Konsorsium Blockchain ASEAN Dibentuk untuk Perkuat Hubungan Lintas Batas

Oleh Agustinus Mario Damar pada 23 Apr 2021, 10:30 WIB
Diperbarui 23 Apr 2021, 10:30 WIB
Blockchain
Perbesar
Ilustrasi Blockchain. Dok: catalysts.cc

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), Asosiasi Blockchain Singapura (BAS), Asosiasi Teknologi Ledger Terdistribusi Filipina (DLTAP), Pusat Bisnis dan Keuangan Internasional Labuan (Labuan IBFC), Asosiasi Perdagangan Operator Aset Digital Thailand (TDO) dan Blockchain Australia (BA) baru saja mengumumkan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk membentuk ASEAN Blockchain Consortium (ABC).

Konsorsium ini dibentuk untuk membina dan memperkuat hubungan lintas batas dalam mempromosikan teknologi blockhain. Acara penandatangan dilakukan secara digital dan didukung oleh platform penandatangan digital berbasis blockchain, Dedoco.

Acara ini sekaligus menandai kolaborasi pertama antara organisasi blockchain di seluruh ASEAN dan Australia. Lewat kolaborasi ini, seluruh organisasi juga akan mendorong pendidikan blockchain, berbagi pengetahuan pengembangan aset digital, dan mempromosikan adopsi teknologi blockchain di semua wilayah.

"Konektivitas digital merupakan hal yang mendesak selama pandemi yang terjadi untuk menjaga bisnis tetap berjalan. Kemudian, ini adalah kesempatan bagi blockchain untuk menata kembali konektivitas digital dengan adaptasi tingkat lanjut," tutur Penasihat Senior Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Edi Prio Pambudi dalam keterangan resminya, Jumat (23/4/2021).

Melalui MoU ini pula, enam organisasi tersebut akan membawa industri ini ke tingkat lebih tinggi, melalui kontribusi terhadap pengembangan blockchain dan aset digital. Tidak hanya itu, seluruh organisasi akan terlibat dengan regulator untuk memastikan kepatuhan hukum terhadap peraturan yang ada.

"Kebangkitan teknologi blockchain di dunia tidak dapat dihindari, Indonesia sebagai tingkat adopsi digital tertinggi akan berada di garis depan, MoU dapat menjadi titik awal dari kemajuan teknologi baru di industri blockchain," tutur Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia, Muhammad Deivito Dunggio.

Sebagai informasi, nota kesepahaman yang diselenggarakan secara virtual ini disaksikan pula oleh Penasihat Senior Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi dan Chief FinTech Officer Monetary Authority of Singapore Sopnendu Mohanty.

2 dari 3 halaman

3 Topik Utama pada Ajang Indonesia Blockchain Week dan Binance Summit 2021

Ilustrasi Blockchain
Perbesar
Ilustrasi Blockchain. Kredit: Gerd Altmann via Pixabay

Di sisi lain, Tokocrypto bekerja sama dengan Binance menggelar Indonesia Blockchain Week x Binance Summit 2021 menyusul kesuksesan ajang Indonesia Blockchain Week pada tahun 2019 dan 2020.

Ajang yang akan digelar pada Jumat (20/3/2021) itu akan membahas teknologi CeFi dan DeFi. Selain dua topik itu, ekosistem Binance Smart Chain akan dibahas secara spesifik.

Sesi pertama akan berfokus pada potensi penerapan Binance Smart Chain dan DeFi di Indonesia. Sementara sesi kedua akan mendikskusikan Binance Smart Chain dari sisi teknikal dan pengembangan.

Narasumber yang akan berbagi wawasan dan pengalamannya di ajang ini antara lain Founder & CEO di Binance, Changpeng Zhao (CZ); CEO & Co-Founder di Tokocrypto, Pang Xue Kai (Kai); COO di Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda; CSO di Binance, Gin Chao; CFO di Binance, Wei Zhou, serta beberapa pembicara lainnya.

"Semangat kami untuk terus menginisiasi berbagai forum sharing dan diskusi dimana bertujuan untuk mendorong adopsi yang lebih besar dari blockchain di Indonesia," ujar Pang Xue Kai.

Hal ini, kata Kai, selaras dengan tujuan Tokocrypto mengembangkan Toko Token (TKO) sebagai token hybrid pertama di Indonesia yang dibangun di atas Binance Smart Chain.

"TKO akan menjadi proyek aset kripto lokal Indonesia pertama yang menawarkan model token hybrid yang unik, dengan utilitas seperti token platform pertukaran, NFT Marketplace, CeFi, dan DeFi," tutur Kai.

3 dari 3 halaman

TKO

Selain Binance, dalam menyelenggarakan ajang ini Tokocrypto juga mendapat dukungan dari SafePal, CertiK, autofarm.network, ForTube, dan Unifi Protocol.

Di ajang tersebut akan diumumkan pula pemenang kompetisi desain NFT berhadiah total 10.000 TKO dan ditandatangani oleh CZ dan Kai.

Belakangan NFT telah menjadi topik hangat di dunia blockchain dengan kapitalisasi pasar mencapai USD 338 juta pada akhir 2020 lalu.

Kompetisi ini sekaligus menjadi awal insiatif Tokocrypto untuk mendukung ekosistem konten kreator di Indonesia dan sampai artikel ini ditayangkan, ada lebih dari 200 karya desain NFT yang akan diseleksi.

(Dam/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Rezekiku dari Offline ke Online