5 Fenomena Astronomi yang Terjadi Pekan Kedua September, Apa Saja?

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 10 Sep 2020, 07:00 WIB
Diperbarui 10 Sep 2020, 07:00 WIB
Fenomena Astronomi Indah di Langit Slovakia
Perbesar
Cahaya bintang berwarna putih terlihat pada langit malam di Hajnacka, Slovakia, Kamis (7/2). Fenomena astronomi indah ini paling jelas terlihat pada bulan Februari dan Maret setelah matahari terbenam. (Peter Komka/MTI via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Dalam sepekan mendatang, tepatnya pekan kedua September 2020, langit akan mengalami sejumlah fenomena astronomi.

Pusat Sains Antariksa LAPAN dalam akun Instagram-nya, @pussainsa_lapan, mengumumkan akan ada 5 fenomena astronomi akan terjadi di langit dan bisa dinikmati.

Fenomena astronomi ini bisa dinikmati pada 9-15 September 2020, apa saja?

 

1. Fase Perbani Akhir, 10 September

Fase perbani akhir terjadi 10 September 2020 pada 16.25 WIB. Saat fenomena ini terjadi, Bulan berjarak 396.196Km dari Bumi (geosentris) dan terletak pada konstelasi Taurus, dekat manzilah Aldebaran.

Saat fenomena ini, Bulan akan terbit di sekitar tengah malam dari arah Timur-Timur Laut, kemudian berkulminasi di arah Utara menjelang terbit Matahari dan terbenam dari arah Barat-Barat Laut menjelang tengah hari.

2 dari 5 halaman

2. Retrograde Mars, 10 September

Planet Mars (NASA).
Perbesar
Planet Mars (NASA).

Fenomena kedua adalah Retrograde Mars yang terjadi 10 September 2020. Retrograde adalah gerak semu planet yang tampak berlawanan arah dari timur ke barat dibandingkan dengan gerak normalnya dari barat ke timur, jika diamati dari Bumi.

Retrograde Mars dimulai 10 September 2020 pukul 05.23 WIB dan berakhir 14 November 2020 pukul 07.36 WIB. Dengan begitu, retrograde Mars berlangsung selama 65 hari.

Puncak dari retrograde Mars adalah Oposisi Mars, yakni ketika seluruh permukaan Mars yang menghadap Bumi terkena sinar Matahari, sehingga akan tampak lebih terang.

Oposisi Mars tahun ini terjadi tanggal 14 Oktober 2020. Retrograde Mars dapat diamati pada konstelasi Pisces. Sementara, Retrograde Mars berikutnya akan terjadi 2 tahun mendatang, pada 30 Oktober 2022.

3 dari 5 halaman

3. Deklinasi Maksimum Utara Bulan, 12 September

Ilustrasi memotret bulan dengan kamera Samsung Galaxy S20 Ultra
Perbesar
Ilustrasi memotret bulan dengan kamera Samsung Galaxy S20 Ultra. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Pada 12 September, terjadi deklinasi maksimum utara Bulan, di mana, Bulan terletak pada posisi paling utara dari ekuator langit.

Fenomena ini akan terjadi pukul 12.25 WIB dengan jarak geosentris 386.421Km, iluminasi 31,88 persen dan lebar sudut 9,9 menit busur.

Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3 derajat hingga 28,6 derajat. Bulan berada di arah Utara ketika kulminasi yang terjadi satu jam setelah terbit Matahari (sekitar pukul 07.00 WIB) dan terletak di konstelasi Gemini dan berada di atas ufuk, sejak pukul 01.15 WIB hingga 12.45 WIB dari arah Timur-Timur Laut hingga Barat-Barat Laut.

4 dari 5 halaman

4. Oposisi Neptunus, 12 September

Planet Neptunus.
Perbesar
Planet Neptunus. (iStockphoto)

Fenomena selanjutnya adalah Oposisi Neptunus, yakni konfigurasi ketika Matahari, Bumi, dan Neptunus tampak segaris lurus dan Neptunus terletak pada posisi berlawanan arah terhadap Matahari.

Saat fenomena ini, Neptunus akan berada di atas ufuk mulai pukul 19.00 WIB hingga 04.30 WIB keesokan harinya dan berkulminasi menjelang tengah malam di dekat Zenit.

Neptunus dapat ditemukan di konstelasi Aquarius.

"Pastikan cuaca cerah dan bebas dari polusi cahaya maupun penghalang lainnya agar dapat menyaksikan titik biru pucat ini," tulis Pussainsa Lapan.

 

5 dari 5 halaman

5. Tripel Konjungsi Bulan Venus-Beehive, 14 September

ilustrasi planet Venus.
Perbesar
ilustrasi planet Venus. (iStockphoto)

Fenomena lain adalah Tripel Konjungsi Bulan-Venus-Beehive, yang dapat diamati sejak pukul 03.30 WIB hingga 05.30 WIB dari arah Timur-Timur Laut.

Gugus Beehive atas sarang lebah merupakan gugus bintang terbuka yang terletak di konstelasi Cancer. Gugus bintang ini terdiri dari 50-100 bintang dan dikenal sebagai Paresepe atau Manger.

Dalam sistem manzilah Arab, Beehive disebut sebagai manzilah an-Natsrah yang berarti hidung singa. Gugus Beehive memiliki magnitudo visual +3 sehingga dapat terlihat dengan mata telanjang jika kondisi langit cerah dan bebas dari polusi udara.

(Tin/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Ketika Bisnis dan Beramal Bersatu