Rencana Grup GoTo Hasil Gabungan Gojek dan Tokopedia

Oleh Agustinus Mario Damar pada 17 Mei 2021, 14:29 WIB
Diperbarui 17 Mei 2021, 14:44 WIB
Gojek dan Tokopedia bentuk GoTo, grup teknologi terbesar di Indonesia.
Perbesar
Gojek dan Tokopedia bentuk GoTo, grup teknologi terbesar di Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta - Gojek bersama Tokopedia telah mengumumkan pembentukan Grup GoTo yang disebut sebagai grup teknologi terbesar di Indonesia. Grup GoTo sendiri disebut akan menghadirkan ekosistem untuk berbagai solusi bagi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat.

Dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (17/5/2021), Grup GoTo akan menciptakan platform konsumen digital terbesar di Indonesia dengan mengombinasikan layanan e-commerce, pengiriman barang dan makanan, termasuk transportasi serta keuangan.

Grup GoTo berencana untuk menggarap potensi besar pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diketahui memiliki segmen kelas menengah dengan pertumbuhan pesat dan memiliki populasi muda yang tanggap teknologi.

Di samping itu, Indonesia memiliki PDB lebih dari USD 1 triliun dan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Namun tidak hanya itu, Grup GoTo juga akan terus mengembangkan bisnisnya di pasar non-Indonesia di tempat Gojek beroperasi, seperti Vietnam, Singapura, dan Thailand.

Salah satu yang dilakukan oleh Grup GoTo nantinya adalah menjadikan pengiriman sameday untuk layanan e-commerce menjadi standar praktik sehari-hari di Indonesia.

Tidak hanya itu, Grup GoTo juga akan terus meningkatkan layanan pembayaran dan keuangan untuk menjangkau sekitar 140 juta masyarakat yang belum memiliki akses ke sistem keuangan (underserved segments).

"Selain mempercepat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, Grup GoTo akan memberikan kemudahan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk memperoleh akses terhadap produk dan layanan berkualitas, kapan pun dan di mana pun," tutur Co-founder dan CEO Tokopedia, William Tanuwijaya.

Saat ini, Grup GoTo juga memiliki total GTV (Gross Transaction Value) lebih dari USD 22 miliar pada 2020. Selain itu, ada lebih dari 1,8 miliar transaksi yang terjadi di 2020.

Secara grup, ada lebih dari dua juta mitra pengemudi yang terdaftar per Desember 2020. Sementara untuk mitra usaha (merchant) per Desember 2020 tercatat ada lebih dari 11 juta.

Pengguna aktif bulanan layanan dari Grup GoTo juga tercatat mencapai lebih dari 100 juta. Grup GoTo juga menyebut telah kontribusi sebesar 2 persen pada total PDB Indonesia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Gojek Tokopedia Merger, Andre Soelistyo Jadi CEO GoTo

Co-CEO Gojek
Perbesar
Co-CEO Gojek Andre Soelistyo saat menjadi pembicara dalam Ignite Gerakan Nasional 1000 Startup Digital (Liputan6.com/ Agustin Setyo W)

Gojek dan Tokopedia akhirnya resmi mengumumkan pembentukan Grup GoTo. Sesuai rumor sebelumnya, Andre Soelistyo dari Gojek akan memimpin GoTo sebagai CEO Group, sedangkan Patrick Cao dari Tokopedia akan menjadi Presiden GoTo.

Sementara Kevin Aluwi akan tetap menjabat sebagai CEO Gojek. Begitu pula dengan William Tanuwijaya yang kini merupakan CEO Tokopedia.

Selain tanggung jawab di tingkat grup, Andre Soelistyo juga akan memimpin bisnis pembayaran dan layanan keuangan yang diberi nama GoTo Financial.

Adapun GoTo Financial mencakup layanan GoPay serta layanan keuangan dan solusi bisnis mitra usaha.

"Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah dengan dibentuknya Grup GoTo serta menandai fase pertumbuhan selanjutnya bagi Gojek, Tokopedia dan GoTo Financial," tutur CEO GoTo, Andre Soelistyo, dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (17/5/2021).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Model Bisnis GoTo

Presiden GoTo, Patrik Cao, menuturkan model bisnis Grup GoTo akan semakin beragam, stabil, dan berkelanjutan. Sebab, akan mengommbinasikan transaksi platform Gojek dan Tokopedia.

"Ke depannya, Grup GoTo akan berkontribusi lebih dari 2 persen kepada total PDB Indonesia dan akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja serta peluang penghasilan seiring dengan berkembangnya bisnis kami dan bertumbuhnya ekonomi," tutur Patrick.

Grup GoTo memiliki daftar investor blue chip, seperti Alibaba Group, Astra International, BlackRock, Capital Group, DST, Facebook, Google, JD.com, KKR, Northstar, Pacific Century Group, PayPal, Provident, Sequoia Capital, SoftBank Vision Fund 1, Telkomsel, Temasek, Tencent, Visa dan Warburg Pincus.

(Dam/Ysl)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya