Facebook Blokir Iklan Menyesatkan soal Virus Corona

Oleh Andina Librianty pada 27 Feb 2020, 12:30 WIB
Diperbarui 27 Feb 2020, 12:30 WIB
Petugas Medis Tangani Pasien Virus Corona di Ruang ICU RS Wuhan
Perbesar
Han Yi (belakang), petugas medis dari Provinsi Jiangsu, bekerja di sebuah bangsal ICU Rumah Sakit Pertama Kota Wuhan di Wuhan, 22 Februari 2020. Tenaga medis dari seluruh China telah mengerahkan upaya terbaik mereka untuk mengobati para pasien COVID-19 di rumah sakit itu. (Xinhua/Xiao Yijiu)

Liputan6.com, Jakarta - Facebook mengungkapkan akan melarang iklan untuk produk yang menawarkan penyembuhan, atau pencegahan terkait penyebaran virus Corona. Begitu pula terhadap akun yang dinilai menciptakan rasa urgensi.

Dilansir dari Reuters, Kamis (27/2/2020), kebijakan Facebook itu diumumkan di saat perusahaan juga sedang menghadapi tekanan terhadap jenis konten yang diunggah di layanannya. Hal ini secara khusus terkait konten yang mencerminkan ideologi ekstrem dan berita palsu.

"Iklan dengan klaim seperti 'masker wajah 100 persen dijamin mencegah penyebaran virus' tidak akan diizinkan," kata juru bicara Facebook.

Facebook pada bulan lalu mengatakan, akan menghapus konten tentang virus Corona dengan klaim palsu atau teori konspirasi yang telah ditandai oleh organisasi kesehatan global terkemuka dan otoritas kesehatan. Perusahaan seperti TikTok dan Pinterest juga melakukan hal serupa.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Selasa lalu memperingatkan warganya untuk mulai bersiap menghadapi penyebaran virus Corona di negara tersebut. Imbauan ini disampaikan setelah virus itu menyebar di beberapa negara.

2 dari 2 halaman

Mark Zuckerberg Ingin Konten Online Punya Sistem Khusus

Facebook
Perbesar
CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo/Jeff Chiu)(AP Photo/Paul Sakuma, File)

Lebih lanjut, CEO Facebook, Mark Zuckerberg, sebelumnya mengatakan konten online seharusnya diatur dengan sebuah sistem di antara aturan yang sudah ada untuk industri telekomunikasi dan media. Hal ini disampaikannya dalam acara Munich Security Conference di Jerman pada Sabtu (15/2/2020).

"Saya pikir harus ada regulasi untuk konten berbahaya. Ada pertanyaan tentang kerangka kerja mana yang digunakan untuk hal ini," ungkap Zuckerberg.

Menurut Zuckerberg, saat ini kerangka kerja untuk industri-industri yang sudah ada seperti surat kabar dan media-media lain, serta telekomunikasi. Ia menyebut ada data yang mengalir melalui saluran telekomunikasi, tapi perusahaan telekomunikasi tidak akan bertanggungjawab jika ada seseorang mengatakan hal yang berbahaya melalui sambungan telepon.

"Saya pikir kita (konten online) seharusnya ada di antara itu," jelas Zuckerberg seperti dilansir Reuters, Selasa (18/2/2020).

Zuckerberg mengatakan, Facebook saat ini memiliki 35 ribu karyawan untuk meninjau konten online, dan mengimplementasikan langkah-langkah keamanan. Tim tersebut dan teknologi Facebook telah menangguhkan lebih dari satu juta akun palsu setiap hari.

Menurut Zuckerberg, sebagian besar akun tersebut terdeteksi dalam beberapa menit setelah mendaftar.

"Anggaran kami saat ini lebih besar daripada seluruh pendapatan perusahaan ketika go public pada 2012, ketika kami memiliki satu miliar pengguna. Saya bangga dengan hasilnya, tapi kami tetap waspada," jelasnya.

(Din/Why)

Lanjutkan Membaca ↓