Etika Menggunakan Media Sosial Agar Brand Makin Terkenal

Oleh Iskandar pada 29 Jun 2022, 18:00 WIB
Diperbarui 29 Jun 2022, 18:00 WIB
Indonesia Makin Cakap Digital
Perbesar
Indonesia Makin Cakap Digital. Dok: Kemkominfo

Liputan6.com, Jakarta - Dalam acara diskusi literasi digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dengan tema “Indonesia Makin Cakap Digital” di Kalimantan, Semuel Abrijani Pengerapan selaku Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo menyampaikan bahwa penggunaan internet di Indonesia semakin meningkat tajam.

“Masifnya penggunaan internet di Indonesia menimbulkan risiko penipuan daring, hoaks, perundungan siber, dan hal negatif lainnya. Oleh karena itu, peningkatan ini perlu diimbangi dengan literasi digital yang mumpuni agar masyarakat dapat memanfaatkan produk digital dengan produktif, bijak, dan tepat guna,” katanya.

Dalam kesempatan sama, Ketua Titik Fokus Karya sekaligus Dosen UIN Antasari Banjarmasin Muhammad Ridha, memberikan tips 'Do & Don’ts dalam Menciptakan Sebuah Brand'.

Ridha menjelaskan sejumlah alasan mengapa warganet harus menerapkan etika saat menggunakan internet dan media sosial.

Antara lain, karena adanya perbedaan budaya masing-masing pengguna, internet dapat menghubungkan banyak orang, serta terciptanya upaya jalinan kolaborasi antar pengguna.

Oleh karena itu, ketika seseorang memperkenalkan produk di internet, maka wajib untuk ditampilkan sesuai kenyataan.

“Kalau kita mengunggah brand di suatu akun itu berbeda-beda maka kita disebut tidak konsisten. Maka dari itu, kita harus tahu persona branding apa yang sebenarnya ingin ditampilkan,” kata Ridha, dikutip Rabu (29/6/2022).

Selanjutnya, Beta Centauri selaku Dosen Universitas Palangkaraya dan Freelance News TVRI Borneo Tengah menjelaskan, brand atau yang bisa disebut merek merupakan representasi dari sesuatu yang ingin ditampilkan ke orang lain dengan tujuan agar memberi kesan dan dapat terus diingat.

Branding terbagi dalam empat jenis, yakni produk branding, personal branding, corporate branding, serta geographical branding.

Nah, agar brand tersebut memberikan kesan, hal yang perlu dilakukan seperti sikap humanis, mempresentasikan hal besar, serta tidak mendiskreditkan pihak lain.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Cara Agar Brand Mudah Diingat

Beta juga berbagi trik agar brand yang dibangun bisa mudah diingat, semisal masuk dalam media yang tepat, punya ciri khas, serta selalu terupdate. “Seringlah update di sosial media,” imbuhnya.

Lalu Bambang Herlandi yang dikenal sebagai Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sekaligus Blogger dan Pegiat Desain Grafis, menuturkab digital branding menjadi penting karena akan mendatangkan banyak manfaat, salah satunya membangun identitas online.

"Sekarang untuk mencari tahu tentang seseorang kita tidak perlu lagi tanya tetangga, tapi bisa browsing (berselancar) di internet,” jelas dia.

Sedangkan manfaat digital branding di antaranya, seseorang akan mudah membangun interaksi dengan pelanggan maupun klien usahanya, dan dengan gampang memviralkan bisnis yang sedang dijalani.

Kecakapan digital dalam penggunaan internet dan media sosial perlu dimiliki agar dapat membangun brand yang akan mudah diingat orang lain.

 


Tips Jaga Lingkungan Media Sosial yang Positif dan Antihoaks

Ilustrasi Facebook - Media sosial
Perbesar
Ilustrasi Facebook - Media sosial (Foto: Unsplash.com/William Iven)

Media sosial menjadi bagian erat dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial menjadi sarana mengungkapkan ekspresi kreatif dan berbagi informasi.

Sayangnya, penyebaran informasi yang akurat kerapkali tidak berjalan dengan lancar karena banyaknya misinformasi di media sosial.

 

Kemkominfo pada 2021 menyebut, ada 1.773 isu hoaks yang ditemui di berbagai platform media sosial Indonesia sepanjang 2021. Untuk itu, literasi digital masih perlu ditingkatkan.

Helo dan Mafindo sejak 2021 berkolaborasi meningkatkan literasi digital, termasuk mengedukasi agar warga digital lebih bijak bermedia sosial.

Berikut adalah tips dari Helo dan Mafindo agar masyarakat Indonesia bisa lebih bijak dalam bermedia sosial:

1. Ikuti akun kredibel untuk cek fakta

Banyaknya informasi yang beredar di media sosial yang dibagikan secara real time kadang membuat pengguna bingung apakah informasi itu adalah fakta dan bisa dibagikan ke pengguna lain.

Untuk itu, pengguna didorong untuk berhati-hati menyebarkan informasi, khususnya jika informasi tersebut tidak berasal dari sumber yang kredibel dan akurat.

Untuk itulah, Mafindo membagikan tips dalam menghadapi berita yang kebenarannya masih perlu dipastikan.

Cofounder dan Fact-Checking Specialist Mafindo Aribowo Sasmito mengatakan, menghindari dan menghadapi beredarnya hoaks bisa dilakukan dengan cara sederhana.

"Dimulai dari membaca berita secara menyeluruh, mencari sumber berita, dan menahan diri untuk menyebarkan berita yang meragukan serta menelaah manfaat penyebaran informasi tersebut ke orang lain," kata Aribowo.

Cara lainnya dengan memastikan bahwa akun yang kita follower untuk mendapatkan informasi adalah akun yang kredibel atau resmi. Misalnya akun media massa yang sudah mendapatkan centang biru di platform media sosial.

Bisa juga dari akun-akun resmi dari pemerintah dan organisasi. Di mana, akun-akun ini akan berguna saat kita hendak melakukan cek fakta atau verifikasi kebenaran informasi yang beredar, sebelum dibagikan ke orang lain.


Tips Lainnya

2. Ikuti diskusi yang sesuai dengan minat dan keahlian

Untuk memperkaya pengetahuan, pengguna bisa mengikuti diskusi bersama orang-orang dengan minat yang sama.

Dengan mendapatkan pandangan dari berbagai sisi, membatu kita melihat suatu topik dari sudut pandang yang lebih luas dan menimbulkan lebih banyak ketertarikan terhadap topik tertentu.

Hal ini bisa dilakukan dengan melihat topik yang sedang trending. Topik trending memungkinkan pengguna media sosial mengetahui topik hangat apa yang sedang dibicarakan dan ikut membahasnya.

Nah, diskusi bersama orang lain juga membuat pengguna bisa memastikan informasi atau pendapat yang dibagikan tetap positif dan dipahami.

3. Ikut menambahkan informasi yang akurat dan berbagi konten positif

Untuk menekan angka misinformasi, pengguna bisa membagikan konten yang dianggap bermanfaat, misalnya informasi tentang kemacetan atau kondisi jalanan. Bisa juga informasi tentang suatu peristiwa khusus yang terjadi di sekitar kita.

Namun, sebelum membagikan apa pun di media sosial, pastikan dulu akurasi informasi sebelum menekan tombol posting.


Infografis Mekanisme Virtual Police Awasi Pengguna Media Sosial. (Liputan6.com/Trieyasni)

Infografis Mekanisme Virtual Police Awasi Pengguna Media Sosial. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Mekanisme Virtual Police Awasi Pengguna Media Sosial. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya