ByteDance Batal Jual TikTok ke Oracle dan Walmart

Oleh Iskandar pada 16 Feb 2021, 17:23 WIB
Diperbarui 16 Feb 2021, 17:23 WIB
TikTok
Perbesar
TikTok. Dok: money.com

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan induk TikTok, Bytedance, telah membatalkan rencana untuk menjual bisnisnya di Amerika Serikat (AS). Demikian menurut laporan South China Morning Post.

Perusahaan bahkan telah menangguhkan kesepakatan penjualan TikTok dengan Oracle dan Walmart karena Donald Trump tak lagi menjabat sebagai presiden.

Kepergian Trump dari Gedung Putih 'menghilangkan dorongan' untuk kesepakatan tersebut mengingat bahwa dialah yang mengancam akan melarang TikTok di AS, kecuali ByteDance menjual operasinya di AS.

"Kesepakatan itu terutama dirancang untuk memenuhi tuntutan dari pemerintahan Trump," ujar sumber yang tidak disebutkan namanya, sebagaimana dilansir New York Post.

TikTok menolak mengomentari laporan tersebut, begitu pula Oracle dan Walmart.

 

2 dari 3 halaman

Spekulasi

Ilustrasi TikTok, Aplikasi TikTok.
Perbesar
Ilustrasi TikTok, Aplikasi TikTok. Kredit: antonbe via Pixabay

Kabar ini kian mempertajam spekulasi bahwa penjualan TikTok kepada sekelompok investor AS yang dipimpin Oracle benar-benar batal--di bawah pemerintahan Joe Biden-- setidaknya untuk saat ini.

Pengadilan federal telah memblokir perintah administrasi Trump yang secara efektif akan melarang TikTok beroperasi di AS.

Dalam pengajuan pengadilan, TikTok dan Departemen Kehakiman meminta agar gugatan tersebut ditunda sehingga pemerintah Biden dapat meninjau apakah rencana larangan masih diperlukan atau tidak.

 

3 dari 3 halaman

Evaluasi

Ilustrasi TikTok
Perbesar
Ilustrasi TikTok via Google Play Store

Permintaan itu muncul setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Biden telah menunda kesepakatan, sementara para pejabat masih meninjaunya.

Di sisi lain, sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki, mengatakan pemerintah tidak mengambil "langkah proaktif baru" pada TikTok.

"Secara umum, kami akan mengevaluasi secara komprehensif terkait risiko terhadap data AS dari TikTok dan potensi ancaman lainnya," kata Psaki.

(Isk/Why)

Lanjutkan Membaca ↓