Peneliti: Manusia Bisa Hidup Maksimal 150 Tahun

Oleh Iskandar pada 01 Jun 2021, 17:00 WIB
Diperbarui 01 Jun 2021, 17:00 WIB
Jerman Kembali Lockdown
Perbesar
Orang-orang berjalan melewati zona pejalan kaki utama di Frankfurt, Jerman, Senin (14/12/2020). Mengurangi sebaran virus corona COVID-19, Jerman akan kembali menutup wilayahnya atau lockdown mulai 16 Desember 2020 mendatang. (AP Photo/Michael Probst)

Liputan6.com, Jakarta - Sampai saat ini, manusia tertua yang pernah hidup adalah Jeanne Calment, seorang wanita kelahiran Prancis pada tahun 1875 yang hidup hingga usia 122 tahun, 164 hari.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah mungkin manusia bisa hidup lebih lama dari itu?

Menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature, peneliti Timothy V. Pyrkov, Konstantin Avchaciov, Andrei E. Tarkhov, Leonid I. Menshikov, Andrei V. Gudkov, dan Peter O. Fedichev mengklaim bahwa batasan usia manusia maksimal bisa mencapai hingga 150 tahun.

Mereka mengatakan pada rentang usia tersebut tubuh manusia akan kehilangan kemampuan untuk pulih dari penyakit dan cedera. Demikian sebagaimana dikutip dari Ubergizmo, Selasa (1/6/2021)

Meskipun secara umum orang yang lebih tua mungkin tidak sekuat orang yang lebih muda dalam memulihkan diri dari cedera atau penyakit, namun tidak pernah ada batasan yang tegas tentang berapa lama manusia secara teoritis dapat hidup.

Namun, para peneliti percaya jika ada terapi yang dapat membantu memperpanjang ketahanan tubuh, kelemahan itu bisa ditingkatkan dan manusia dapat hidup lebih lama dan lebih sehat.

Startup Ini Ingin Bikin Manusia Panjang Umur

Melihat Pameran Mayat Manusia di Rusia yang Tuai Kecaman
Perbesar
Pengunjung melihat salah satu karya seni yang dipajang dalam pameran anatomi tubuh manusia bertajuk 'Body Worlds' di Moskow, Rusia (24/3/2021). Pameran ini menjadi polemik dan menuai banyak kecaman lantaran menggunakan mayat manusia. (AFP/Dimitar Dilkoff)

Soal umur manusia, memang cuma Tuhan yang bisa menentukan. Namun bagaimana jika umur manusia juga ditentukan oleh sesama? Startup asal Amerika Serikat (AS) Rejuvenate Vio, punya caranya.

Dilansir Daily Mail, startup tersebut memiliki konsep untuk menunda penuaan manusia. Dengan kata lain, usia manusia kelak bisa diperpanjang. Percobaan ini pun dilakukan pertama kali pada anjing jenis Beagle.

Jika memang percobaan berhasil, tak menutup kemungkinan startup  ini akan menerapkan hal tersebut ke manusia.

Pendiri Rejuvenate Bio, George Church dari Harvard Medical School, percobaan berikutnya akan dilakukan pada tikus.

"Kami akan menyuntikkan DNA baru ke tubuh. Kami telah menguji percobaan tersebut pada anjing dan tikus, nantinya akan diuji coba pada manusia," ujar Church.

Penelitian tersebut juga didasari pada kemampuan organisme seperti cacing dan lalat. Kedua makhluk hidup tersebut diketahui bisa meningkatkan gen mereka dan bisa menggandakan waktu hidup.

Church juga mengungkap penelitiannya kalau transfusi darah pada tikus yang lebih tua dari tikus yang lebih muda juga bisa mengembalikan sejumlah 'biomarker' ke tingkat yang lebih muda. Namun, belum diketahui apakah pengujian kepada anjing berhasil atau tidak.

Pengujian pada Anjing

Anjing dilatih mengendus COVID-19 melalui sampel keringat
Perbesar
Anjing labrador retriever diberi hadiah saat tes mengendus Covid-19 dari sampel keringat di Universitas Chulalongkorn di Bangkok pada 21 Mei 2021. Ratusan sampel keringat penderita Covid-19 dikumpulkan mulai dari yang tidak bergejala sampai yang harus dirawat di rumah sakit (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Dalam dokumen yang diberikan oleh dokter hewan di West Coast pada Juni 2017, Rejuvate Bio mengungkap terapi gennya sudah diuji pada empat anjing Beagle dengan Tufts Veterinary School di Boston.

Sementara untuk percobaan tubuh manusia, Church siap bersedia menjadi sukarelawan yang pertama.

Rejuvenate Bio bahkan juga telah mengantongi dana dari Komando Operasi Khusus Amerika Serikat untuk mengetahui peningkatan kemampuan anjing-anjing militer.

Uji Gen pada Tikus

ilustrasi tikus
Perbesar
ilustrasi tikus (iStockphoto)

Uji perpanjangan usia pada hewan seperti ini sebetulnya bukan yang pertama. Pada 2015, laboratorium milik Church di Harvard, sudah mencoba menguji tikus dengan terapi gen dan perangkat canggih bernama CRISPR.

Terapi gen tersebut memasukkan DNA ke dalam virus, yang kemudian masuk ke sel-sel hewan. Church juga sudah menguji lebih dari 60 terapi gen kepada hewan tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓