Telegram Siapkan Layanan Group Video Call di Tahun Ini

Oleh Agustinus Mario Damar pada 26 Apr 2020, 12:00 WIB
Diperbarui 26 Apr 2020, 12:00 WIB
Telegram
Perbesar
Telegram versi web diblokir. (Doc: TechCrunch)

Liputan6.com, Jakarta - Popularitas layanan video call tidak dimungkiri tengah naik di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Hal ini tidak lepas dari imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, termasuk bertemu dengan orang lain.

Oleh sebab itu, dalam beberapa bulan terakhir, banyak penyedia layanan video call berlomba-lomba meningkatkannya layanannya. Salah satu yang diketahui akan melakukan hal tersebut adalah Telegram.

Saat ini, aplikasi aplikasi asal Rusia itu memang memiliki layanan video call. Namun dengan  kebutuhan video call yang terus meningkat, Telegram akhirnya berencana untuk fitur tersebut di aplikasinya.

"Video call di 2020 sama seperti aplikasi olah pesan di 2013. Namun, hanya ada dua pilihan, aman atau nyaman, tidak keduanya. Untuk itu, kami ingin mengatasi hal tersebut, dan fokus menghadirkan layanan group video call yang terjamin di 2020," tulis perusahaan seperti dikutip dari blog-nya, Minggu (26/4/2020).

Sayang, Telegram tidak menyebutkan lebih lanjut tentang rencananya tersebut. Karenanya, informasi mengenai jumlah anggota atau seperti apa kemampuan video call ini, masih perlu menunggu pengumuman resmi dari perusahaan.

Sebagai informasi, pengumuman fitur baru ini sebenarnya dilakukan bersamaan dengan capaian yang diperoleh Telegram hingga sekarang. Menurut data terbaru, aplikasi ini sudah memiliki 400 juta pengguna aktif bulanan, naik dari tahun lalu sebesar 300 juta.

Selain itu, setiap hari setidaknya ada 1,5 juta pengguna baru yang mendaftar di Telegram. Berbekal hal tersebut, Telegram pun menjadi aplikasi media sosial nomor satu yang paling banyak diunduh di lebih dari 20 negara.

2 dari 3 halaman

Telegram Rilis Sejumlah Inisiatif untuk Sebar Informasi Terpercaya Soal Covid-19

Logo Aplikasi Telegram
Perbesar
Logo Aplikasi Telegram

Telegram baru saja mengumumkan sejumlah inisiatif untuk mendukung penyebaran informasi yang benar mengenai Covid-19 di aplikasi. Hal itu ditunjukkan dengan meningkatkan kemampuan Telegram Channel yang dimilikinya.

Adapun cara yang dimaksud adalah menyediakan Telegram Channel yang berasal dari sumber terpercaya dan resmi. Salah satu yang dilakukan adalah verifikasi Channel resmi yang diperbarui.

Dikutip dari blog Telegram, Senin (6/4/2020), Telegram kini mempermudah akses untuk instansi atau media yang ingin memperoleh verifikasi di platformnya.

Jadi, kini instansi atau media yang sudah terverifikasi di media sosial lain, tinggal mengontak akun @VerifyBot untuk mendapatkan lencang biru.

"Untuk membantu pengguna membedakan sumber terpercaya dan berita palsu, kami meluncurkan proses verifikasi yang lebih efisien mulai sekarang," tulis perusahaan.

Tidak hanya itu, Telegram juga akan mengirimkan notifikasi ke seluruh pengguna di negara yang sudah memiliki akun resmi di platformnya. Untuk itu, aplikasi asal Rusia ini membuka kesempatan untuk otoritas negara bergabung.

Telegram juga menghadirkan kanal khusus untuk dimunculkan sebagai teratas dari pencarian keyword yang berhubungan dengan virus corona. Kanal ini berisi sumber resmi sejumlah Kementerian Kesehatan sejumlah negara.

3 dari 3 halaman

Bos Telegram: WhatsApp Itu Berbahaya

[Bintang] Begini Penampilan Keren Bos Telegram Saat Mampir ke Indonesia
Perbesar
Bos Telegram, Pavel Durov menyambangi kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Selasa (1/8/2017). (Foto: Liputan6.com/Angga Yuniar)

Terlepas dari fitur anyar tersebut, rivalitas Telegram dan WhatsApp sendiri masih kental. Bahkan, bos sekaligus pendiri Telegram Pavel Durov menyebut WhatsApp sebagai aplikasi berbahaya.

Hal ini diumumkan oleh Durov dalam sebuah unggahan blog yang kemudian dibagikan kepada followers akun Telegram-nya.

Mengutip laman Digital Trends, Durov menuding WhatsApp patut disalahkan dan harus memperbaiki diri. Ia juga mengatakan, fitur enkripsi end-to-end yang digembar gemborkan WhatsApp tidak berguna.

Pria asal Rusia ini menyebut, fitur enkripsi dinilai tidak bisa melindungi keamanan pengguna dari peretasan.

"WhatsApp memakai kata-kata enkripsi end-to-end sebagai mantra ajaib yang seharusnya membuat komunikasi aman. Namun, teknologi ini bukan peluru yang menjamin privasi pengguna dengan sendirinya," kata Durov.

Terpenting, Durov mengklaim bahwa bug keamanan pada WhatsApp menciptakan backdoor yang sengaja ada untuk mematuhi dan menenangkan lembaga penegak hukum.

Dengan begitu, kata Durov, jejaring sosial ini bisa melakukan bisnis tanpa gangguan di Iran dan Rusia.

(Dam/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓