Peneliti Korea Selatan Kembangkan Teknologi Baru untuk Organ Buatan

Oleh Mochamad Wahyu Hidayat pada 10 Mar 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 10 Mar 2021, 08:00 WIB
Ilustrasi riset, penelitian, peneliti, ilmuwan
Perbesar
Ilustrasi riset, penelitian, peneliti, ilmuwan. Kredit: Michal Jarmoluk via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Sekelompok peneliti di Korea Selatan telah mengembangkan teknologi baru yang diharapkan dapat memudahkan produksi organ buatan untuk studi praklinis atau jaringan buatan untuk transplantasi seperti kulit buatan dan patch untuk jantung.

Mengutip keterangan resmi via Eurekalert, Rabu (10/3/2021), Korea Institute of Science and Technology (KIST) menyebut kelompok peneliti yang dipimpin oleh Dr. Youngmee Jung dari Center for Biomaterials itu telah mengembangkan platform ko-kultur sel baru menggunakan membran berpori yang sangat tipis. Dengan demikian, ia dapat membiakkan beberapa jenis sel secara bersamaan untuk membentuk jaringan yang mirip dengan jaringan asli tubuh manusia.

Ko-kultur adalah salah satu metode dalam merancang organ buatan yang dapat digunakan sebagai pengganti studi praklinis berbasis hewan, yang diperlukan untuk pengembangan obat.

Karena tubuh manusia terdiri dari berbagai jenis sel, ko-kultur sangat penting dalam membuat simulasi jaringan manusia sedekat mungkin dan saat ini digunakan di sebagian besar bidang penelitian yang melibatkan simulasi jaringan biologis.

Namun, hanya mencampur dan membiakkan berbagai jenis sel bersama-sama sering kali menyebabkan sel yang tumbuh cepat membanjiri sel lainnnya.

Platform yang menggunakan membran berpori memiliki keterbatasan karena ketebalan relatif membran dan kepadatan pori yang rendah gagal menginduksi interaksi sel-sel aktif.

Selain itu, perlakuan tambahan diperlukan untuk mengimbangi perbedaan antara lingkungan platform dan lingkungan in vivo di mana sel benar-benar tumbuh.

 

2 dari 2 halaman

Membran lebih tipis

Untuk mengatasi keterbatasan itu, para peneliti di KIST telah mengembangkan platform dengan membran 10 kali lebih tipis dan memiliki kepadatan pori lebih tinggi, sehingga meningkatkan interaksi sel-sel.

Penggunaan bahan polimer lembut dan elastis memungkinkan penyesuaian elastisitas pada membran tipis, sehingga platform ko-kultur ini dapat menampilkan sifat permukaan yang mirip dengan matriks ekstraseluler, yang menyediakan sel dengan lingkungan yang mirip dengan tubuh.

Selain itu, mengingat jaringan di pembuluh darah, otot, jantung, dan bagian lain dari tubuh manusia sering kali sejajar dalam arah tertentu, platform ini cocok untuk pembiakan jaringan karena dapat menyelaraskan sel tanpa perawatan lebih lanjut, melalui penyelarasan pori dan formasi pola menggunakan elastisitas membran pada skala nano.

Lanjutkan Membaca ↓