Rusia Denda Google Rp 18 Miliar karena Dinilai Sebarkan Hoaks tentang Perang

Oleh Yuslianson pada 27 Jun 2022, 09:32 WIB
Diperbarui 27 Jun 2022, 10:03 WIB
Logo Google
Perbesar
Kantor pusat Google. Foto: Digital Trends

Liputan6.com, Jakarta - Pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor, dikabarkan telah mendenda Google senilai 68 juta rubel (sekitar Rp 18 miliar).

Pihak Rusia menuding, Google telah membantu menyebarkan informasi "tidak dapat diandalkan" tentang perang di Ukraina.

Tak hanya itu, Rusia juga beranggapan raksasa mesin pencari itu telah gagal menghapus informasi tidak dapat diandalkan atau hoaks dari platform-nya.

Roskomnadzor mengatakan, YouTube juga berkontribusi menyebarkan informasi tidak akurat tentang perang di Ukraina, sehingga memfitnah tentara Rusia.

Disebutkan, saat ini YouTube menampung lebih dari 7.000 materi mempromosikan yang dianggap ilegal oleh pengawas telekomunikasi.

Adapun materi tersebut, termasuk mempromosikan pandangan ekstremis, ketidakpedulian terhadap kehidupan dan kesehatan anak di bawah umur, dan seruan untuk protes.

"Google LLC telah berulang kali dibawa ke tanggung jawab administratif atas pelanggaran undang-undang Rusia," kata Roskomnadzor yang dikutip dari Bleeping Computer, Senin (26/6/2022).

"Adapun Google telah gagal menghapus informasi yang dilarang. Untuk ini, Google didenda total Rp 18 miliar," sambungnya.

Google pun berisiko kena denda berbasis pendapatan setinggi 10 persen dari omset tahunan Rusia.

Hal ini dikarenakan, perusahaan dianggap berulang kali gagal membatasi akses ke materi yang berisi informasi yang dilarang di Rusia.

Google cabang Rusia dilaporkan telah mengajukan pailit pada otoritas setempat. Informasi ini diketahui dari laporan Interfax berdasarkan pengajuan yang dilakukan perusahaan pada pengadilan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 


Alasan Google Pailit di Rusia

Suasana kantor pusat Google di Googleplex, Mountain View, Palo Alto, California. Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza

Dikutup dari Reuters, Senin (20/6/2022), rencana pengajuan pailit ini memang sudah diketahui sejak Mei 2022. Alasannya, otoritas Rusia telah membekukan rekening bank cabang Google di negara tersebut.

"Penyitaan pihak berwenang Rusia atas rekening bank Google Rusia telah membuat kantor kami di negara tersebut tidak dapat berfungsi...Oleh karena itu, Google Rusia telah mengajukan kebangkrutan," kata juru bicara perusahaan.

Kendati demikian, Google menyatakan masih akan berupaya untuk menyediakan layanan gratis seperti Google Search, YouTube, Gmail, Maps, termasuk Android dan Play Store. Sebab, banyak pengguna di Rusia yang masih mengandalkan layanan mereka.

Untuk diketahui, dengan penyitaan rekening bank Google yang ada di Rusia membuat perusahaan tidak bisa membayar pemasok dan vendor, termasuk memenuhi kewajiban keuangan lainnya.

Google sendiri memang tengah kesulitan bertahan di Rusia sejak invasi negara tersebut ke Ukraina. Pada Maret 2022, Google telah menangguhkan penjualan iklan di Rusia.

Lalu, YouTube milik Google juga bergerak melarang iklan di kanal yang dimiliki oleh media terafiliasi pemerintah Rusia. Google pun memblokir kanal-kanal tersebut.

 


Perusahaan Teknologi Pertama yang Ajukan Bankrut di Rusia

Booth Google bertema Google Assistant (Foto: Twitter/ @google)

 

Selain itu, pada Desember 2021, Rusia juga menerapkan sanksi denda sebesar USD 98 juta pada Google atau setara dengan 8 persen pendapatan perusahaan di negara itu. Denda itu diberikan karena Google tidak bisa menghapus konten yang dianggap ilegal oleh Rusia.

Meski Rusia tidak melarang layanan Google di negaranya, Rusia telah melarang Facebook dan Instagram yang dimiliki Meta. Google mengatakan, layanan gratisnya akan tetap tersedia di negara tersebut. 

"Orang-orang di Rusia mengandalkan layanan kami untuk mengakses informasi berkualitas dan kami akan terus menyediakan layanan gratis seperti Google Search, YouTube, Gmail, Maps, Android, dan Google Play Store," kata juru bicara Google.

Sejauh ini, Google menjadi perusahaan teknologi besar pertama yang mengajukan kepailitan di Rusia akibat perang di Ukraina.

Perusahaan lain seperti Apple, Meta, dan Microsoft semuanya menangguhkan operasi di Rusia. Namun belum ada cabang-cabangnya di Rusia yang menyatakan kebankrutan.


Layanan YouTube Terancam Diblokir di Rusia

Ilustrasi cara mendownload video, Youtube. (Photo by Christian Wiediger on Unsplash)

Di samping itu, Google mendapatkan kritik karena turut memainkan peran penting dalam menyebarkan ancaman terhadap Rusia di platform YouTube.

Pada Jumat, 18 Maret 2022, Rusia mendesak Google untuk berhenti mempromosikan apa yang dianggap pemerintah Rusia sebagai ancaman terhadap rakyat negara tersebut, di YouTube.

Tampaknya jika permintaan tersebut tidak dipenuhi Google, bisa saja Rusia memblokir layanan YouTube di wilayah Rusia.

Mengutip Gizchina, Minggu (20/3/2022), menurut regulator internet Rusia, Roskomanadzor, iklan di YouTube mempromosikan penangguhan terhadap sistem komunikasi Rusia.

Terlepas dari itu, regulator juga menuding YouTube mempromosikan penghentian jaringan kereta api di Belarusia. Selanjutnya, regulator juga mengklaim tindakan YouTube mewakili posisi Google yang anti-Rusia. Kendati begitu, regulator tidak membagikan informasi tentang akun yang berbagi iklan ini.

Untuk diketahui, YouTube sebelumnya memblokir video propaganda Rusia secara global pada awal bulan Maret ini. Terlepas dari itu, Rusia memblokir Instagram belum lama ini.

(Ysl/Isk)


Infografis Perang Dunia Ketiga

Infografis Perang Dunia Ketiga
Perbesar
Apakah perang dunia ketiga akan terjadi? (trie yas/liputan6.com)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya