Facebook, Google dan Twitter Siap Lawan Misinformasi Soal Vaksin Covid-19

Oleh Agustinus Mario Damar pada 21 Nov 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 21 Nov 2020, 18:00 WIB
Kasus Virus Corona Bertambah, Bio Farma Kebut Penemuan Vaksin Anti Covid-19
Perbesar
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Facebook, Twitter, dan Google menyatakan siap melawan misinformasi soal vaksin Covid-19 yang ada di platformnya. Hal itu ditunjukkan lewat kerja sama dengan agensi fact-checker maupun pemerintah di sejumlah negara.

Lewat kerja sama ini, ketiga perusahaan akan berkolaborasi dengan peneliti dan instansi pemerintah di Inggris dan Kanada untuk menciptakan kerangka kerja merespons misinformasi mengenai anti-vaksin di tengah pandemi saat ini.

Dikutip dari Engadget, Sabtu (21/11/2020), upaya ini dilakukan mengingat vaksin Covid-19 diprediksi akan hadir dalam beberapa bulan mendatang dan misinformasi yang beredar dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap temuan tersebut.

“Dengan vaksin corona virus yang berpotensi hadir dalam beberapa bulan mendatang, gelombang informasi baru dapat menurunkan kepercayaan pada ilmu pengobatan saat hal itu benar-benar dibutuhkan,” tulis Full Fact dalam pernyataannya.

Adapun dalam upaya ini, Facebook, Google, dan Twitter akan bekerja sama dengan sejumlah organisasi fact-checker di Amerika Serikat, Inggris, India, Spanyol, Argentina, dan Afrika. 

Di sisi lain, masing-masing perusahaan itu sebenarnya sudah berupaya melawan misinformasi di platformnya selama masa pandemi ini. Salah satunya dilakukan Facebook dengan melarang iklan yang berisi penolakan vaksin.

Sementara itu, YouTube baru-baru ini juga memblokir video yang berisi minformasi soal vaksin Covid-19. Lalu langkah yang dilakukan Twitter adalah mempromosikan informasi kredibel mengenai vaksin dan pandemi.

2 dari 3 halaman

Efektivitas Uji Coba Vaksin Covid-19 Perusahaan AS Capai 94 Persen

Teori Konspirasi Seputar Pandemi Covid-19
Perbesar
Ilustrasi Konspirasi Penemuan Vaksin Covid-19 Credit: pexels.com/Polina

Di sisi lain, perusahaan asal Amerika Serikat, Moderna, baru-baru ini memang mengungkap telah berhasil meraih efektivitas hingga 94 persen untuk vaksin yang tengah diuji coba. 

Dikutip dari BBC, Selasa (17/11/2020), efektivitas vaksin yang dikembangkan Moderna ini bahkan lebih tinggi, yakni sekitar 94,5 persen. Uji coba vaksin ini melibatkan 30 ribu orang di Amerika Serikat.

Setengah dari peserta uji coba diberi dua dosis vaksin dengan jarak empat pekan, sementara sisanya mendapatkan vaksin dummy. Adapun Analisis efektivitas ini didasarkan pada 95 orang pertama yang diketahui memiliki gejala Covid-19.

"Secara keseluruhan, efektivitasnya sangat luar biasa," tutur Chief Medical Officer, Tal Zaks. 

Perusahaan menargetkan dapat menyediakan 20 juta dosis vaksin Covid-19 untuk Amerika Serikat. Sementara untuk seluruh dunia, perusahaan berharap dapat menyediakan hingga 1 miliar dosis, sekaligus meminta persetujuan negara yang bersangkutan.

3 dari 3 halaman

Hore, Vaksin Covid-19 dari Perusahaan Ini Dianggap 90 Persen Efektif

Sebelumnya, perusahaan medis lain, Pfizer dan BioNTech belum lama ini mengumumkan vaksin Covid-19 mereka 90 persen efektif.

Tingkat efektivitas hingga 90 persen ini dianggap sangat baik dibandingkan dengan yang diharapkan oleh para ahli.

Pasalnya, sejumlah AS Food and Drug Administration (FDA) menyebut mereka akan dengan senang hati memberikan persetujuan pada vaksin dengan tingkat efektivitas 50 persen.

Dengan begitu, jika ada vaksin dengan tingkat efektivitas hingga 90 persen tentu sangatlah membanggakan.

"Ini adalah hari yang baik bagi ilmu pengetahuan dan humanitas. Kumpulan hasil pertama dari uji coba vaksin Covid-19 fase 3 kami memberi bukti awal tentang kemampuan vaksin kami mencegah Covid-19," kata Chairman sekaligus CEO Pfizer, Dr Albert Bourla, dalam pernyataannya, seperti dikutip dari Ubergizmo, Selasa (10/11/2020).

"Kami mencapai tonggak penting ini dalam program pengembangan vaksin kami, di saat dunia sedang membutuhkannya. Apalagi tingkat infeksi mencatat rekor baru, rumah sakit hampir kelebihan kapasitas, dan ekonomi tengah berjuang untuk pulih," kata Bourla.

(Dam/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓