Twitter, Google, FB, dan TikTok Janji Tingkatkan Perlindungan Online untuk Pengguna Perempuan

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 02 Jul 2021, 19:00 WIB
Diperbarui 02 Jul 2021, 19:00 WIB
Pelecehan Online Jadi Masalah Baru di Dunia Internet
Perbesar
Pelecehan online dapat dibagi ke dalam dua kategori, yakni pelecehan online ringan dan pelecehan online berat.

Liputan6.com, Jakarta - Platform media sosial Twitter, Google, Facebook, dan TikTok berkomitmen menghalau tindak kekerasan terhadap perempuan di ranah online. Perusahaan internet dan media sosial ini juga berjanji akan meningkatkan perlindungan online bagi para pengguna perempuan di platformnya.

Janji dan komitmen dari Twitter, Google, Facebook, dan TikTok ini diungkapkan dalam Forum Generasi Kesetaraan PBB di Paris, Prancis, Kamis, 1 Juli 2021.

Komitmen tersebut datang setelah konsultasi dengan World Wide Web Foundation (WWWF) selama setahun terakhir. Tujuannya untuk memantau kekerasan dan pelecehan online berbasis gender.

Mengutip The Verge, Jumat (2/7/2021), WWWF mengatakan, hasil konsultasi memperlihatkan perempuan ingin memiliki kontrol yang lebih besar atas siapa yang dapat membalas atau mengomentari unggahan di media sosialnya.

Pengguna perempuan juga ingin memiliki lebih banyak pilihan seputar apa yang mereka lihat di platform.

"Perusahaan (media sosial) berjanji membangun cara yang lebih baik bagi pengguna perempuan untuk mengatur keamanan online mereka dengan menawarkan pengaturan yang lebih terperinci," kata WWWF mengenai komitmen perusahaan internet dan media sosial.

Adapun pengaturan yang dimaksud mulai dari siapa yang dapat melihat, berbagi, atau mengomentari unggahan. Pengaturan untuk perlindungan pengguna perempuan ini juga akan dihadirkan dengan bahasa yang lebih sederhana, mudah diakses, dengan navigasi yang lebih mudah.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Proaktif Gunakan Fitur Report

Ilustrasi Facebook
Perbesar
Ilustrasi Facebook. (Gambar oleh Firmbee dari Pixabay)

Tidak cuma itu, platform medsos juga memberikan akses ke tool keselamatan dan mengurangi jumlah unggahan terkait pelecehan yang dapat dilihat pengguna perempuan.

Bagian terakhir ini mendapat kritikan, pasalnya dengan membatasi jumlah unggahan terkait kekerasan bukan berarti tindak pelecehan di media sosial hilang total. Pelecehan secara online masih tetap ada, untuk itu pengguna diminta melaporkan unggahan atau akun jika dinilai telah melakukan perilaku melecehkan.

WWWF mengatakan, perusahaan akan memperbaiki sistem pelaporan mereka. Antara lain dengan menghadirkan kemampuan pelacakan dan pengelolaan laporan, serta membangun cara tambahan agar pengguna perempuan bisa mendapatkan bantuan jika mereka melaporkan adanya tindak pelecehan.

Rencana ini dinilai cukup baik dalam upaya memberantas pelecehan online. Sayangnya WWWF tidak memberikan informasi terkait apa yang mungkin dilakukan masing-masing platform untuk melindungi pengguna perempuan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tanggapan Twitter, Facebook, dan TikTok

Ilustrasi TikTok, Aplikasi TikTok.
Perbesar
Ilustrasi TikTok, Aplikasi TikTok. Kredit: antonbe via Pixabay

Kepala Hukum, Kebijakan Publik, dan Keamanan di Twitter Vijaya Gadde mengatakan, Twitter selalu menjaga semua pengguna agar tetap aman dan bebas dari penyalahgunaan. Dalam emailnya, Vijaya Gadde menyebut, tujuan di atas adalah prioritas utama Twitter.

"Meski kami baru-baru ini telah memberi kontrol lebih besar untuk mengelola keselamatan mereka, kami tahu masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," kata Vijaya Gadde dalam emailnya.

Ia menekankan, perilaku kasar tidak memiliki tempat di Twitter. Pasalnya, pelecehan juga merusak percakapan di Twitter.

Sementara, Kepala Keamanan Global Facebook Antigone Davis menyebut, perusahannya berharap bisa bekerja sama dengan perusahaan teknologi lain untuk membuat internet lebih aman bagi perempuan.

"Untuk menjaga perempuan aman dari pelecehan dan eksploitasi, kami secara teratur memperbarui kebijakan, tool, dan teknologi kami dengan berkonsultasi bersama para ahli di seluruh dunia, termasuk 200 organisasi keselamatan perempuan," katanya.

Direktur Kebijakan TikTok AS Tara Wadhwa dalam blognya menulis, dalam beberapa bulan mendatang TikTok akan mengembangkan dan menguji sejumlah perubahan produk pada platformnya dan memprioritaskan pada keselamatan perempuan. "Kami ingin membuat TikTok menjadi tempat yang lebih aman bagi para perempuan," katanya.

(Tin/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya