Ikut Australia, Kanada Akan Minta Bayaran Konten Berita ke Facebook

Oleh Iskandar pada 22 Feb 2021, 16:13 WIB
Diperbarui 22 Feb 2021, 16:13 WIB
Facebook
Perbesar
Ilustrasi Facebook (Foto: New Mobility)

Liputan6.com, Jakarta - Mengikuti langka Australia, Kanada juga akan meminta bayaran ke Facebook untuk setiap konten berita dari penerbit lokal yang muncul di feed Facebook.

Menteri Heritage Kanada, Steven Guilbeault, mengutuk tindakan Facebook yang 'sangat tidak bertanggung jawab' ketika raksasa media sosial itu menghapus semua konten berita Australia dari situsnya.

Guilbeault memastikan bahwa Kanada akan menjadi yang berikutnya untuk meminta Facebook membayar konten berita dari penerbit Kanada.

Ia mengaku akan menyusun rancangan undang-undang dalam beberapa bulan ke depan, yang mana mengharuskan Facebook dan Alphabet Inc. (induk perusahaan Google) untuk membayar.

"Kanada berada di garis depan pertempuran ini. Kami ada di antara kelompok negara pertama di dunia yang melakukan inisiatif ini," kata Guilbeault sebagaimana dilansir New York Post, Senin (22/2/2021).

Guilbeault mengatakan dia baru-baru ini telah bertemu dengan para menteri dari Australia, Finlandia, Prancis, dan Jerman untuk menjalin kerjasama sehubungan dengan isu Google dan Facebook.

"Itu adalah pertemuan tingkat menteri pertama, di mana kami bersama-sama mulai membicarakan tentang apa yang ingin kami lakukan bersama terkait raksasa web, termasuk kompensasi yang adil untuk media," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa koalisi negara-negara yang menentang Facebook dan Google akan segera mencapai 15 negara.

"Saya agak penasaran untuk melihat seperti apa tanggapan Facebook nantinya. Apakah Facebook akan memutuskan hubungan dengan Jerman, Prancis, Kanada, Australia, dan negara lain yang akan bergabung? Pada titik tertentu, posisi Facebook akan sepenuhnya tidak dapat dipertahankan," ucap Guilbeault.

2 dari 3 halaman

Aplikasi Media Australia Banjir Unduhan Usai Facebook Blokir Penayangan Berita

Facebook
Perbesar
(ilustrasi/guim.co.uk)

Aplikasi milik media The Australian Broadcasting Corporation alias ABC News banjir unduhan di App Store Apple selama beberapa hari terakhir.

Banyaknya jumlah unduhan aplikasi berita Australia ini terjadi setelah Facebook memblokir penayangan berita di platform-nya.

Menurut wartawan Financial Times, Uma Patel, dalam Twitter-nya, banjir unduhan aplikasi ABC News ini kemungkinan terjadi karena ABC memanfaatkan larangan penayangan berita di Facebook dengan iklan yang mengarahkan pengguna ke aplikasinya.

Mengutip The Verge, Senin (22/2/2021), menurut App Annie, ABC News, saat ini menempati urutan peringkat kedua aplikasi populer App Store untuk wilayah Australia. Untuk aplikasi berita, ABC News memegang peringkat pertama.

Saking banyak pengunduhnya, ABC News sempat menjadi aplikasi terpopuler nomor satu di App Store Australia, melampaui Instagram, Facebook Messenger, dan aplikasi Facebook.

3 dari 3 halaman

Alasan Facebook Blokir Penayangan Berita di Australia

Facebok, Aplikasi Facebook.
Perbesar
Facebok, Aplikasi Facebook. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Perlu diketahui, Facebook memutuskan untuk menyetop penayangan berita di platformnya.

Hal ini merupakan respons perusahaan atas regulasi Australia yang akan memaksa platform teknologi membayar perusahaan media Australia atas konten yang tayang (dan dibagikan pengguna) di platformnya.

Facebook mempermasalahkan aturan tersebut lalu melarang perusahaan media dan berita Australia untuk membagi unggahan link berita. Pengguna Facebook di Australia pun tidak bisa melihat berita dari sumber internasional.

Larangan Facebook ini secara tidak sengaja juga menghapus unggahan dari halaman Facebook milik pemerintah dan beberapa situs lainnya.

Imbas dari pelarangan penayangan berita di Facebook membuat jumlah pembaca beberapa outlet berita Australia turun drastis. Nieman Lab menyebut, lalu lintas atau trafik ke situs berita Australia turun 93 persen sehari setelah larangan diberlakukan.

(Isk/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Sayur Online Rezeki Puasa