Telegram Berhasil Raih Rp 14 Triliun dari Penjualan Obligasi

Oleh Agustinus Mario Damar pada 29 Mar 2021, 06:30 WIB
Diperbarui 29 Mar 2021, 06:30 WIB
Bos Telegram
Perbesar
Pendiri sekaligus Bos Telegram Pavel Durov bertemu dengan Putra Mahkota Dubai Hamdan Mohammed (Foto: Twitter Hamdan Bin Mohammed/ @HamdanMohammed))

Liputan6.com, Jakarta - Telegram diketahui telah berhasil mengumpulkan dana hingga lebih dari USD 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Informasi tersebut diungkap langsung oleh CEO Telegram Pavel Durov melalui kanal resminya.

Mengutip informasi dari akun resmi Telegram Pavel Durov, Senin (29/3/2021), dana itu merupakan hasil dari penjualan obligasi dalam bentuk hutang pada beberapa investor yang diklaim paling besar dan berpengalaman di seluruh dunia.

"Ini memungkinkan Telegram untuk terus tumbuh secara global sambil tetap berpegang pada nilai-nilainya sekaligus tetap independen," tulis Pavel dalam pengumumannya.

Pavel menuturkan, sumber dana ini nantinya juga akan dipergunakan untuk mendorong strategi monetisasi Telegram yang pernah diungkapnya pada akhir 2020.

Saat itu, Pavel memang sempat mengungkap strategi perusahaan untuk terus mendorong pertumbuhannya, mengingat layanan Telegram kini sudah mencapai 500 juta pengguna aktif bulanan.

"Seperti yang saya katakan saat meluncurkan Telegram hampir delapan tahun lalu, tujuan akhir Telegram adalah menjadi proyek yang berkelanjutan secara finansial, sehingga dapat melayani umat manusia hingga beberapa dekade (atau bahkan abad)," tulis Pavel.

2 dari 3 halaman

Telegram Dapat Suntikan Dana Rp 2,1 Triliun

Logo Aplikasi Telegram
Perbesar
Logo Aplikasi Telegram

Pavel Durov sendiri memang tidak mengungkap investor yang berinvestasi kali ini. Namun salah satunya diketahui adalah perusahaan pemodal Abu Dhabi Mubadala Investment Co dan Abu Dhabi Catalyst Partner.

Perusahaan pemodal ini mengatakan, mereka menginvestasikan dana sebesar USD 150 juta atau setara Rp 2,1 triliunsecara bersama-sama pada aplikasi pesan Telegram.

Mengutip Reuters, Rabu (24/3/2021), Mubadala menginvestasikan USD 75 juta (setara Rp 1,08 triliun) dalam lima tahun, penawaran saham perdana (IPO), dan obligasi Telegram.

Sementara, Abu Dhabi Catalyst Partners menyuntik dana USD 75 juta (Rp 1,08 triliun) sisanya.

"Basis pengguna Telegram telah sudah sangat banyak sehingga menempatkan Telegram di antara raksasa-raksasa teknologi global," kata Pejabat Eksekutif Mubadala Faris Sohail Faris al-Mazrui dalam sebuah pernyataan.

Ia menambahkan, Telegram kini ada di posisi yang baik pada titik perubahan yang akan mengubahnya menjadi perusahaan teknologi global terkemuka.

3 dari 3 halaman

Telegram Berkantor di Uni Emirat Arab

Telegram sendiri sudah bermarkas di Uni Emirat Arab, tepatnya di Kota Dubai. Menurut Faris, dengan mendapatkan investasi dari Mubadala, perusahaan akan membuka sebuah kantor di Kota Abu Dhabi.

Pengguna Telegram sendiri jumlahnya meningkat tajam tahun 2021 ini, terutama setelah WhatsApp mengumumkan pihaknya bakal memperbarui kebiijakan privasinya.

Telegram dirilis pada 2013 dan kini telah memiliki lebih dari 500 juta pengguna aktif bulanan.

Sekadar informasi, investor Telegram Abu Dhabi Catalyst Partners merupakan perusahaan joint venture Mubadala dengan perusahaan investasi AS Falcon Edge Capital.

Mubadala yang telah mengelola lebih dari USD 320 miliar aset, merupakan investor terbesar kedua di Uni Emirat Arab setelah Abu Dhabi Investment Authority.

Keduanya sama-sama berinvestasi di bidang teknologi. Mubadala berkontribusi sebesar USD 15 miliar pada SoftBank Vision Fund 2017 senilai USD 100 miliar.

Sebelumnya, Mubadala juga membeli 1,85 persen unit digital milik Reliance Industries, Jio Platform, dengan nilai USD 1,2 miliar.

(Dam/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓