Google Doodle Rayakan Ulang Tahun ke-90 Go Tik Swan, Siapa Dia?

Oleh Iskandar pada 11 Mei 2021, 09:09 WIB
Diperbarui 11 Mei 2021, 09:09 WIB
Google Doodle Rayakan Ulang Tahun ke-90 Go Tik Swan
Perbesar
Google Doodle Rayakan Ulang Tahun ke-90 Go Tik Swan. Dok: Google

Liputan6.com, Jakarta - Google Doodle hari ini, Selasa (11/5/2021), merayakan ulang tahun ke-90 Go Tik Swan. Ia dikenal sebagai ahli seni kuno kontemporer dalam mendesain kain dengan lilin panas yang dikenal sebagai batik.

Go Tik Swan lahir pada hari ini di tahun 1931 di Solo, Jawa Tengah, Indonesia. Semasa hidupnya, ia sering mengunjungi workshop batik kakeknya, di mana dia menyerap pengetahuan budaya Jawa dari pengrajin lokal.

Terpesona oleh karya leluhurnya, Go Tik Swan mengeksplorasi lebih jauh warisannya dengan mempelajari sastra dan tari Jawa di Universitas Indonesia.

Dalam salah satu pertunjukan tari kampusnya, presiden Indonesia mengetahui latar belakang keluarga Swan dalam pembuatan batik dan menugaskannya untuk membuat gaya batik baru, yang ia yakini dapat mengatasi perpecahan dan mempersatukan bangsa Indonesia. Demikian sebagaimana dilansir blog Google Doodle.

Pada 1950-an, Go Tik Swan memenuhi permintaan presiden dengan menggabungkan teknik batik daerah untuk memperkenalkan "Batik Indonesia".

2 dari 3 halaman

Karya Populer Kembang Bangah

Google Doodle Rayakan Ulang Tahun ke-90 Go Tik Swan. Dok: Google
Perbesar
Google Doodle Rayakan Ulang Tahun ke-90 Go Tik Swan. Dok: Google

Go Tik Swan dikenal sebagai seniman yang sangat menghargai sebuah karya, sehingga setiap helai batik memiliki makna filosofis.

Ia mengembangkan motif yang sangat populer pada tahun 70-an, bertajuk 'Kembang Bangah' sebagai surat cinta atas jati dirinya.

 

3 dari 3 halaman

Terima Gelar Bangsawan

Tempat Wisata di Kota Solo
Perbesar
Ilustrasi Membatik / Sumber: Wikimedia

Go Tik Swan juga dikenal sebagai seorang ahli budaya Jawa, ahli keris (tradisi keris upacara Jawa kuno), dan pemain gamelan yang terampil (bentuk orkestra populer dari musik tradisional Indonesia).

Dia mengembalikan begitu banyak warisan, sehingga pemerintah Surakarta memberinya gelar bangsawan Panembahan Hardjonegoro.

Lanjutkan Membaca ↓