Facebook Setop Danai Riset Tentang Penerjemah Aktivitas Otak

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 16 Jul 2021, 06:30 WIB
Diperbarui 16 Jul 2021, 06:30 WIB
Ilustrasi Facebook
Perbesar
Lagi-lagi Mark Zuckerberg merogoh koceknya sendiri untuk donasi ke restoran favoritnya (Foto: unsplash.com/Alex Haney

Liputan6.com, Jakarta - Facebook menghentikan pendanaan riset yang bertujuan untuk membiarkan orang mengetik hanya dengan bantuan pikiran. Riset ini diakhiri dengan temuan baru.

Riset bernama Project Steno ini merupakan kolaborasi multi-tahun antara Facebook dan Chang Lab milik University of California. Tujuan riset ini adalah menciptakan sistem yang mampu menerjemahkan aktivitas otak ke dalam kata-kata.

Makalah penelitian baru yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine, menunjukkan potensi penerapan teknologi untuk orang-orang dengan gangguan bicara.

Namun di samping penelitian, Facebook memperjelas pihaknya mendukung gagasan perangkat pembaca otak yang dipasang di kepala.

Alih-alih melanjutkan pendanaan, Facebook membangun antarmuka yang dikenakan di pergelangan tangan. Penelitian baru ini tidak memiliki penerapan berupa produk untuk pasar luas.

"Agar jelas, Facebook tidak tertarik mengembangkan produk yang membutuhkan elektroda implan," kata Facebook dalam siaran pers.

Disebutkan pula, "Sementara kami percaya pada potensi jangka panjang dari teknologi BCI optik yang dipasang di kelapa. Kami telah memfokuskan upaya langsung pada pendekatan antarmuka saraf yang berbeda, yang lebih dekat ke pasar."

Sekadar informasi, penelitian di Chang Lab melibatkan penggunaan antarmuka otak-komputer (BCI) yang ditanamkan untuk memulihkan kemampuan bicara seseorang.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bantu Pria yang Tak Bisa Bicara

Selain Meningkatkan Fungsi Otak, Ini 6 Manfaat Minum Air Putih
Perbesar
(Doc : iStock)

Makalah barunya berfokus pada peserta yang kehilangan kemampuan untuk berbicara setelah mengalami stroke lebih dari 16 tahun lalu. Laboratorium kemudian memasangkan pria tersebut dengan elektroda implan yang dapat mendeteksi aktivitas otak.

Pria tersebut menghabiskan waktu 22 jam melatih sistem untuk mengenali pola tertentu. Dalam pelatihan tersebut, ia mencoba mengucapkan kata-kata yang terisolasi dari kumpulan 50 kosakata.

Dalam pelatihan selanjutnya, pria tersebut menghasilkan kalimat lengkap menggunakan kata-kata tersebut. Kalimatnya mencakup kata kerja dasar dan kata ganti, kata benda, dan perintah "ya" atau "tidak".

Pelatihan ini membantu menciptakan model bahasa yang dapat merespons ketika pria tersebut berpikir untuk mengucapkan kata-kata tertentu, meski ia tidak bisa mengucapkan secara langsung.

Para peneliti menyempurnakan model untuk memprediksi mana dari 50 kata yang dipikirkan pria tersebut, mengintegrasikan sistem probabilitas untuk pola bahasa Inggris yang mirip dengan keyboard prediktif di smartphone.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Jauh dari Harapan Facebook

Ilustrasi Otak
Perbesar
Ilustrasi Otak (iStockPhoto)

Peneliti pun melaporkan, dalam uji coba terakhir, sistem bisa memecahkan kode rata-rata 15,2 kata per menit. Ada 12,5 kata per menit yang diterjemahkan dengan benar.

Chang Lab dalam laporan riset Project Steno pada 2019 dan 2020 memperlihatkan bahwa elektroda dan model prediksi bisa menciptakan sistem pengetikan pikiran yang relatif cepat dan canggih.

Penelitian ini dianggap berharga bagi orang-orang yang tidak dilayani keyboard dan antarmuka lain yang ada. Pasalnya kosakata yang terbatas bisa membantu mereka berkomunikasi dengan lebih mudah.

Namun, penelitian ini jauh dari tujuan ambisius yang ditetapkan Facebook pada 2017, yakni sistem BCI non-invasif yang memungkinkan 100 kata per menit. Angka ini sebanding dengan kecepatan tertinggi yang bisa dicapai melalui keyboard tradisional.

Penelitian tersebut tidak mendekati angkat tersebut. Hal ini dianggap sebagai pertanda buruk bagi prospek komersial teknologi, seperti ikat kepala eksternal yang mengukur kadar oksigen otak melalui Facevook Reality Labs.

Sejak itu, Facebook mengakuisisi perusahaan gelang elektromiografi CTRL-Labs pada 2019, memberikannya opsi kontrol alternatif untuk AR dan VR.

(Tin/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya