4 Tren Strategi Data Perusahaan di Asia Pasifik pada 2021: 5G hingga Etika AI

Oleh Mochamad Wahyu Hidayat pada 18 Jan 2021, 14:45 WIB
Diperbarui 18 Jan 2021, 14:45 WIB
Ilustrasi Server, Cloud Server, Cloud Hosting
Perbesar
Ilustrasi Server, Cloud Server, Cloud Hosting. Kredit: Colossus Cloud via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Cloudera mengumumkan empat tren yang akan mendominasi pada tahun 2021 dan berpotensi berpengaruh terhadap strategi data perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik.

Tren ini meliputi peristiwa data storm yang akan terjadi karena ketersediaan 5G, peningkatan akses ke Machine Learning, peningkatan kebutuhan tata kelola data, dan kebangkitan etika kecerdasan buatan.

"Walaupun tahun ini menyiratkan berbagai ketidakpastian, satu hal yang pasti adalah bahwa data akan terus memainkan peranan yang sangat penting pada tahun 2021 dan tahun-tahun mendatang," tutur Daniel Hand, Field CTO for APJ, Cloudera.

Menurut Daniel, Banyak organisasi dan perusahaan telah memanfaatkan data untuk memperkuat daya tahan bisnis mereka selama setahun terakhir. Selepas itu, kata Daniel, mereka harus menggunakan data untuk mencapai agilitas yang dibutuhkan guna mengatasi disrupsi lainnya di masa depan.

"Untuk melakukan itu, mereka perlu memastikan bahwa strategi datanya betul-betul dapat mengantisipasi empat tren yang bakal mendominasi tahun ini," tutur Daniel.

1. 5G di Asia Pasifik dan data storm

Teknologi 5G akan berdampak pada strategi data perusahaan sebab teknologi ini dapat memberikan konektivitas masif bagi Internet of Things (IoT). Satu jaringan 5G dapat menangani hingga1 juta perangkat terhubung (connected devices) di area seluas 1 kilometer persegi. Oleh sebab itu, perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik yang mengadopsi teknologi IoT harus siap-siap bernavigasi di tengah data storm yang tercipta oleh connected devices itu.

2 dari 4 halaman

2. Peningkatan akses ke Machine Learning

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI), Machine Learning (ML)
Perbesar
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI), Machine Learning (ML). Kredit: Gerd Altmann from Pixabay

Semakin banyak perusahaan menggunakan Machine Learning untuk menghadapi tantangan-tantangan tadi. Namun, banyak di antara mereka yang mengambil pendekatan Machine Learning sedikit demi sedikit alih-alih menyeluruh. Alhasil, mereka sulit menjadi betul-betul menjadi perusahaan yang data-driven.

Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik bisa mengatasi masalah ini dengan mengoperasionalkan Machine Learning secara menyeluruh, bahkan tanpa bantuan dari IT dan tim Data Science. Untuk melakukan ini, mereka perlu memahami, memercayai, dan mengomunikasikan model Machine Learning agar berdampak pada bisnis mereka.

3 dari 4 halaman

3. Tata kelola data

Ilustrasi Data Analyst
Perbesar
Ilustrasi Data Analyst. Kredit: PhotoMIX-Company via Pixabay

Hybrid cloud saat ini sudah menjadi pilihan default bagi kebanyakan perusahaan. IDC memproyeksikan pada 2021 lebih dari 90 persen perusahaan di Asia Pasifik (kecuali Jepang) akan mengandalkan perpaduan antara on-premise/dedicated private cloud, beberapa public cloud, dan platform lama (legacy) untuk menjawab kebutuhan infrastruktur mereka.

Karena data menyebar di seluruh hybrid cloud, sangat penting bagi perusahaan untuk mengamankan dan mengelola data-data itu secara efektif, entah digunakan atau tidak.

Perusahaan yang pengamanan dan tata kelola datanya lemah tak hanya rentan menjadi korban serangan siber dan ancaman lainnya, tapi juga akan kesulitan mematuhi berbagai regulasi seperti peraturan perlindungan data dan kewajiban Know Your Customer (KYC).

 

4 dari 4 halaman

4. AI dan persoalan etika

Ilustrasi Machine Learning, Deep Learning, Artificial Intelligence, Kecerdasan Buatan
Perbesar
Ilustrasi Machine Learning, Deep Learning, Artificial Intelligence, Kecerdasan Buatan. Kredit: Mohamed Hassan via Pixabay

Semakin banyak perusahaan yang menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk menciptakan solusi scalable dapat meningkatkan risiko reputasi, regulasi, dan hukumnya.

Saat ini, wacana seputar etika AI berkisar pada masalah anonimisasi data. Australia, Singapura, dan Korea Selatan sudah memiliki kerangka kerja AI. Sementara pasar lainnya, termasuk India dan Indonesia, sedang menyusun berbagai regulasi dan menetapkan standar nasional untuk inovasi AI pada tahun 2021.

"Kami memperkirakan tren yang sama akan terjadi di Indonesia pada 2021, menyusul berbagai kemajuan yang terjadi di negeri ini," kata Fanly Tanto, Country Manager for Indonesia, Cloudera.

Sebagai contoh, menurut Fanly, 5G akan segera dimulai begitu pemerintah selesai mengalokasikan blok frekuensi 5G kepada tiga operator yang terpilih dalam tender beberapa waktu lalu. Hal ini akan menjadi penyebab lonjakan data dalam jumlah sangat besar sebab 5G akan mendorong IoT dan edge computing.

"Sangat penting bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mampu mengelola data mereka dengan efektif dan mematuhi berbagai regulasi perlindungan data," tutur Fanly.

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Rezekiku dari Offline ke Online