Gawat, Hacker Bisa Ambil Alih iPhone Kamu dari Jaringan WiFi

Oleh Iskandar pada 05 Des 2020, 08:00 WIB
Diperbarui 05 Des 2020, 08:00 WIB
FOTO: Apple Luncurkan iPhone 12 Berteknologi 5G
Perbesar
Tampilan salah satu seri iPhone 12 yang dilengkapi dengan teknologi 5G sehingga lebih cepat diluncurkan Apple pada Selasa (13/10/2020). Apple meluncurkan seri iPhone 12 yang mendukung teknologi seluler 5G. (Apple via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti dari Google Project Zero telah menemukan cacat pada produk iPhone yang memungkinkan hacker mengambil alih smartphone kamu melalui WiFi.

Yang mengkhawatirkan, jika dieksploitasi, cacat tersebut dapat memungkinkan penjahat siber mencuri email, foto, pesan, atau bahkan mengakses kamera dan mikrofon di smartphone kamu.

Mengutip laman Mirror, Sabtu (5/12/2020), cacat tersebut ditemukan oleh peneliti Google Ian Beer melalui teknologi Apple Wireless Direct Link.

Teknologi ini menggunakan WiFi untuk memungkinkan pengguna mengirim file dan foto antar iPhone melalui AirDrop.

Namun Beer menemukan bug kerusakan memori di kernel iOS, memberikan peluang pada hacker untuk akses jarak jauh ke iPhone melalui WiFi, tanpa perlu interaksi pengguna sama sekali.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sikap Apple

Ilustrasi Apple
Perbesar
Ilustrasi Apple (AP Photo/Mark Lennihan)

Untungnya, Beer tidak menemukan bukti bahwa serangan itu telah dieksploitasi. Apple juga sekarang telah menyelesaikan masalah tersebut.

Niamh Muldoon, Direktur Senior Trust and Security di OneLogin, mengatakan meskipun kemungkinan jenis serangan ini berpeluang rendah untuk digunakan secara luas, itu berfungsi sebagai seruan agar target bernilai tinggi dan konsumen lebih waspada.

"Hanya karena semua data ada di ponselmu sendiri, bukan berarti itu aman," kata Muldoon.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tips Terhindar dari Serangan

Hacker
Perbesar
Ilustrasi hacker (ist.)

Agar terhindar dari serangan hacker, Muldoon menyarankan untuk menjual ponsel lama dengan cara yang aman saat kamu mendapatkan ponsel baru di musim liburan ini.

"Memastikan otentikasi dua faktor diterapkan pada semua aplikasi, termasuk tools dan login, nonaktifkan Bluetooth dan GPS bila memungkinkan, terapkan semua pembaruan dan tambalan saat tersedia," tuturnya.

Ia menilai kepercayaan dan keamanan adalah hubungan bersama antara penyedia teknologi dan individu yang menggunakan teknologi.

"Jadi, kita harus waspada tentang keamanan seperti perusahaan yang menyimpan data kita," pungkasnya.

(Isk/Why)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya