Pendiri Signal: Kami Tak Akan Gantikan WhatsApp

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 15 Jan 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 15 Jan 2021, 08:08 WIB
Pendiri WhatsApp Buka-bukaan Soal Akuisisi
Perbesar
Brian Acton (StartX)

Liputan6.com, Jakarta - Pembaruan kebijakan privasi WhatsApp membuat banyak penggunanya beralih ke aplikasi lain dan salah satunya adalah Signal.

Aplikasi pesan terenkripsi ini pun dikabarkan mengalami lonjakan jumlah pengguna selama empat hari terakhir.

Namun, menurut perkiraan pendiri WhatsApp dan Signal Foundation, Brian Acton, Signal tidak akan menggantikan WhatsApp. Demikian dikutip dari Business Insider, Jumat (15/1/2021).

Perlu diketahui, Brian Acton saat ini menjabat sebagai Executive Chairman di Signal Foundation, lembaga yang membantu pengembangan Signal.

Dia jugalah yang membuat WhatsApp. Ia kemudian menjual WhatsApp kepada Facebook pada tahun 2014. Nilai akuisisinya saat itu fantastis, USD 22 miliar atau setara Rp 309 triliun dengan nilai tukar saat ini.

Dalam wawancara dengan Tech Crunch dia mengatakan, kedua aplikasi pesan ini memiliki tujuan berbeda. Oleh karena itu, dia berpendapat, Signal tidak akan menggantikan WhatsApp.

"Saya tidak ingin melakukan berbagai hal yang WhatsApp lakukan," kata Brian Acton, tanpa menyebut fitur WhatsApp apa yang tidak ingin dia hadirkan pada Signal.

Dia pun mengatakan, para pengguna menaruh harapan tinggi pada Signal dalam hal privasi dan keamanan data.

Dalam hal ini, ketika mereka berkomunikasi secara lebih privat dengan keluarga atau teman terdekat. Sementara ketika berkomunikasi dengan orang lain, baik itu teman, kolega kerja, atau kenalan para pengguna akan cenderung memakai WhatsApp.

2 dari 3 halaman

Mau Kasih Opsi untuk Pengguna yang Utamakan Privasi

Signal
Perbesar
Ilustrasi Signal. (Doc: Google Play Store)

"Keinginan saya adalah memberikan pilihan kepada orang-orang. Jadi, bukan karena ingin memenangkan persaingan [dengan WhatsApp]," tutur Brian.

Perlu diketahui, meski membidani kelahiran WhatsApp, dia merupakan kritikus terbesar bagi aplikasi pesan milik Facebook itu. Pada tahun 2018, Brian sempat menyerukan para pengguna Facebook untuk menghapus akun mereka.

Dia meninggalkan WhatsApp pada 2017, tiga tahun setelah aplikasi dengan logo hijau ini diakuisisi oleh Facebook. Dia keluar dari WhatsApp karena perbedaan pandangan seputar penggunaan data pelanggan dan iklan tertarget.

Lalu, pada 2018 Brian Acton mendirikan Signal Foundation dengan CEO Moxie Marlinspike, memakai uang USD 50 juta miliknya sendiri.

Aplikasi Signal pertama dibuat pada 2014. Aplikasi pesan ini berfokus pada privasi dan berkomitmen untuk tidak pernah menjual data pengguna atau menampilkan iklan dalam aplikasi.

WhatsApp pun demikian, masih tidak menampilkan iklan di platformnya. Setelah enam tahun diakuisisi Facebook, pada 6 Januari 2021, WhatsApp mengumumkan telah mengubah kebijakan privasi layanannya dan memaksa pengguna membagikan beberapa data pribadi dengan Facebook.

Pengguna pun terancam kehilangan akses atas WhatsApp pada 8 Februari 2021, jika mereka tidak memberikan persetujuan atas mereka kebijakan privasi tersebut.

3 dari 3 halaman

Berbasis Donasi dari Pengguna, Bukan Jual Data

Signal
Perbesar
Ilustrasi Signal. (Liputan6.com/ Yuslianson)

Gara-gara perubahan kebijakan privasi WhatsApp ini, segelintir penggunanya berbondong pindah ke Signal.

"Langkah kecil (WhatsApp) memicu hasil yang besar," kata Acton.

Signal pun diunduh sebanyak 7,5 juta kali oleh pengguna iOS via App Store dan Android melalui Google Play, sejak 6 hingga 10 Januari 2021. Kenaikan jumlah unduhan Signal mencapai 4.200 persen dibandingkan minggu sebelumnya.

"Kami sangat antusias saat ini kita bicara mengenai privasi online dan keamanan digital, dan banyak orang berpindah ke Signal sebagai jawaban atas privasi dan keamanan online," tutur Brian.

Dia menegaskan, karena Signal didanai dari donasi pengguna alih-alih menjual data pengguna, sebanyak 50 staf Signal pun termotivasi untuk meningkatkan aplikasi ini.

"Ide awalnya adalah, kami ingin mendapatkan donasi. Satu-satunya cara mendapatkan donasi adalah mengembangkan sebuah produk yang inovatif dan menyenangkan," ujar Brian Acton.

(Tin/Why)

Lanjutkan Membaca ↓