Facebook Bantah Joe Biden Soal Platform Digital "Bunuh Orang" dengan Disinformasi Covid-19

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 18 Jul 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 18 Jul 2021, 12:00 WIB
Facebook
Perbesar
Ilustrasi Facebook (Foto: New Mobility)

Liputan6.com, Jakarta - Facebook memberikan bantahan atas komentar Presiden AS Joe Biden yang menyebut platform media sosial "membunuh orang" dengan disinformasi Covid-19.

Dalam unggahan blog perusahaan, Vice President of Integrity Facebook, Guy Rosen, menyebutkan fakta yang ada menceritakan kisah yang berbeda dengan yang diungkap pemerintah beberapa waktu terakhir.

"Pada saat kasus Covid-19 meningkat di Amerika, Pemerintahan Biden memilih untuk menyalahkan segelintir perusahaan media sosial Amerika," tulis Rosen dalam unggahan blog, dikutip Tekno Liputan6.com dari The Verge, Minggu (18/7/2021).

Lebih lanjut dia juga mengatakan, media sosial memainkan peran penting dalam masyarakat. "Jelas kita membutuhkan pendekatan seluruh masyarakat untuk mengakhiri pandemi ini. Dan fakta --bukan tudingan-- harus membantu menginformasikan upaya itu," kata Rosen.

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden menyebut, platform digital membunuh orang dengan disinformasi yang beredar mengenai vaksin Covid-19.

Gedung Putih menyoroti  ada sebagian populasi yang tidak mau mengikuti vaksinasi karena terpapar disinformasi yang beredar di platform medsos, termasuk Facebook.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bukan Salah Facebook

Facebook.  Joshua Hoehne/Unsplash
Perbesar
Facebook. Joshua Hoehne/Unsplash

Masih menurut unggahan blog, Rosen menyebut, Facebook bekerja sama dengan Carnegie University di Pittsburgh dan University of Maryland dalam mensurvei mengenai gejala Covid-19, pengujian, dan tingkat vaksinasi.

Menurut Rosen, hasilnya 85 persen pengguna Facebook di AS telah atau ingin mendapatkan vaksinasi Covid-19.

"Target Presiden Biden adalah agar 70 persen orang Amerika divaksinasi setidaknya hingga 4 Juli. Facebook bukanlah alasan target ini tidak tercapai," kata Rosen.

Sebelumnya, juru bicara Facebook mengatakan, tudingan Biden tidak didukung dengan fakta. Padahal, sejumlah politikus Partai Republik juga mengekspresikan perhatiannya mengenai upaya Gedung Putih untuk vaksinasi.

Anggota Kongres Ken Buck mengatakan, Gedung Putih berkolusi dengan Facebook untuk menyensor orang Amerika.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Komentar Presiden AS Joe Biden

FOTO: Joe Biden Sampaikan Capaian 100 Hari Kepemimpinannya di Kongres AS
Perbesar
Presiden Joe Biden berpidato didampingi Wakil Presiden Kamala Harris dan Ketua DPR Nancy Pelosi di Kongres, US Capitol, Washington, Amerika Serikat, Rabu (28/4/2021). Pidato pertama Joe Biden di depan Kongres kali ini khusus hanya untuk undangan. (Melina Mara/The Washington Post via AP, Pool)

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden terang-terangan mengkritik Facebook dan platform digital lainnya karena mengizinkan beredarnya disinformasi. Biden menyebut, disinformasi menyebabkan peningkatan jumlah kematian selama pandemi.

"Mereka (platform digital) membunuh orang. Satu-satunya pandemi yang kita miliki adalah di antara yang tidak divaksinasi, dan mereka membunuh orang," kata Biden ketika ditanya media tentang platform seperti Facebook.

Mengutip The Verge, Sabtu (17/7/2021), pernyataan orang nomor satu di Amerika Serikat ini diucapkan setelah kampanye terkoordinasi dari Gedung Putih menekan Facebook dan platform digital lain untuk bertindak lebih agresif dalam melawan disinformasi mengenai vaksin Covid-19.

Tak hanya itu, sebuah laporan dari seorang ahli bedah umum meminta platform digital untuk menerapkan hukuman yang keras kepada akun yang membagikan informasi salah.

Ahli Bedah Umum bernama Vivek Murthy itu secara khusus menyebut mesin rekomendasi algoritmik seperti News Feed Facebook turut berkontribusi atas adanya disinformasi.

Murthy menambahkan, algoritme platform seperti Facebook cenderung memberi pengguna lebih banyak dari yang diklik. "Algoritme menarik kita lebih dalam dan lebih dalam lagi ke dalam sumur disinformasi," katanya.

(Tin/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya