Hacker Curi Kode Program Game FIFA 21, Apa Data Pengguna Aman?

Oleh Iskandar pada 11 Jun 2021, 08:52 WIB
Diperbarui 11 Jun 2021, 08:52 WIB
FIFA 21
Perbesar
Salah satu stadion di Liga Jerman yang akan dihadirkan pada gim FIFA 21. (Dok. EA Sports/FIFA)

Liputan6.com, Jakarta - Pembuat game kenamaan, Electronic Arts (EA), menanggapi peristiwa pencurian data oleh hacker yang menembus jaringan mereka.

Dalam kasus ini hacker mencuri kode sumber (kode program/source code) sebesar 780GB dan tools untuk FIFA 21. Demikian menurut sebuah posting yang diterbitkan awal pekan ini di forum kejahatan siber, sebagaimana dikutip Arstechnica, Jumat (11/6/2021).

Orang yang memublikasikan posting-an tersebut, yang diketahui menggunakan nama Leakbook, menawarkan data curian itu untuk dijual secara online.

"Anda memiliki kemampuan penuh untuk mengeksploitasi semua layanan EA," tulis orang tersebut.

Posting-an itu tidak mengatakan bagaimana kode program FIFA 21 diperoleh, tetapi dalam sebuah pernyataan, pejabat EA mengatakan perusahaan mengalami pembobolan jaringan yang memungkinkan penyusup untuk kabur dengan kode sumber game dan tools.

 

Apakah Data Pemain Aman?

FIFA 21
Perbesar
Tampilan permainan yang ada nanti hadir di FIFA 21. (Dok. FIFA 21)

Perusahaan mengaku sedang menyelidiki insiden penyusupan itu ke dalam jaringan mereka, di mana sejumlah kecil kode sumber game dan tools terkait dicuri.

"Tidak ada data pemain yang diakses, dan kami tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa ada risiko terhadap privasi pemain," tegas perusahaan.

"Setelah insiden tersebut, kami telah melakukan peningkatan keamanan dan tidak mengharapkan dampak pada game atau bisnis. Kami secara aktif bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan ahli lainnya sebagai bagian dari penyelidikan kriminal yang sedang berlangsung ini," sambung EA.

 

200GB Data Pribadi

Alasan Risiko Kehilangan Data Perempuan Lebih Tinggi dari Pria
Perbesar
Data Pribadi (enisa.europa.eu)

Secara terpisah, hampir 200GB data pribadi milik Departemen Kepolisian Pulau Presque telah diambil oleh kelompok ransomware yang dikenal sebagai Avaddon.

Departemen kepolisian diretas pada 18 April dan diberi waktu 10 hari untuk membayar uang tebusan. Pun demikian, mereka dapat membangun kembali jaringannya menggunakan cadangan data dan menolak untuk membayar.

Awal pekan ini, Avaddon mem-posting data di situs web-nya yang di-hosting di dark web. Menurut situs kebocoran Distributed Denial of Secrets, data curian yang diungkap mencakup 15.000 email.

Tinjauan situs Avaddon juga menunjukkan beberapa contoh laporan polisi dan pernyataan saksi yang setidaknya berasal dari tahun 2011.

Sejumlah file tersebut mendokumentasikan insiden kekerasan dalam rumah tangga, pengutilan, dan penyerangan fisik serta dalam banyak kasus memberikan nomor telepon, alamat, dan informasi pribadi lainnya: informasi milik korban dan terdakwa.

(Isk/Tin) 

Lanjutkan Membaca ↓