Telkomsat Pakai Starlink Elon Musk untuk LATMA Garuda Shield-16 2022 di Kalimantan Timur

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 12 Agu 2022, 16:00 WIB
Diperbarui 12 Agu 2022, 16:00 WIB
SpaceX Luncurkan 60 Satelit Starlink ke Orbit
Perbesar
Roket Falcon 9 lepas landas dari Space Launch Complex 40 di Florida's Cape Canaveral Air Force Station, Amerika Serikat, Kamis (23/5/2019). Perusahaan penerbangan luar angkasa SpaceX meluncurkan 60 satelit Starlink ke orbit rendah Bumi. (Malcolm Denemark/Florida Today via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Layanan internet satelit milik Elon Musk, Starlink, diketahui sudah mulai digunakan oleh Telkomsat dalam Latihan Bersama (LATMA) Garuda Shield-16 tahun 2022.

Layanan Starlink pun dinilai mampu dan memberikan kepuasan dalam melayani koneksi internet di wilayah blankspot, sebagai lokasi LATMA di Amborawang, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanagera, Kalimantan Timur.

Selama 15 Juli sampai 31 Agustus 2022, layanan satelit Starlink telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi dan mendukung kelancaran serta kesuksesan kegiatan LATMA.

14 negara yang terlibat dalam kegiatan ini yaitu Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Jepang, Singapura, Perancis, Inggris, Papua Nugini, Timor Leste, India, Kanada, Selandia Baru, dan Korea Selatan.

Telkomsat menyebut, layanan Starlink dipercaya karena dianggap memiliki banyak keunggulan. Salah satunya adalah kecepatan proses delivery instalasi dengan perangkat yang ringan dan portabel.

Layanan ini juga dinilai memiliki kecepatan layanan broadband yang setara dengan fiber optik, dan mampu mendukung layanan telekomunikasi sampai dengan 5G.

"Sebelum adanya Starlink, kami hanya mendapatkan satu bar sinyal, itu pun kadang hilang sama sekali," kata Danton Opforce, Letda Czi Mashabi, dalam keterangan tertulis di laman Telkomsat, dikutip Jumat (12/8/2022).

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Membantu Mendapatkan Sinyal

Peroleh Hak Labuh Starlink, Telkomsat Siap Dukung Pemerataan Akses Internet di Indonesia
Perbesar
Ilustrasi Telkomsat (Dok. Telkomsat)

Menurut Mashabi, kehadiran Starlink membantu mereka untuk mendapatkan sinyal di Amborawang secara penuh. "Untuk komunikasi, internet lancar, dan tidak ada kendala sama sekali," ujarnya.

Lukman Hakim Abd. Rauf, Direktur Utama Telkomsat lebih lanjut megnatakan, mereka berkomitmen memberikan layanan yang terbaik dan mendukung penuh kegiatan latihan bersama lintas negara ini.

Menurut Lukman, mereka sudah melakukan beragam persiapan dengan semaksimal mungkin, untuk mendukung penyelenggaraan LATMA. "Perangkat Starlink dan sarana komunikasi kami pastikan aman dan berjalan normal,” kata Lukman Hakim.

"Harapannya, dengan perangkat komunikasi yang telah kami sediakan, dapat memenuhi kebutuhan komunikasi bagi para prajurit dan tentunya hal ini juga mendorong Telkomsat dapat terus berkontribusi memberikan yang terbaik bagi negeri," imbuhnya.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Kemkominfo Beri Hak Labuh Satelit ke Starlink ke Telkomsat

SpaceX Luncurkan 60 Satelit Starlink ke Orbit
Perbesar
Roket Falcon 9 lepas landas dari Space Launch Complex 40 di Florida's Cape Canaveral Air Force Station, Amerika Serikat, Kamis (23/5/2019). Misi ini merupakan langkah SpaceX untuk menghadirkan koneksi internet dari luar angkasa. (AP Foto John Raoux)

Seperti diketahui, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sebelumnya telah memberikan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostationer (NGSO) Starlink kepada PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat).

Ditekankan Juru Bicara Kemkominfo, Dedy Permadi, hak labuh satelit tersebut hanya berlaku untuk layanan backhaul dalam penyelenggaraan jaringan tertutup Telkomsat. 

Menurutnya, layanan ini bukan untuk layanan retail pelanggan akses internet secara langsung oleh Space Exploration Technologies Corp (Starlink).

Itu artinya, layanan internet dari Starlink bukan dikhususkan bagi pelanggan langsung, melainkan dipakai untuk penyelenggaraan jaringan tertutup Telkomsat.

Sekadar informasi, backhaul adalah teknologi yang memfasilitasi perpindahan data dari satu infrastruktur telekomunikasi ke telekomunikasi lainnya.

Teknologi backhaul bisa digunakan untuk mendukung penyediaan layanan broadband internet selular 4G, tertutama di daerah rural yang belum tersambung secara langsung dengan kabel serat optik.

Disebutkan pula, layanan satelit internet Starlink hanya bisa beroperasi jika pembangunan Gateway Station - Terestrial Component untuk menerima layanan kapasitas Satelit Starlink serta pengurusan Izin Stasiun Radio (ISR) Satelit Starlink telah rampung oleh Telkomsat.

 


Wajib Tunduk Regulasi yang Berlaku

SpaceX Luncurkan 60 Satelit Starlink ke Orbit
Perbesar
Roket Falcon 9 lepas landas dari Space Launch Complex 40 di Florida's Cape Canaveral Air Force Station, Amerika Serikat, Kamis (23/5/2019). SpaceX meluncurkan satelit Starlink ke orbit setelah batal melakukannya pada minggu lalu lantaran gangguan angin kencang. (AP Foto John Raoux)

Telkomsat, dalam hal ini adalah pemegang eksklusif atas Hak Labuh Satelit Starlink, maka Telkomsat berhak mendapatkan layanan backhaul satelit.

"Operasional pemanfaatan layanan Starlink oleh Telkomsat wajib tunduk pada regulasi yang berlaku, termasuk pemenuhan kewajiban hak labuh," kata Dedy.

Lebih lanjut Dedy menyebutkan, izin hak labuh akan dievaluasi setiap tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi dan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Selanjutnya, Dedy menyebut, hubungan perdagangan bilateral di sektor telekomunikasi dan digital antara Indonesia dan Amerika Serikat berkembang pesat.

Di mana, kerja sama kedua negara juga mencakup rencana Indonesia untuk memiliki tiga satelit terbaru. Ketiga satelit yang dimaksud adalah:

1. 150 Gb Very High Throughput Satellite (VHTS) yang diberi nama Satria (Ka-Band)

2. 80 Gb Very High Throughput Satellite (VHTS) sebagai Hot Backup Satellite (Ka-band).

3. 32 Gb High Throughput Satellite (HTS) yang dimiliki Telkomsat (C & Ku-band).

Ketiga satelit ini rencananya diluncurkan dengan roket peluncur milik SpaceX, Falcon 9, dan merupakan jenis satelit yang mengorbit di Geo stationer Orbit.

(Dio/Ysl)

Infografis Era Teknologi 5G di Indonesia
Perbesar
Infografis Era Teknologi 5G di Indonesia (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya