NASA akan Luncurkan Satelit untuk Pantau Kenaikan Permukaan Air Laut

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 23 Nov 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 23 Nov 2020, 16:00 WIB
Satelit NASA untuk memantau kenaikan permukaan air laut
Perbesar
Satelit NASA untuk memantau kenaikan permukaan air laut, Sentinel-9 (Foto: ESA)

Liputan6.com, Jakarta - NASA berencana meluncurkan sebuah satelit baru. Satelit ini akan mengikuti dampak perubahan cuaca pada permukaan laut dan mengumpulkan data, guna meningkatkan akurasi ramalan cuaca.

Satelit ini akan melanjutkan pekerjaan panjang NASA untuk mendokumentasikan adanya peningkatan permukaan laut serta memberikan gambaran lebih tepat mengenai garis pada ilmuwan.

"Pemandangan terbaik untuk (memantau) lautan adalah dari luar angkasa," kata Kepala Sains NASA, Thomas Zurbuchen, seperti dikutip dari The Verge, Senin (23/11/2020).

Adapun satelit yang diluncurkan adalah bernama Sentinel-6 Michael Freiligh. Rencananya satelit ini diluncurkan dari Pangkalan Udara Vandenberg di California AS, menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX.

Satelit tersebut adalah yang pertama dari pasangan satelit yang akan berfokus pada lautan. Kedua satelit ini nantinya bakal memperluas penelitian NASA dan Badan Antariksa Eropa mengenai permukaan laut global sepanjang 10 tahun ke depan. Setelah Sentinel-6, Sentinel-6B akan menyusul lima tahun setelahnya.

Untuk mengukur permukaan laut, satelit ini akan memancarkan sinar elektromagnetik ke lautan dunia, kemudian mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memantul kembali.

2 dari 3 halaman

Pengamatan Lebih Baik dengan Satelit

Daratan Menyatu dengan Laut
Perbesar
Bangunan tempat ibadah berada di perbatasan laut dan daratan di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara, Selasa (30/7/2019). Naiknya permukaan air laut selama bertahun-tahun menyebabkan kawasan tersebut terendam banjir hingga menyatu dengan lautan. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Ketika NASA mulai bekerja melihat kenaikan permukaan laut di tahun 1990-an, para ilmuwan begitu penasaran mengenai prediksi tentang dampak perubahan iklim menjadi kenyataan.

"Pertanyaannya sekarang adalah apa dampak (dari kenaikan permukaan laut) dan apa yang dapat kita lakukan. Itu merupakan sebuah pertanyaan penting bagi kelurga, teman-teman, dan semuanya. Karena hal ini mempengaruhi bagaimana keluarga kami dapat bertahan di masa depan," kata Zurbuchen.

Dengan satelit baru ini, para ilmuwan NASA dapat melakukan pengamatan dengan resolusi tinggi dan lebih dekat ke pantai. Hal ini akan memungkinkan prakiraan cuaca yang lebih tepat, misalnya sebelum badai menghantam.

Ketika badai berkembang di atas laut, satelit dapat menangkap gelembung air yang naik dan memakai informasi itu untuk prakiraan.

3 dari 3 halaman

Bantu Pantau Perubahan Muka Air Laut

Daratan Menyatu dengan Laut
Perbesar
Suasana perbatasan laut dan daratan di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara, Selasa (30/7/2019). Naiknya permukaan air laut selama bertahun-tahun menyebabkan kawasan tersebut terendam banjir hingga menyatu dengan lautan. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Satelit juga bisa membantu pengukuran granular yang bisa dipakai untuk melihat bagaimana perubahan permukaan air laut di dekat garis pantai bisa mempengaruhi navigasi kapal dan penangkapan ikan komersil.

Sekadar informasi, pasang surut kian jauh ke pantai sebagai akibat dari perubahan iklim. Hal itu karena air mengembang ketika Bumi memanas dan karena gletser dan lapisan es dunia mencair.

Air yang merambah membuat banjir dan gelombang badai menjadi kian berbahaya. Hal inipun menenggelamkan seluruh pulau dan komunitas pesisir.

Kondisi ini bahkan telah memaksa orang-orang di Lousiana hingga Papua Nugini meninggalkan tempat tinggalnya dan berpindah ke tempat baru.

(Tin/Why)

 

Lanjutkan Membaca ↓