakan produk melalui WA Business, Instagram, dan lain-lain. Kalau bisa ditambah lagi pelatihannya karena masih banyak perajin yang perlu dilatih," kata Satria, dalam acara Media Gathering BAKTI Kominfo di Lombok, Rabu (5/10/2022).

Satria lebih lanjut mengatakan, sebagian besar perempuan di desanya merupakan perajin tenun yang hasilnya tidak kalah dari karya perajin lainnya. Menurutnya, mengatakan, dengan pelatihan digital marketing yang didapatkannya, perajin dan pelaku UMKM sepertinya bisa memasarkan produknya sendiri dan membuat ekonomi keluarga lebih berdaya.

Sementara itu, Yosi Eka Kurniawati sebagai pemilik bisnis UMKM Ombak Food bahkan bisa menembus pasar ekspor berkat pelatihan digital marketing dari BAKTI yang diikutinya. Menurutnya, dengan pelatihan digital marketing tersebut, emak-emak gaptek bisa jadi melek teknologi.

Yosi mengikuti pelatihan digital marketing BAKTI pada 2019. Mulanya ada rasa enggan karena pelaku UMKM setempat sudah nyaman dengan penjualan produk secara offline. Namun, setelah mengikuti pelatihan ini, dia paham bahwa digital marketing adalah hal yang penting dan media sosial begitu dibutuhkan untuk memasarkan produk UMKM.

"Pada tahun 2022 kami dihantam pandemi, dampaknya luar biasa. Namun kami bersyukur karena dibekali digital marketing. Kami diajari bagaimana membuat WhatsApp Business, akun Instagram pribadi harus dipisah dengan bisnis, serta membuat Google My Business yang memungkinkan konsumen di luar daerah untuk menemukan usaha kami. Hasilnya banyak wisatawan luar daerah berkunjung ke tempat usaha kami," kata Yosi.

Dari situlah, omzet dagangnya mengalami peningkatan. Konsumen yang awalnya tidak bisa dijangkau pun bisa dijangkau dengan pemasaran online.


Pelatihan BAKTI

<p>BAKTI Dorong UMKM Lombok Go Digital dengan Pelatihan Internet. (Liputan6.com/ Agustin Setyo Wardani)</p>

Selain pemasaran, pelatihan BAKTI juga seputar pengemasan produk agar terlihat menarik. Dengan inovasi ini, UMKM Ombak Food mendapatkan pesanan dari mancanegara, seperti Singapura, Taiwan, hingga Jerman.

Hadir dalam acara, Direktur Layanan Teknologi Informatika untuk Pemerintah dan Masyarakat BAKTI Kominfo Danny Januar menyebut, kehadiran internet tidak akan membuahkan hasil jika tidak didukung dengan ekosistem.

"Program ini memberikan layanan publik, dengan kehadiran infrastruktur telekomunikasi, apa yang bisa BAKTI lakukan untuk meningkatkan manfaat internet. Secara umum, ekosistem digital ini berupaya menghasilkan inovasi guna memberikan manfaat dan dampak bagi pengguna internet," tutur Danny.

Ia menambahkan, BAKTI selain membangun infrastruktur telekomunikasi juga berupaya melihat potensi-potensi apa yang perlu didorong di Desa Sukarara. Dari situ, BAKTI menekankan, masih ada gap dalam adopsi teknologi, terutama di wilayah 3T. Untuk itulah dipilih program pelatihan digital marketing bagi pelaku UMKM di Sukarara.

"Kami melakukan pelatihan digital marketing dengan pendampingan berkelanjutan, karena di wilayah pedesanan, sangat sulit melakukan pelatihan satu dua kali kemudian ditinggal. Upaya ini perlu di-mantain," ujarnya.

Dalam menjalankan program pelatihan berbasis internet ini, BAKTI juga bekerja sama dengan berbagai pihak lain. Salah satunya adalah dengan Indonesia Ecommerce Association untuk wilayah Desa Sukarara.

"Portofolio yang kami miliki, dibagikan ke berbagai pihak yang ingin melakukan upaya serupa. Ke depan, fokus kami adalah menyasar wilayah-wilayah yang dibangun, yakni 3T, dengan formulasi yang tepat untuk tiap wilayah," katanya.

BAKTI sendiri punya pekerjaan rumah membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Hingga 2024, BAKTI menargetkan ada setidaknya 6.000 BTS 4G yang memberikan akses internet ke masyarakat di wilayah 3T.

BAKTI juga diserahi tanggung jawab untuk memastikan program high throughput satellite (HTS) mengorbit setidaknya akhir 2023 untuk mendukung konektivitas internet di wilayah yang tidak terkover layanan terestrial. Bukan hanya itu, BAKTI juga berencana mengintegrasikan Palapa Ring untuk mendukung pemanfaatan program tersebut hingga tingkat last mile.

(Tin/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya