Facebook Prediksi Konsumen Digital Indonesia Sentuh 165 Juta di Akhir 2021

Oleh Agustinus Mario Damar pada 17 Sep 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 17 Sep 2021, 15:00 WIB
Ilustrasi Belanja Online
Perbesar
Ilustrasi Belanja Online (Foto: Pixabay.com)

Liputan6.com, Jakarta - Berdasarkan riset terbaru, Facebook memprediksi pertumbuhan konsumen digital di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia akan meningkat tahun di 2021. Hal itu terungkap dalam laporan tahunan Facebook dan Bain & Company yang bertajuk SYNC Southeast.

Dalam studi yang mendalami tentang tren ekonomi digital dan masa depan e-commerce di Asia Tenggara, Bain & Company memperkirakan pertumbuhan konsumen digital di wilayah ini akan mencapai 350 juta pada akhir 2021.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sekitar 310 juta pada akhir 2020. Pertumbuhan ini disebut menggambarkan, 80 persen konsumen di Asia Tenggara akan beralih ke digital pada akhir 2021.

Sementara untuk di Indonesia, studi ini memperkirakan ada 165 juta konsumen digital pada akhir 2021. Sebagai perbandingan, konsumen digital di Indonesia pada akhir 2020 ada sekitar 144 juta.

Selain itu, konsumen di Indonesia tidak hanya berbelanja secara daring, tapi banyak yang menggunakan platform online sebagai sarana melakukan pembelian. Studi menyebut 48 persen responden melakukan hal tersebut.

Selain itu, ada 56 persen responden mengatakan tidak tahu apa yang mereka beli ketika sedang online. Ada pula 44 persen responden mengatakan mereka mencoba toko online baru yang belum diketahui sebelumnya pada tahun ini.

Dalam studi ini, para responden juga mengaku membeli barang secara online di banyak kategori. Studi menemukan responden saat ini membeli barang secara online dengan rata-rata 8,8 kategori, 70 persen lebih tinggi dari rata-rata 5,1 pada 2020.

"Melihat perjalanan belanja online konsumen Indonesia dan gaya hidup digital yang semakin berkembang, sangatlah penting bagi kita untuk mengatur kembali strategi untuk berinteraksi dengan konsumen," tutur Country Director untuk Facebook di Indonesia, Pieter Lydian, dalam keterangan resmi, Jumat (17/9/2021).

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Potensi Besar

Ilustrasi belanja online, ecommerce, e-commerce, toko online
Perbesar
Ilustrasi belanja online, ecommerce, e-commerce, toko online. Kredit: athree23 via Pixabay

Studi ini juga menunjukkan potensi besar untuk membangun loyalitas dan pertumbuhan merek, karena pasar e-commerce masih terpecah. Pada 2021, konsumen yang cakap melihat-lihat di 8,2 situs web berbeda sebelum membuat keputusan pembelian.

Angka ini meningkat drastis jika dibandingkan pada 2020 yakni sekitar 5,1 situs web. Di samping itu, konsumen kini juga lebih sadar lingkungan.

Hal itu ditunjukkan dengan 93 persen responden mengaku bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan dan bertanggung jawab secara sosial. Ada pula 82 persen responden bersedia membayar lebih hingga 10 persen untuk produk tersebut.

Gaya hidup home-centric juga sudah semakin mengakar di Indonesia. Karenanya, studi ini memprediksi sekitar 85 persen waktu yang dihabiskan untuk makan di rumah dari jasa antar makanan diperkirakan masih akan tetap ada pasca-pandemi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pentingnya Fase Pencarian

Adapun untuk fase pencarian produk kini menjadi penting, karena 83 persen sarana pembelian untuk menemukan barang yang harus dibeli diakses secara online. Sementara hanya 17 persen yang masih memanfaatkan sarana offline.

Tidak hanya itu, saluran digital kini memperoleh porsi 56 persen dari keseluruhan transaksi, dengan 44 persen sisanya lewat sarana offline. Media sosial disebut menjadi saluran teratas untuk fase pencarian, terutama video di media sosial.

"Temuan ini menunjukkan fakta bahwa sekarang adalah saat yang tepat bagi merek untuk berani maupun kreatif dalam bereksperimen dengan cara-cara baru untuk bertemu dan ditemukan oleh konsumen digital," tutur Pieter melanjutkan.

Laporan ini juga menemukan lebih dari 80 persen dana perusahaan modal ventura mengalir ke sektor internet dan teknologi, terutama Fintech, EdTech, serta HealthTech. Karenanya, laporan ini menujukkan disrupsi mungkin lebih terlihat pada sektor kesehatan dan pendidikan.

(Dam/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya