Gojek Sebar Voucher Diskon untuk 50.000 Nakes

Oleh Iskandar pada 16 Jul 2021, 19:28 WIB
Diperbarui 16 Jul 2021, 19:28 WIB
Dok: Gojek
Perbesar
Dok: Gojek

Liputan6.com, Jakarta - Gojek kembali mendistribusikan paket voucher diskon #SEMANGATNAKES bagi 50.000 tenaga kesehatan (nakes) di DKI Jakarta, dan akan diperluas ke Bandung, Jogjakarta, Semarang dan Surabaya sebagai kota-kota dengan tingkat paparan COVID-19 harian tertinggi.

Paket voucher diskon ini dapat digunakan para nakes untuk memesan ragam layanan Gojek, seperti layanan transportasi (GoRide dan GoCar), layanan pesan-antar makanan (GoFood), layanan pengiriman barang (GoSend), serta layanan belanja kebutuhan sehari-hari (GoMart).

CEO Gojek, Kevin Aluwi, mengatakan semangat gotong royong yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan salah satu kunci keberhasilan untuk sama-sama memerangi pandemi COVID-19.

“Voucher ini tidak sebanding dengan dedikasi para nakes, namun kami berharap dapat memberi semangat melalui layanan yang kami miliki. Kalian tidak sendirian, Gojek siap menemani,” kata Kevin melalui keterangannya, Jumat (16/7/2021).

Adapun inisiatif ini merupakan kelanjutan dari dukungan Gojek kepada nakes pada 2020 dalam bentuk pendistribusian 500.000 makanan dari mitra usaha GoFood dan 65.000 voucher perjalanan GoRide dan GoCar untuk para nakes di 131 rumah sakit rujukan COVID-19 se-Indonesia.

“Inisiatif ini juga sejalan dengan misi Gojek untuk terus memudahkan keseharian masyarakat Indonesia, termasuk para nakes sebagai garda terdepan dan terpenting di saat pandemi ini,” tambah Kevin.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Cara Menggunakan Paket Voucher

FOTO: Pesan Nakes dalam Peringatan 1 Tahun RSDC Wisma Atlet
Perbesar
Sejumlah tenaga kesehatan menuliskan ucapan setahun RSDC Wisma Atlet saat acara bermain angklung di RSDC Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (23/3/2021). Acara tersebut dilakukan dalam rangka satu tahun beroperasinya RSDC Wisma Atlet Kemayoran. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengapresiasi inisiatif #SEMANGATNAKES dari Gojek. Kolaborasi dari pihak swasta seperti Gojek, kata Budi, akan sangat membantu meringankan beban sehari-hari nakes sebagai garda terdepan kesehatan di Indonesia, yang telah berdedikasi dalam penanganan COVID-19 sejak tahun lalu.

“Kami berharap semakin banyak pihak yang terinspirasi dari komitmen Gojek yang selalu berkelanjutan dalam meringankan beban pandemi COVID-19,” ucap Budi.

Bagi para nakes yang ingin menggunakan paket voucher #SEMANGATNAKES, dapat mengunjungi panduan di blog Gojek http://www.go-jek.com/blog/gojek/voucher-semangatnakes/.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bos Gojek Kenang Masa Perusahaan Hampir Bangkrut karena Kehabisan Duit

Co-CEO Gojek Indonesia Andre Soelistyo (kiri) dan Kevin Aluwi (kanan)
Perbesar
Co-CEO Gojek Indonesia Andre Soelistyo (kiri) dan Kevin Aluwi (kanan) menyampaikan strategi Gojek di masa depan di Jakarta, Sabtu (2/11/2019). (Liputan6.com/ Agustin Setyo W)

Gojek kini jadi startup paling besar di Indonesia. Startup yang menyandang gelar decacorn ini bahkan telah melebarkan sayap ke sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Namun perjalanan Gojek tak selalu mulus. Raksasa startup kebanggaan Indonesia itu juga mengalami berbagai hambatan hingga berhasil seperti sekarang.

Co-Founder sekaligus CEO Gojek Kevin Aluwi mengenang masa sulit Gojek di acara Talk Show program akselerasi startup untuk Indonesia Timur, "Muda Maju Bersama 1.000 Startup" yang digelar secara daring, Jumat (16/7/2021).

"Di balik semua cerita kesuksesan startup menjadi seperti sekarang, itu banyak pahitnya, banyak gagalnya, banyak masa sulitnya. Saat kami baru mulai, cari investor susah, liputan media tidak banyak. Gojek tidak dilihat sebagai sesuatu yang menarik," katanya.

Kevin mengatakan, ada banyak sekali momen yang tidak mudah ketika membangun Gojek. Salah satu yang paling dikenang adalah kesulitan Gojek antara tahun 2015 dan 2016. Kevin menyebut, di balik perkembangan Gojek yang begitu pesat, Gojek pernah hampir bangkrut.

"Di 2015 dan 2016, itu masa kami beberapa kali hampir bangkrut. Kami hampir kehabisan duit dan buat saya pribadi, itu masa yang sulit karena tentu kami tidak mau perusahaan gagal," katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tanggung Jawab ke Karyawan

Direktur Bisnis Digital Telkom M. Fajrin Rasyid (kiri) dan Co-Founder Sekaligus CEO Gojek Kevin Aluwi
Perbesar
Direktur Bisnis Digital Telkom M. Fajrin Rasyid (kiri) dan Co-Founder Sekaligus CEO Gojek Kevin Aluwi dalam talk show program Muda Maju Bersama 1.000 Startup untuk wilayah Indonesia Timur yang dibesut Gojek dan ITDRI Telkom. (Foto: Screenshot acara).

Salah satu yang jadi beban buat Kevin, karena Gojek merasa bertanggung jawab atas nasib karyawan. Kevin mengenang, saat itu jumlah karyawan Gojek sudah mencapai ratusan orang.

"Saya merasakan tanggung jawab luar biasa terhadap karyawan, pada saat itu sudah ada beberapa ratus karyawan. Akan ada kemungkinan kami akan gagal memenuhi harapan mereka," ujar Kevin.

Kevin mengakui saat itu menjadi suatu tantangan dan beban paling berat. Namun ke depan, usaha-usaha Gojek ternyata membuahkan hasil, termasuk menemukan investor-investor yang dapat mendanai perjalanan perusahaan.

"Meskipun Gojek kelihatan naik daun, anak-anak muda di sini yang ingin membuat startup jangan kaget. Ada banyak pengalaman berharga dalam membangun startup, bukan hanya suka, tetapi juga dukanya," kata Kevin.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bicara Soal Inovasi

Co-CEO Gojek Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo (foto: Gojek).
Perbesar
Co-CEO Gojek Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo. Dok: Gojek

Dalam kesempatan yang sama, Kevin juga mengungkapkan pikirannya mengenai arti inovasi kepada para peserta Talk Show program "Muda Maju Bersama 1.000 Startup".

Menurutnya, inovasi merupakan upaya mencari cara-cara baru dan menggunakan sumber yang sudah ada untuk memecahkan berbagai masalah yang dialami oleh masyarakat. Sebagai perusahaan teknologi, Gojek mencoba memecahkan persoalan itu menggunakan produk-produk berbasis teknologi.

"Inovasi yang dilahirkan beberapa tahun lalu, menggunakan smartphone yang diberikan ke ojek pangkalan. Karena kami melihat masalah Jakarta macet saat itu. Solusi kami adalah bagaimana bisa menggunakan fasilitas yang ada, yakni ojek pangkalan untuk memecahkan masalah kemacetan," kata Kevin.

Upaya tersebut diwujudkan dengan cara menghubungkan konsumen dengan ojek, guna memotong kemacetan dan menghubungkan keperluan konsumen. Misalnya untuk membeli makanan atau mengirimkan paket.

Dari pemikiran tersebut, lahirlah solusi dari Gojek yang tak hanya bisa membantu konsumen memangkas waktu kemacetan tetapi juga membantu ojek untuk mendapatkan pendapatan. 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya