Riset: Kehilangan Penciuman Adalah Tanda Terbaik Covid-19

Oleh Mochamad Wahyu Hidayat pada 21 Jan 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 21 Jan 2021, 07:00 WIB
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19
Perbesar
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Riset terbaru menegaskan bahwa sebagian besar pasien infeksi saluran pernapasan dengan gejala kehilangan penciuman disebabkan oleh Covid-19. Ia juga sering mengakibatkan kehilangan indera pengecap dan gejala lainnya di mulut.

Riset yang terbit di jurnal Chemical Senses itu menunjukkan bahwa nilai rata-rata kehilangan indra penciuman adalah 79,7 pada skala 0-100. Ini mengindikasikan kehilangan sensorik yang besar hingga total.

Selain itu, riset ini juga melaporkan bahwa kehilangan penciuman sangat mungkin menjadi prediktor terbaik untuk Covid-19 di antara para pasien dengan gejala penyakit pernapasan.

"Ini menekankan betapa pentingnya untuk mewaspadai gejala [kehilangan penciuman] ini karena ia mungkin satu-satunya gejala penyakit ini," ujar Alexander Wieck Fjaeldstad, profesor di bidang penciuman dan pengecapan di Aarhus University dikutip dari rilis pers via Eurekalert, Kamis (21/1/2021).

Fjaeldstad juga menekankan bahwa hanya sekitar setengah dari pasien dengan kehilangan penciuman, yang indra penciumannya kembali berfungsi setelah empat puluh hari.

"Ini berbeda dari gambaran yang kami lihat pada infeksi virus lain dan menyebabkan ketidaknyamanan jangka panjang bagi pasien, baik dalam kaitannya dengan makanan dan kontak sosial, dan juga pada saat yang sama menyebabkan mereka khawatir," tutur Fjaeldstad lebih lanjut.

Selain kehilangan indera penciuman, indera pengecap pun berkurang secara signifikan, menjadi 69,0 pada skala 0-100. Tak hanya itu, indera pengecap yang tersisa di mulut juga berkurang menjadi 37,3 pada skala 0-100.

 

2 dari 3 halaman

Libatkan 4.500 orang

Riset ini menyertakan lebih dari 4.500 orang yang berasal dari 23 negara yang berbeda di seluruh dunia. Pada praktiknya, riset ini juga melibatkan Global Consortium for Chemosensory Research.

"Riset ini menarik bagi pasien yang menderita kehilangan sensorik serta dokter dan peneliti yang menangani diagnosis dan menindaklanjuti Covid-19. Ini berarti bahwa kehilangan penciuman bersifat spesifik untuk Covid-19, sehingga relevan untuk mengenali infeksi, dan karena itu menunjukkan bahwa indra penciuman terkait erat dengan bagaimana SARS-CoV-2 menginfeksi tubuh," kata Fjaeldstad menegaskan.

 

3 dari 3 halaman

Riset sebelumnya

Sebelumnya, para peneliti telah mendasarkan korelasi antara Covid-19 dan kehilangan indra kimiawi (penciuman dan pengeceapan) pada riset dengan skala lebih kecil. Riset ini mengumpulkan data dalam jumlah lebih besar dari negara-negara di seluruh dunia.

"Kolaborasi dalam proyek juga memerlukan dialog antara peneliti dari seluruh dunia, yang memungkinkan untuk berbagi pengetahuan dan gagasan dalam mempromosikan bidang penelitian ini," tutur Fjaeldstad.

Hasilnya, menurut dia, sejalan dengan riset sebelumnya dan membuka jalan untuk riset masa depan tentang faktor risiko kehilangan sensorik permanen.

Lanjutkan Membaca ↓