Generasi Z Aktif Gunakan Aplikasi untuk Pesan-Antar Makanan Saat Pandemi

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 09 Jun 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 09 Jun 2021, 11:00 WIB
Layanan Pesan-Antar Makanan Daring di Thailand Meningkat
Perbesar
Pengemudi pengantar makanan bersiap untuk mengirim pesanan mereka dengan sepeda motor di Bangkok, Selasa (4/5/2021). Operator pengiriman makanan online di Thailand meningkat saat restoran diperintahkan hanya memberikan layanan take away di tengah gelombang corona Covid-19 terbaru. (Jack TAYLOR/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 diakui banyak pihak telah mempercepat adopsi layanan digital pada Generasi Z (Gen Z). Gen Z dianggap sebagai mereka yang lahir pada akhir 1990-an hingga awal 2010-an.

Dibanding generasi milenial, Gen Z dianggap lebih digital native. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, Gen Z merupakan segmen terbesar di Indonesia dengan cakupan 27,94 persen dari total penduduk.

Lembaga penelitian Katadata Insight Center (KIC) pun mengeksplorasi preferensi Gen Z dalam layanan digital, termasuk belanja online, layanan pesan-antar makanan (food delivery), dan layanan pengantaran sembako (online grocery) dalam survei yang dilakukan di Jabodetabek dan tujuh kota besar lainnya.

Sebanyak 50 persen responden mengatakan mereka telah menggunakan layanan pengiriman makanan online.

Alasan mereka menggunakan aplikasi pesan-antar makanan antara lain praktis, tidak sempat memasak, dan bosan dengan makanan rumahan.

Ada pun layanan yang dipakai antara lain adalah, 50 persen Generasi Z memilih GrabFood sebagai penyedia layanan pesan-antar makanan yang paling sering mereka gunakan dalam 3 bulan terakhir.

Selanjutnya Gen Z juga menggunakan GoFood (46 persen), ShopeeFood (3 persen), dan Maximfood (kurang dari 1 persen).

Head of Research KCI, Stevanny Limuria mengatakan, yang menarik, survei juga mengungkap 44 persen pengguna pengantaran makanan Gen Z adalah pengguna baru. Artinya, pengguna yang baru mulai menggunakan layanan ini selama pandemi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Terus Pakai Aplikasi Pesan-Antar Makanan Setelah Pandemi

Aktivitas di Jakarta Terus Dihantui Guyuran Hujan hingga Akhir Februari
Perbesar
Pengantar pesan makanan daring melintasi ruas jalan di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (18/12/2021). BMKG memprakirakan potensi hujan lebat yang mungkin disertai petir dan angin kencang hingga 21 Februari di beberapa provinsi di Indonesia, termasuk DKI Jakarta. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

"90 persen dari mereka menyatakan, ingin untuk terus menggunakan layanan pengiriman makanan setelah pandemi,” kata Stevanny.

Responden yang memilih GrabFood sebagai penyedia layanan pesan-antar makanan mengatakan, kemudahan aplikasi jadi salah satu faktor utama memilih layanan tersebut. Pertimbangan lain adalah metode pembayaran dan pilihan makanan yang ada di aplikasi.

Stevanny menjelaskan, survei ini menyorot konsumsi layanan digital di kalangan Gen Z. Dalam melakukan survei, pihaknya fokus pada kenyataan bahwa Gen Z lahir dan besar di tengah era teknologi yang berkembang pesat, dengan lahirnya media sosial dan internet.

"Selain mewakili sebagian besar penduduk Indonesia, Gen Z juga memiliki daya beli yang cukup tinggi,” kata Stevanny.

Survei ini dilakukan secara online terhadap 1.146 responden pada 13-18 April 2021. Responden yang dilibatkan adalah mereka yang berusia 18-29 tahun (82 persen responden berusia 18-26 persen) dari Jabodetabek, Surabaya, Medan, Bandung, Makassar, Semarang, Denpasar, dan Yogyakarta.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Nilai Transaksi Pemesanan Makanan

Layanan Pesan-Antar Makanan Daring di Thailand Meningkat
Perbesar
Pengemudi pengantar makanan GrabFood mengambil pesanan dari kios makanan di pusat perbelanjaan di Bangkok, Selasa (4/5/2021). Operator pengiriman makanan online di Thailand meningkat saat restoran diperintahkan hanya memberikan layanan take away di tengah gelombang Covid-19 terbaru (Jack TAYLOR/AFP)

Sekadar informasi, nilai pasar atau Gross Merchandise Value (GMV) layanan pesan-antar makanan di Indonesia diprediksi mencapai USD 3,7 miliar pada 2020.

Angka ini dianggap paling tinggi dibandingkan negara tetangganya, misalnya Thailand (USD 2,8 miliar), Singapura (USD 2,4 miliar), Filipina (USD 1,2 miliar), dan Malaysia USD 1,1 miliar).

Angka-angka di atas berdasarkan dari penelitian ventura asal Singapura, Momentum Works, yang meluncurkan hasil riset pada awal tahun ini. Dari riset ini, Grab menjadi pemimpin pangsa pasar dengan 53 persen di Indonesia.

“Selain kenaikan pengguna baru online shopping, food delivery, dan online grocery, survei ini menangkap keinginan para pengguna baru layanan digital untuk melanjutkannya setelah pandemi berlalu,” katanya.

(Tin/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓