NASA Prediksi "Goyangan" Bulan Bikin Banyak Tempat di Bumi Alami Banjir Parah Pada 2030

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 19 Jul 2021, 06:29 WIB
Diperbarui 19 Jul 2021, 06:29 WIB
Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi banjir. (dok. pixabay/@hermann)

Liputan6.com, Jakarta - Berbagai tempat di dunia diprediksi mengalami banjir parah akibat kenaikan air laut. NASA memprediksi hal ini karena adanya "goyangan" pada orbit bulan bersamaan dengan naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim.

Studi baru dari NASA dan University of Hawaii yang baru diterbitkan pada jurnal Nature Climate Change ini sekaligus memperingatkan, perubahan yang datang di orbit bulan bisa menyebabkan rekor banjir di Bumi, dalam dekade berikutnya.

Melalui pemetaan skenario kenaikan permukaan air laut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), ambang banjir dan siklus astronomi, para peneliti memprediksi banjir di kota-kota pesisir Amerika bisa beberapa lebih buruk pada 2030-an, yakni ketika "goyangan" bulan berikutnya dimulai.

Para ilmuwan juga memperkirakan, banjir akan secara signifikan merusak infrastruktur dan menggusur masyarakat.

Penelitian ini menyoroti situasi mengerikan yang mungkin akan dihadapi kota-kota pesisir. Namun, "goyangan" bulan merupakan kejadian yang alami. Kejadian ini pertama dilaporkan pada 1728.

Orbit bulan diketahui bertanggung jawab atas periode pasang surut yang lebih tinggi dan lebih rendah, namun tidak membahayakan.

"Dalam setengah dari siklus 18,6 tahun Bulan, pasang surut harian reguler Bumi ditekan: pasang naik lebih rendah dari biasanya dan pasang surut lebih tinggi dari biasanya," kata NASA, dikutip dari CBS News, Senin (19/7/2021).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Banjir Makin Parah di 2030-an

Kondisi Jerman Usai Dilanda Banjir Parah
Perbesar
Sebuah kereta api regional terendam banjir setelah dibanjiri oleh tingginya air sungai Kyll di Kordel, Jerman, Kamis (15/7/2021). Sekitar 6.000 orang di munisipalitas Heimerzheim harus dievakuasi, sementara rumah dan harta benda mereka diterjang banjir. (Sebastian Schmitt/dpa via AP)

NASA menjelaskan, di paruh siklus lainnya, pasang surut diperkuat: pasang naik lebih tinggi dan pasang surut turun. Nah, kenaikan permukaan laut global mendorong pasang naik hanya ke satu arah atau lebih tinggi.

"Jadi setengah dari siklusi bulan 18,6 tahun melawan efek kenaikan permukaan air laut pada pasang dan separuh lainnya meningkatkan efeknya," kata pihak NASA.

Namun untuk kali ini, ilmuwan menyatakan kepeduliannya. Pasalnya, dengan kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim, banjir bandang berikutnya diperkirakan lebih intens dan lebih sering dibanding sebelumnya. Dampaknya pun lebih buruk dibandingkan prediksi yang sudah ada.

NOAA melaporkan lebih dari 600 kejadian banjir di tahun 2019. Para ilmuwan memperkirakan banjir akan mencapai tiga sampai empat kali dari jumlah di atas pada pertengahan 2030-an, setelah permukaan air laut naik.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

100 Juta Orang Bakal Terdampak

Banjir ROB
Perbesar
Banjir rob adalah banjir di tepi pantai karena permukaan air laut yang lebih tinggi daripada bibir pantai atau daratan di pesisir pantai.

Menurut penelitian, banjir ini akan melebihi ambang batas banjir di kota-kota yang memang sering terdampak bajir. Bahkan kondisi ini bisa berlangsung tiap hari, tergantung dari posisi bulan, Bumi, dan matahari.

"Daerah dataran rendah di dekat laut kian berisiko dan menderita karena meningkatnya banjir. Hal ini diprediksi makin bertambah buruk," kata Administrator NASA Bill Nelson.

Ia mengatakan, kombinasi tarikan gravitasi bulan, naiknya permukaan laut, dan perubahan iklim akan memperburuk kondisi banjir pesisir di garis pantai di seluruh dunia.

Dampak ini bakal dialami oleh hampir semua garis pantai AS, Hawaii, dan Guam. Kenaikan permukaan laut diperkirakan membuat ratusan ribu mil garis pantai tak bisa dihuni. 100 juta orang di seluruh dunia diprediksi akan tergusur akibat banjir.

Para ilmuwan berharap, temuan dan prediksi mereka bisa menginisiasi lebih banyak upaya pencegahan.

(Tin/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya