Tragedi yang Mengawali Kedigdayaan Pesawat Terbang

Oleh Liputan6.com pada 15 Jan 2021, 21:37 WIB
Diperbarui 15 Jan 2021, 22:00 WIB
Tragedi Hindenburg
Perbesar
Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman terbang di atas Manhattan pada 6 Mei 1937. (AP)

Liputan6.com, Jakarta - 6 Mei 1937, airship atau kapal udara Hindenburg terbang dari Jerman menuju Amerika Serikat. Tak disangka, penerbangan yang seharusnya mengantarkan era baru perjalanan udara, malah berubah menjadi tragedi yang mengakhiri era kapal udara dan mengawali kedigdayaan pesawat terbang.

Saat itu pukul 07.25 malam, Hindenburg tengah mencoba melakukan pendaratan di Lakehurst Naval Air Station, New Jersey. Tiba-tiba saja api muncul dari bagian luar belakang airship.

Para penumpang langsung mencium bau gas terbakar dari salah satu badan kapal udara itu. Hanya dalam 34 detik saja seluruh bagian kapal udara Hindenburg sudah dilalap api.

Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman meledak di atas Pangkalan Udara Angkatan Laut Lakehurst di New Jersey. (AP)
Perbesar
Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman meledak di atas Pangkalan Udara Angkatan Laut Lakehurst di New Jersey. (AP)

Foto pada 6 Mei 1937 ini diambil hampir sepersekian detik ketika Hindenburg meledak di New Jersey. Kecelakaan itu menjadi bencana teknologi besar pertama yang terekam kamera.

Tragedi Hindenburg juga dianggap sebagai salah satu kecelakaan udara paling ikonik dalam sejarah karena liputan media yang ekstensif.

Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman meledak di atas Pangkalan Udara Angkatan Laut Lakehurst di New Jersey. (Murray Becker/AP)
Perbesar
Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman meledak di atas Pangkalan Udara Angkatan Laut Lakehurst di New Jersey. (Murray Becker/AP)

Hindenburg masih berada di atas ketinggian 300 kaki saat terbakar. Sementara itu, para penumpang dan kru hanya memiliki waktu kurang dari 60 detik untuk menyelamatkan diri.

Tanpa pikir panjang, demi menyelamatkan nyawa masing-masing, para penumpang nekat melompat ke luar jendela dari ketinggian tersebut.

Sementara penumpang lain terjepit furnitur dan orang-orang yang berjatuhan. Para penumpang dan awak lain yang telah terbakar juga melompat saat balon udara telah mendekati tanah.

Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman meledak di atas Pangkalan Udara Angkatan Laut Lakehurst di New Jersey. (AFP)
Perbesar
Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman meledak di atas Pangkalan Udara Angkatan Laut Lakehurst di New Jersey. (AFP)

Dari 97 penumpang dan awak pesawat, 35 orang di antaranya menjadi korban tewas termasuk satu petugas di daratan. Salah satu saksi mata, penyiar radio Herbert Morrison berhasil memberikan liputan eksklusif penuh emosi dan tragis dari lokasi bencana.

Siaran radionya direkam dan diputar ke seluruh dunia dan mengejutkan banyak pihak keesokan harinya. Saat itu, penyebab bencana masih simpang siur dan belum pasti.

Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman meledak di atas Pangkalan Udara Angkatan Laut Lakehurst di New Jersey. (Murray Becker/AP)
Perbesar
Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman meledak di atas Pangkalan Udara Angkatan Laut Lakehurst di New Jersey. (Murray Becker/AP)

Dalam file foto 6 Mei 1937 ini, Hindenburg jatuh ke bumi dengan kobaran api setelah meledak.

76 tahun kemudian, tepatnya Maret 2013, penyebab tragedi tragis kebakaran Hindenburg terungkap. Penyebab kecelakaan balon udara yang menelan 35 korban jiwa itu disebabkan adanya arus listrik yang menghantam badan balon udara.

Menurut tim penyidik yang teruji keahliannya, saat itu balon udara terbang di tengah badai yang memicu hidrogen hingga meledak hebat. Aliran listrik dari badai tersebut menjadi penyebab utama hancurnya salah satu mahakarya dunia itu.

Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman. (AFP)
Perbesar
Airship atau kapal udara Hindenburg buatan Jerman. (AFP)

Foto ini diambil pada Mei 1936, setahun sebelum terbakar di New Jersey. Kapal udara LZ-129 Hindenburg merupakan pesawat terbesar yang pernah dibangun pada saat itu.

Airship yang namanya diambil dari Presiden Jerman Paul von Hindenburg itu menggunakan aluminium, berukuran sepanjang 245 meter, diameter 41 meter, dan mengandung 211.890 meter persegi gas hidrogen dalam 16 kampit atau sel.

Kapal udara LZ-129 Hindenburg mempunyai daya angkut 112 ton, mempunyai empat mesin diesel berkekuatan 1100 tenaga kuda dengan kecepatan 135 kilometer per jam.