Huawei Band 4e Dijual Rp 300 Ribuan, Dukung Aktivitas Lari hingga Basket

Oleh Agustinus Mario Damar pada 02 Feb 2021, 11:30 WIB
Diperbarui 02 Feb 2021, 11:30 WIB
Huawei
Perbesar
Huawei Band 4e yang dipakai saat berolahraga basket. (Foto: Huawei)

Liputan6.com, Jakarta - Huawei kembali memperkenalkan wearable device terbarunya untuk pasar Indonesia. Kali ini, perusahaan asal Tiongkok itu memperkenalkan Huawei Band 4e.

Sesuai namanya, aksesoris ini merupakan smartband untuk mengukur aktivitas olahraga penggunanya. Tidak hanya itu, Huawei Band 4e dapat pula memberikan arahan bagi pengguna untuk berlari yang benar.

"Konsisten dalam berkembang, HUAWEI Band 4e memperkenalkan inovasi two wearing modes di kaki dan pergelangan tangan untuk mendapatkan lebih banyak data," tutur Deputy Country Director Huawei BCG Indonesia, Lo Khing Seng dalam keterangan resmi, Selasa (2/2/2021).

Menurut Lo Khing Seng, Huawei berkolaborasi dengan institusi riset profesional untuk menghadirkan anaisis profil berlari dari pengguna dan dapat memberikan saran berdasarkan data statistik yang dikumpulkan.

Smartband ini dibekali six-axis motion yang dapat mengukur gerakan spasial dan rotasi suatu objek. Saat dipakai dalam mode underfoot, Huawei Band 4e dapat mendukung analisis pada tujuh metrik gerakan berlari.

Berdasarkan data nyata dan metrik, pengguna akan menerima saran yang kredibel berdasarkan analisis data yang dilakukan pada perilaku berlarinya. Akurasi penghitungan jarak lari rata-rata aksesoris ini mencapai 97 persen tanpa GPS.

Selain berlari, Huawei Band 4e juga dapat dimanfaatkan pengguna mendapatkan informasi akurat dalam aktivitas bersepeda. Pengguna juga dapat memanfaatkannya unutk menganalisa performa saat bermain basket.

Huawei Band 4e dibanderol dengan harga Rp 349.000 lewat pre-order pada toko resmi Huawei di Shopee. Sama seperti aksesoris serupa, ada beberapa fitur lain yang ada di perangkat ini, seperti pengukur kualitas tidur, notifikasi pesan/pangggilan, alarm, hingga find my phone.

2 dari 3 halaman

Huawei, Xiaomi, dan 88 Perusahaan Tiongkok Mau Garap Industri Chipset Mandiri

Huawei HQ
Perbesar
Device Laboratory milik Huawei di Beijing, Tiongkok. Liputan6.com/Andina Librianty

Di sisi lain, Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok mengungkap 90 perusahaan mengajukan permohonan untuk membentuk Komite Teknis Standardisasi Sirkuit Terpadu Nasional.

Salah satu fokusnya adalah menggarap industri semikonduktor mandiri. Demikian dikutip dari Gizmochina, Senin (1/2/2021).

Seperti diketahui, industri semikonduktor Tiongkok saat ini menjadi salah satu kelemahan dalam manufaktur elektronik. Bahkan, perusahaan-perusahaan Tiongkok cenderung tergantung pada Amerika Serikat dalam hal teknologi chipset.

Sebut saja Huawei dan ZTE, yang dilarang untuk menggunakan chipset serta teknologi Qualcomm. Akibatnya, bisnis smartphone Huawei bahkan menjadi terancam karena lisensi paten chip yang dimiliki Qualcomm tidak boleh dipakai.

Untuk itulah, 90 perusahaan teknologi Tiongkok ini sepakat untuk bersama-sama menggarap industri semikonduktor mandirinya.

3 dari 3 halaman

Huawei, Xiaomi, dkk Ikut Join

90 perusahaan Tiongkok yang dimaksud mulai dari Huawei, HiSilicon, Xiaomi, Datang Semiconductor, Unichip Microelectronics, Zhanrui Communications, ZTE Microelectronics, SMIC, Datang Mobile, China Mobile, China Unicom, ZTE, Tencent, dan lain-lain.

"Tujuan dari pembentukan komite ini adalah untuk mengkoordinasikan industri yang lemah dan promosi pekerjaan standardisasi sirkuit terpadu. Ini juga bertujuan untuk memperkuat team building terkait standarisasi (industri semikonduktor)," tulis Gizchina.

(Dam/Isk)

Lanjutkan Membaca ↓