Peneliti Ciptakan Robot Kecoak untuk Selamatkan Manusia

Oleh Yuslianson pada 10 Jun 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 10 Jun 2021, 08:00 WIB
Kecoak Cyborg
Perbesar
Peneliti ciptakan kecoak cyborg yang mampu menyelamatkan manusia. (Doc: PetaPixel/ arXiv:2105.10869)

Liputan6.com, Jakarta - Tak dapat dimungkiri, perkembangan teknologi saat ini membuat sekelompok peneliti robotika semakin kreatif mengembangkan robot.

Dalam usaha menghadirkan solusi pencarian dan penyelamatan di daerah perkotaan, peneliti robotika mengalihkan perhatian mereka dengan mengembangkan sistem hybrid dengan memadukan komputer dan serangga.

Salah satu serangga yang menjadi pilihan peneliti adalah kecoak, khususnya kecoak Madagaskar. Berbekal sejumlah komponen robotika dan kamera, peneliti dapat mengendalikan kecoak tersebut dengan mikrokontroler.

Selain terpasang perangkat mikrokontroler, peneliti juga menyematkan sebuah kamera yang dipasang dipunggung kecoak Madagaskar, sebagaimana dikutip dari Petapixel, Kamis (10/6/2021).

Kombinasi kecoak cyborg ini diklaim mampu bernavigasi di lingkungan yang rusak, seperti bangunan yang runtuh secara otonom untuk menemukan dan mendeteksi manusia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bisa Jelajah Area Sulit

Kemampuan ini dapat terwujud berkat perpaduan algoritme kontrol khusus, dan kemampuan navigasi alami serangga untuk menjelajahi medan yang kompleks, dan "pendeteksi kehadiran manusia" onboard menggunakan kamera inframerah yang dipandu oleh teknologi machine learning.

Karena mengusung konsep hybrid, kecoak cyborg ini memiliki masa pakai "baterai" yang jauh lebih lama daripada robot konvensional dengan ukuran yang sama kecilnya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bukan yang Pertama

Berrdasarkan informasi yang dikutip dari Popular Science, Senin (10/9/2018), Belousov enggan membeberkan informasi mengenai organisasi yang dimaksud.

Adapun pengembangan robot kecoak ini bukanlah yang pertama kalinya. Pada Juli 2015, sekelompok ilmuwan University of California mengembangkan robot kecoak yang bisa memanjat.

Kemudian, di akhir triwulan pertama 2015, sekelompok ilmuwan Texas University pun menggarap proyek serupa.

(Ysl/Tin)

Lanjutkan Membaca ↓