Marak Serangan Siber, Ini 7 Cara Aman dalam Transaksi Digital

Oleh Iskandar pada 30 Nov 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 30 Nov 2021, 07:00 WIB
BI Luncurkan QR Code Indonesia
Perbesar
Karyawan BI melakukan transaksi menggunakan QR Code Indonesian Standard (QRIS) di kantor BI, Jakarta, Sabtu (17/8/2019). QRIS merupakan transformasi digital pada Sistem Pembayaran Indonesia sangat membantu percepatan pengembangan ekonomi dan keuangan digital di Indonesia. (Liputan6.com/HO/Rizal)

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan ini sejumlah layanan digital banking berlomba-lomba menawarkan kemudahan dan kenyamanan dalam bertransaksi. 

Jika sebelumnya kebutuhan transaksi digital hanya mengandalkan mesin EDC (Electronic Data Capture) dan ATM transfer, sekarang banyak fitur-fitur baru seperti scan QRIS, QR Code, mobile transfer, dan lainnya yang diklaim lebih aman.

Meski demikian, masyarakat harus tetap waspada akan bahaya transaksi digital yang kian marak, karena setiap kemajuan teknologi akan selalu dibarengi dengan serangan siber yang kian meningkat.

Presiden Direktur PT ITSEC Asia, Andri Hutama Putra, mengatakan seiring dengan kemajuan tersebut awareness kita terhadap ancaman digital juga harus semakin ditingkatkan.

"Sayangnya masih banyak masyarakat yang belum memahami akan bahaya serangan digital, terutama di kehidupan finansialnya," ujar Andri melalui keterangannya, Selasa (30/11/2021).

Kita bahkan tidak tahu kapan akan menjadi target serangan siber. Maka dari itu, ia menyarankan akan lebih baik jika kita mempersiapkan diri bila kelak menghadapi serangan siber dari pihak luar demi menjaga keamanan finansial digital.

Sehubungan dengan hal tersebut, ITSEC Asia memberikan tujuh tips untuk menjaga keamanan dalam bertransaksi digital.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

1. Jaga kerahasiaan data

Data-data rahasia yang tidak boleh dibagikan seperti pin/password, kode OTP, authentication code, dan lainnya merupakan pintu masuk ke dalam informasi rahasia yang kita miliki.

Jangan mengetik password atau kode rahasia dalam bentuk lainnya di muka umum. Pastikan tidak ada orang lain yang mengamati pada saat kita melakukan hal tersebut.

2. Gunakan alamat email khusus dan hati-hati membuka pesan masuk

Akan lebih baik dan aman jika kita memiliki email yang dikhususkan untuk keperluan-keperluan tertentu. Sebagai contoh jika untuk kebutuhan transaksi e-commerce, baiknya email yang digunakan berbeda dengan email data pribadi bank dan kantor, sehingga lebih mudah mengidentifikasi jika ada email yang mencurigakan.

Jangan sembarangan membuka tautan yang mencurigakan dalam pesan email, ini untuk menghindari serangan phishing yang meretas informasi seperti data login.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

3. Aktifkan TFA dan notifikasi transaksi

Aktifkan opsi Two Factor Authentication (TFA) untuk memberi pengamanan ganda terhadap transaksi digital.

TFA dapat memberi lapisan ekstra pengamanan terhadap transaksi digital, melalui pengiriman kode verifikasi atau kode OTP (one time password) ke nomor telepon sebelum transaksi terjadi.

Selain itu juga aktifkan notifikasi transaksi, dan segera telepon pihak bank jika ada transaksi yang tidak dikenal.

4. Selalu menjawab kepada pihak yang resmi

Merespons nomor yang tidak dikenal bisa jadi awal mula kita terkena serangan siber. Banyak masyarakat yang masih mudah tertipu akan penawaran ataupun modus-modus lainnya yang didapat baik dari SMS, email, atau pun percakapan langsung melalui telepon.

Masyarakat harus lebih kritis dalam menilai apakah informasi yang didapat tersebut sumbernya dari lembaga/pihak yang resmi atau tidak. Jangan mudah menjawab atau memberikan informasi kepada pihak yang tidak dikenal/bukan dari lembaga resmi.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

5. Triple check siapa rekan transaksi kita

Sebelum membeli atau mentransfer sesuatu, usahakan agar kita sudah merasa yakin. Seperti contoh, penipuan yang memanfaatkan akun korban yang di-hacked. Banyak kasus dimana si penipu meminta transfer kepada kerabat/teman baiknya.

Jika kita mengalami hal tersebut, cek kembali ke orang-orang di sekitarnya apakah benar teman/rekan kita yang meminta transfer atau orang lain. Begitu halnya dengan transaksi di e-commerce, usahakan membeli dari e-commerce yang terpercaya dan juga cek review terlebih dahulu sebelum membeli barang.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

6. Selalu ganti password atau PIN secara berkala

Untuk mencegah kode akses kita mudah diketahui oleh orang lain, usahakan kita mengganti kode akses kita dalam jangka waktu tertentu. Hal ini guna mencegah agar pihak lain bisa mengakses informasi yang kita miliki.

Buat kode akses yang terdiri dari kombinasi huruf capital, angka, dan simbol agar kode akses kita tidak mudah ditebak.

7. Jika menggunakan kartu kredit, gunakan limit yang rendah

Kartu kredit merupakan salah satu layanan perbankan yang rawan untuk disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Untuk meminimalisir resiko yang mungkin kita dapat, gunakan kartu kredit dengan limit rendah agar jika kemungkinan terburuknya kita terkena serangan siber, kerugian yang kita dapat tidak terlalu besar.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Kejahatan Siber

Beragam Model Kejahatan Siber
Perbesar
Infografis Kejahatan Siber (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya