Ilmuwan: AI Bukan Ancaman bagi Umat Manusia

Oleh Arief Rahman Hakim pada 11 Apr 2021, 18:00 WIB
Diperbarui 11 Apr 2021, 18:00 WIB
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI), Machine Learning (ML)
Perbesar
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI), Machine Learning (ML). Kredit: Gerd Altmann from Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Berbagai hal kini dikerjakan melalui bantuan Artificial Intelligence (AI), termasuk pencarian di internet, rekomendasi lagu di pemutar musik, hingga rekomendasi video di lini masa YouTube.

Karena rekomendasi yang ditargetkan tidak terlalu menarik, serial atau film fiksi ilmiah lebih sering menggambarkan AI sebagai robot super cerdas yang menggulingkan umat manusia.

Alhasil, beberapa orang pun percaya skenario ini suatu hari bisa menjadi kenyataan. Salah satunya adalah almarhum Stephen Hawking. Dia secara terang-terangan telah menyatakan ketakutannya tentang bagaimana masa depan AI bisa mengancam umat manusia.

Sebuah penelitian dilakukan kepada 11 pakar AI dan Ilmu Komputer. Mengutip hasil penelitian tersebut via Science Alert, Minggu (11/4/2021), 82 persen responden menyatakan AI bukanlah ancaman eksistensial manusia.

AI sering diaplikasikan kepada teknologi, seperti pengenalan wajah, mobil tanpa pengemudi (otonomos), dan rekomendasi internet. Ini didefinisikan sebagai 'sempit' karena sistem ini hanya bisa belajar dan melakukan tugas yang sangat spesifik.

Sebaga contoh, Deep Blue adalah AI pertama yang mengalahkan juara catur dunia pada tahun 1997. Namun, mereka tidak dapat menerapkan pembelajaran pada hal lain selain tugas yang sangat spesifik.

 

2 dari 3 halaman

Artificial General Intelligence

 

Jenis AI lain disebut Artificial General Intelligence (AGI). Ini didefinisikan sebagai AI yang meniru kecerdasan manusia, termasuk kemampuan untuk berpikir dan menerapkan kecerdasan ke berbagai masalah yang berbeda. Beberapa orang percaya, AGI tidak dapat dihindari dan akan segera terjadi di masa depan.

Dr Roman Yampolskiy, ilmuwan komputer dari Louisville University juga percaya, "tidak ada kendali manusia terhadap AI sesuatu hal yang dapat terwujud".

Hal ini karena AI tidak mungkin otonom, sekaligus dikendalikan oleh manusia. Artinya, jika tidak dapat mengontrol sistem super-cerdas ini bisa menjadi bencana.

Sementara itu, Yingxu Wang, profesor Ilmu Perangkat Lunak dan Otak dari Universitas Calgary tidak setuju, mengatakan sistem AI tidak dapat mengontrol dirinya sendiri.

"Sistem dan produk AI yang dirancang secara profesional dibatasi dengan baik oleh lapisan dasar sistem operasi untuk melindungi kepentingan dan kesejahteraan pengguna, yang tidak dapat diakses atau dimodifikasi oleh mesin cerdas itu sendiri," katanya.

 

3 dari 3 halaman

AI Jadi Ancaman?

George Montanez, pakar AI dari Harvey Mudd College menyoroti, robot dan sistem AI tidak perlu hidup untuk menjadi berbahaya, cukup menjadi alat yang efektif. “Itu adalah ancaman yang ada saat ini," katanya.

Tanpa niat jahat, AI saat ini dapat mengancam. Misalnya, bias rasial telah ditemukan dalam algoritme yang mengalokasikan perawatan kesehatan untuk pasien di Amerika Serikat (AS).

Bias serupa telah ditemukan dalam perangkat lunak pengenal wajah yang digunakan untuk penegakan hukum, dan telah menunjukkan dampak negatif meskipun kemampuan AI yang 'sempit'.

Bias AI berasal dari data tempat pelatihannya. Dalam kasus bias rasial, data pelatihan tidak mewakili populasi umum. Contoh lain terjadi pada 2016, ketika chatbox berbasis AI ditemukan mengirimkan konten yang sangat menyinggung dan rasis.

Hal ini ditemukan karena orang-orang mengirimkan pesan ofensif bot, dari mana ia mempelajarinya.

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Takjil Drive Thru Masjid Al Azhar