Ada Seruan Pindah ke Signal, Apa Benar Lebih Aman dari WhatsApp?

Oleh Agustinus Mario Damar pada 11 Jan 2021, 12:49 WIB
Diperbarui 11 Jan 2021, 17:52 WIB
Aplikasi olah pesan Signal
Perbesar
Aplikasi olah pesan Signal

Liputan6.com, Jakarta - WhatsApp telah mengumumkan kebijakan baru terkait privasi untuk para penggunanya. Perubahan ini lantas direspons sejumlah tokoh seperti Edward Snowden dan CEO SpaceX Elon Musk yang mengajak pengguna beralih dari aplikasi milik Facebook tersebut. 

Keduanya pun sama-sama merekomendasikan aplikasi Signal sebagai pengganti. Lantas, apakah memang aplikasi ini memang menawarkan layanan yang lebih aman dari WhatsApp?

Bagi kamu yang belum mengenal Signal, aplikasi ini sebenarnya sama dengan aplikasi chatting serupa, termasuk fitur yang dimiliknya. Namun aplikasi ini memang menitikberatkan pada keamanan.

Dikutip dari Mashable, Senin (11/1/2021), Signal menggunakan enkripsi end-to-end untuk komunikasi yang dilakukan dalam platform-nya. Bahkan, stiker yang tersedia memiliki enkripsi tersendiri.

Signal juga membuat protokol enkripsi sendiri yang juga digunakan oleh WhatsApp dan Skype. Protokol semacam ini memang disebut sebagai standar emas dalam hal privasi.

Namun tidak hanya itu, Signal juga memungkinkan pengguna menghapus pesan secara otomatis dalam kurun waktu tertentu. Aplikasi ini juga diketahui tidak mengumpulkan data penggunanya.

Satu-satunya informasi yang diberikan pengguna adalah nomor telepon miliknya. Menurut laporan terbaru, perusahaan juga tengah mengembangkan sebuah server khusus kontak yang sudah terenkripsi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Alasan Signal Tidak Kumpulkan Data Pengguna

Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi chatting. (dok. pexels.com/Asnida Riani)

Adapun alasan di balik aplikasi tidak mengumpulkan data pengguna karena Signal merupakan organisasi nirlaba. Karenanya, mereka tidak memiliki alasan untuk melacak pengguna termasuk menghadirkan iklan.

Lantas, aplikasi ini mendapat dana dari mana? Signal disebut mendapat dana dari investor pribadi dan hibah dalam pengembangan layanannya.

Salah satu yang mendonasikan dana untuk layanan Signal adalah pendiri WhatsApp Brian Acton pada 2018. Signal sendiri didirikan oleh sekelompok aktivits yang memang menaruh perhatian pada privasi pengguna.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

WhatsApp Kena Isu Berbagi Data, Snowden Serukan Penggunaan Signal

Snowden: Hindari Dropbox, Facebook dan Google
Perbesar
Pemerintah seharusnya tidak memiliki hak untuk meminta bocoran informasi dari para penyedia layanan berbasis internet.

Pascapemberitahuan kebijakan baru WhatsApp yang membagikan data ke Facebook, banyak pengguna berencana untuk berganti aplikasi olah pesan.

Menanggapi hal ini, mantan kontraktor CIA, Edward Snowden, mengeluarkan seruan untuk memakai aplikasi olah pesan Signal sebagai pengganti WhatsApp.

Hal ini ia sampaikan saat mengutip cuitan orang terkaya di dunia, Elon Musk, sambil menandai akun Twitter milik Signal (@signalapp).

"Thats @signalapp, for those who dont speak, Elon," kata Snowden membalas cuitan Elon.

Snowden yang telah sejak lama menggunakan Signal ini dibanjiri balasan dari pengikutnya. Salah satu dari sekian banyak menanyakan mengapa harus memercayai Signal.

Dia pun mengaku telah menggunakan Signal setiap hari dan hingga saat ini dia aman-aman saja.

"Here's a reason: i use it every day and I'm not dead yet," ujar Snowden.

Berdasarkan label privasi di App Store, Signal sama sekali tidak mencoba mengumpulkan data pengguna.

Satu-satunya data yang dikumpulkan adalah nomor telepon pengguna saat mendaftar, tetapi Signal tak berupaya menghubungkan nomor telepon tersebut dengan identitas pengguna.

Sebelumnya, orang terkaya di dunia, Elon Musk, mengajak para pengguna untuk memakai aplikasi pesan Signal daripada WhatsApp.

Ajakan ini dicuitkan oleh bos Tesla dan SpaceX melalui akun Twitter centang biru @elonmusk.

"Use Signal," cuit Elon Musk, dikutip dari PCMag, Jumat (8/1/2021), setelah WhatsApp memperbarui kebijakan privasinya kemarin, Kamis 7 Januari 2021.

(Dam/Isk)

Lanjutkan Membaca ↓