Hampir Setengah Orang Amerika Tak Bisa Hidup Tanpa Internet

Oleh Iskandar pada 04 Okt 2022, 07:00 WIB
Diperbarui 04 Okt 2022, 07:00 WIB
70% Pengguna Internet Takut Datanya Disadap
Perbesar
Ilustrasi pengguna internet (anthillonline.com)

Liputan6.com, Jakarta - Hampir setengah dari orang Amerika Serikat (AS) tidak dapat hidup tanpa perangkat elektronik (48%) dan WiFi/ internet (46%). Demikian menurut penelitian baru oleh dari OnePoll atas nama WithSecure.

Selain itu, survei yang melibatkan 2.000 orang dewasa AS ini juga mengungkapkan bahwa kebutuhan pokok lainnya--selain makanan dan air--mereka tidak dapat hidup tanpa obat-obatan (55%), listrik (53%), dan bensin (51%).

Studi ini mengecek perspektif responden tentang masalah rantai pasokan dan menemukan bahwa hampir setengahnya mengatakan bahwa masalah tersebut 'agak memengaruhi' kehidupan mereka (45%)--mulai dari biaya hidup, pekerjaan, dan kebutuhan dasar.

Seorang responden mengatakan, “Susu formula bayi sangat sulit untuk saya temukan,” dan yang lainnya mengaku, “Saya harus mengurangi pengeluaran begitu banyak untuk bahan makanan.”

Rata-rata, orang Amerika membeli sepertiga kebutuhan pokok mereka secara online, dengan responden berusia 35-44 tahun menjadi yang paling mungkin mendapatkan setidaknya setengah dari kebutuhan mereka dengan cara ini.

Sementara itu, dua dari lima orang Amerika meyakini bahwa situasi yang berkaitan dengan gangguan rantai pasokan global akan meningkat.

Sepertiga responden memperkirakan gangguan rantai pasokan akan berlanjut selama dua tahun lagi (34%). Sementara 30% berpikir masalah rantai pasokan akan tetap sama, persentase yang sama percaya bahwa keadaan akan memburuk.

Mengutip New York Post, Selasa (4/10/2022), survei ini juga menguji pengetahuan responden tentang istilah ekonomi dasar, menemukan bahwa meskipun tujuh dari 10 orang Amerika 'yakin' dalam pemahaman mereka tentang masalah rantai pasokan, hanya 59% yang benar-benar tahu apa arti istilah tersebut.

Mengenai penawaran dan permintaan, kurang dari setengah responden tahu bahwa itu menentukan harga produk dan layanan di pasar bebas (41%), sementara hanya 45% yang berpikir itu menentukan harga gas.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Berkaitan dengan Keamanan Siber

Antisipasi Kebocoran Data Pribadi, Ini Saran dari Pakar Siber
Perbesar
Pakar siber ungkap tips mencegah dan mengatasi kebocoran data pribadi. (unsplash/nelsonah hegu).

Namun, mayoritas orang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang apa arti inflasi dan resesi, dengan masing-masing 64% dan 57% memilih definisi yang benar.

“Perusahaan besar memiliki puluhan ribu pemasok dalam rantai pasokan mereka; serangan meningkat dan tidak ada industri yang terlarang,” kata Paul Brucciani, penasihat keamanan siber di WithSecure.

“Setiap individu yang bekerja dalam rantai pasokan adalah target potensial. Perusahaan dapat mengurangi risiko pasokan dengan membantu karyawan dan pemasok memahami bagaimana mereka dapat terpapar, dan bagaimana mereka dapat melindungi diri mereka sendiri,” sambungnya.

Sementara orang Amerika yang lebih tua kemungkinan besar mengakses ke internet atau menonton TV untuk mendapatkan berita tentang politik dan peristiwa besar.

Sejumlah besar responden yang lebih muda secara menarik mendapatkan berita melalui sumber-sumber seperti podcast atau surat kabar, juga tetap up to date tentang teknologi dan keuangan.

Secara keseluruhan, responden dari semua generasi tetap mendapat informasi tentang masalah ekonomi seperti rantai pasokan dan inflasi.

Penelitian ini juga menyelidiki hubungan antara rantai pasokan global dan keamanan siber. Dalam hal data pribadi mereka, 37% mengakui bahwa mereka merasa 'agak aman' tentang sistem penyimpanan cloud.

 


Kelebihan dan Kekurangan Penyimpanan Cloud

Ilustrasi Cloud
Perbesar
Ilustrasi Cloud

Responden menyebutkan beberapa keuntungan memiliki sistem penyimpanan data cloud, seperti backup dan recovery (51%), keamanan (42%) dan akses mudah (41%).

Yang lain mengatakan mereka menghargai privasi (37%), keandalan (36%), dan memiliki cloud di banyak perangkat (33%).

Meskipun cloud dapat membantu, pengambil survei juga mencatat beberapa kerugian yang berisiko bagi pengguna cloud, termasuk peretasan (48%) dan phishing (33%) dari sumber luar, masalah teknis (44%) dan kehilangan data. (38%).

Dengan mempertimbangkan pro dan kontra ini, 51% setuju bahwa mereka akan hancur jika mereka diretas atau di-phishing, terutama karena mereka memiliki konten sensitif yang disimpan di sana (46%).

“Tiga perempat pelanggaran dapat dicegah dengan menggunakan kata sandi yang kuat dan otentikasi multi-faktor dan waspada terhadap email yang mencurigakan,” kata Paul Brucciani, penasihat keamanan siber di WithSecure.

“Memiliki langkah-langkah keamanan siber yang efektif, dan selalu mencadangkan data Anda, akan mengurangi banyak risiko dan harus menjadi prioritas pertama kami,” pungkasnya.


Infografis Era Teknologi 5G di Indonesia (Liputan6.com/Triyasni)

Infografis Era Teknologi 5G di Indonesia
Perbesar
Infografis Era Teknologi 5G di Indonesia (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya