Kreator Destiny 2 Gandeng NetEase Garap Game Baru di Android dan iOS

Oleh Yuslianson pada 06 Jul 2022, 18:30 WIB
Diperbarui 06 Jul 2022, 18:30 WIB
Destiny 2
Perbesar
Destiny 2. Liputan6.com/ Yuslianson

Liputan6.com, Jakarta - Studio Bungie dikabarkan akan memboyong game sukses buatannya, Destiny, ke platform game Android dan iOS.

Walau masih belum dikonfirmasi, Bungie disebut-sebut akan bermitra dengan NetEase Games untuk pengembangan game mobile ini.

Hal ini terungkap lewat postingan LinkedIn salah satu artis di NetEase Games. Dia menulis, Bungie dan NetEase bekerja sama mengembangkan sebuah gim mobile first person shooter (FPS).

Dilansir The Game Post, Rabu (6/7/2022), sumber anonim yang mengetahui rencana pengembangan NetEase mengatakan kedua perusahaan memang sedang garap game mobile.

Banyak pihak menyebutkan, game mobile FPS buatan Bungie dan NetEase Games ini tidak terkait dengan Destiny 2.

"NetEase memiliki pengalaman luar biasa dalam pengembangan game mobile yang tidak kami miliki," kata CEO Bungie, Pete Parsons.

Laporan tentang game mobile Destiny sudah terdengar sejak September 2021 lewat lowongan pekerjaan, dan posting lain pada bulan April 2022 dimana studio mencari insinyur platform seluler.

Selain itu, Bungie juga secara aktif merekrut untuk memperluas Destiny ke dalam film dan acara TV. Awal tahun ini, Derick Tsai bergabung dengan studio sebagai Head of Destiny Universe Transmedia.

Sebelumnya, Tsai bekerja sebagai Direktur di Riot Games yang mengawasi proyek animasi League of Legends.

Pada Januari 2022, Sony mengumumkan kesepakatan akuisisi Bungie senilai USD 3,6 miliar. CFO Sony Hiroki Totoki memaparkan, bagaimana Bungie dapat memanfaatkan platform Sony untuk ekspansi ke film dan TV.

“Bungie ingin memelihara IP yang mereka miliki secara multi-dimensi, dan itulah harapan mereka,” kata Totoki. “Untuk itu, kami yakin kami dapat membantu – kami memiliki [Sony] Pictures dan [Sony] Music, dan Bungie dapat memanfaatkan platform kami sehingga IP mereka dapat berkembang dan tumbuh besar.”

Bungie telah mengonfirmasi, saga Light and Dark game Destiny 2 saat ini akan berakhir dengan ekspansi terakhir – The Final Shape, yang akan dirilis pada tahun 2024.

Namun, Bungie telah memastikan ini bukan berarti akhir dari Destiny 2 dan game tersebut akan berakhir dengan kisah baru.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Sony Beli Studio Game Bungie Seharga Rp 51,7 Triliun

Sony beli studio game Bungie seharga Rp 51,7 triliun. (Doc: Sony)

Sony baru saja mengumumkan telah secara resmi membeli studio game Bungie seharga USD 3,6 miliar atau sekitar Rp 51,7 triliun.

Adapun Bungie adalah studio game besar yang sukses merilis seri Destiny dan kreator asli gim first person shooter (FPS) ternama, yakni Halo.

"Bungie akan terus meluncurkan game secara mandiri dan mengembangkan gim kami secara kreatif," tulis CEO Bungie, Pete Parsons, sebagaimana dikutip The Verge, Selasa (1/2/2022).

Bos PlayStation, Hermen Hulst, mengatakan, "Saya sangat senang menyambut Bungie ke keluarga PlayStation!"

Dia menambahkan, "Bungie membuat game berbasis komunitas dengan teknologi luar biasa, dan saya tahu semua orang di PlayStation Studios akan senang dengan apa yang dapat kita bagikan dan pelajari bersama."

Walau sudah diakuisisi oleh Sony, Bungie akan tetap merilis gim di berbagai platform konsol atau PC di masa mendatang.

"Perusahaan memiliki opsi untuk merilis gim sendiri dan menjangkau pemain di platform game mana pun yang mereka pilih untuk bermain," dilansir GI.biz.


Microsoft Akuisisi Activision Blizzard

Papan Nama Microsoft di Sebuah Gedung. Kredit: Mohammad Rezaie via Unsplash

Microsoft baru saja mengumumkan telah secara resmi mengakuisisi studio gim kenamaan di dunia, yakni Activision Blizzard.

Adapun kesepakatan membeli penerbit gim Call of Duty, World of Warcraft, dan Diablo tersebut mencapai harga USD 68.7 miliar atau Rp 986 triliun.

Langkah Microsoft beli Activision Blizzard ini merupakan cara perusahaan bentukan Bill Gates itu bersaing dengan Sony dan Tencent di industri gim.

(Ysl/Tin)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya