Permintaan Akan Full Stack Developer di Indonesia Tinggi

Oleh Mochamad Wahyu Hidayat pada 18 Feb 2020, 15:37 WIB
Diperbarui 18 Feb 2020, 15:37 WIB
Ilustrasi developer, full stack developer, programmer.

Liputan6.com, Jakarta - Hingga tahun 2030, Indonesia disebut membutuhkan 17 juta orang pekerja di bidang ekonomi digital. Hal ini selaras dengan peningkatan jumlah perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan di bidang TIK, termasuk startup.

Menurut laporan Startup Ranking, ada sekitar 2.000-an startup di Indonesia. Dengan demikian, Indonesia menempati posisi kelima sebagai negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia setelah Kanada, Inggris, India, dan Amerika Serikat.

Dampak lain dari hal ini antara lain permintaan tinggi akan kebutuhan akan Full Stack Developer kompeten yang dapat bekerja baik sebagai front-end maupun back-end developer. Namun, permintaan tinggi ini tidak berbanding lurus dengan ketersediaan SDM mumpuni di bidang tersebut.

"Di era digital dan keterbatasan talenta di bidang IT, banyak startup yang sudah mulai mencari talenta bahkan sebelum mereka lulus kuliah," ujar Bukhari Mardius, CEO dari GreenHCM, startup di bidang Human Capital Management kepada Tekno Liputan6.com, Selasa (18/2/2020).

Bukhari menyoroti beberapa kendala yang dia temukan pada calon kandidat Full Stack Developer, terutama mereka yang baru lulus. 

"Rata-rata apa yang diajarkan pada saat kuliah tidak sama dengan yang diimplementasikan, terutama pada industri startup. Kemampuan memecahkan masalah, menghadapi tantangan, pembelajar yang cepat, dan juga mau belajar hal baru pada teknologi, itu yang dibutuhkan startup," tutur Bukhari.

Hal serupa dialami oleh Alfred Boediman, Managing Director Samsung Research Indonesia, ketika mencari SDM berbakat. Alfred mengaku biasa memantau GitHub atau Stack Overflow untuk mencari kandidat software engineer kompeten. Namun dia menyebut pengalaman, pelatihan, dan semangat juga berperan penting supaya mereka terbiasa dengan pekerjaannya.

2 dari 3 halaman

Mentor pendamping

Ruddy Salahudin dan Novistiar Rustandi
Ruddy Salahudin, Deputi Kemenko Perekonomian (kiri) bersama Novistiar Rustandi, CEO HARUKAEDU (kanan) membuka secara resmi Pintaria SUPER30

Dalam rangka menghadapi tantangan tersebut, Pintaria menawarkan solusi bagi anak muda Indonesia yang ingin meniti karier di sektor TIK. Mengusung nama Pintaria SUPER30, program yang telah diresmikan oleh Dr. Rudy Salahuddin, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Daya Saing Koperasi & UKM, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI ini membuka peluang beasiswa pelatihan kursus Full Stack Developer dan peluang kerja.

Guna mendampingi para peserta, Pintaria menggandeng tokoh-tokoh IT berpengalaman sebagai SUPERmentor. Mereka antara lain Alfred Boediman, Managing Director Samsung Research Indonesia, Endy Lambey, CIO GetPlus, Erga Munggaran, CTO HarukaEDU, Natali Ardianto, Co-founder & CEO ITMI (Co-founder Tiket.com), On Lee, CTO GDP Venture, Risman Adnan, Director at Samsung R&D Institute Indonesia, dan William Notowidagdo, Head of Engineering Ralali.com.

60 peserta yang tersaring di seleksi awal Pintaria SUPER30 akan menjalankan komitmennya untuk belajar intensif Full Stack Developer secara online selama 6 bulan. Setiap bulan ada proses eliminasi hingga menghasilkan 30 peserta terbaik di akhir program.

Mereka kemudian akan direkrut untuk bekerja sebagai Junior Full Stack Developer di mitra program ini, antara lain Bank Mandiri, BFI Finance, Kompas.com, IDN Times, Getplus Indonesia, dan masih banyak lagi.

3 dari 3 halaman

Pendaftaran

Ilustrasi Programming, Coding, Progammer, Coder. Kredit: Picjumbo via Freepik
Ilustrasi Programming, Coding, Progammer, Coder. Kredit: Picjumbo via Freepik

"Motivation, passion, and fun. Bill Gates bahkan pernah mengatakan bahwa komputer lahir untuk memecahkan masalah yang belum ada sebelumnya. Jadi ayo kita buat acara ini sukses bersama-sama," kata Alfred Boediman menyampaikan komentarnya mengenai program ini.

SUPERmentor lainnya, On Lee yang merupakan CTO di GDP Venture, juga menyampaikan harapan dan optimismenya.

"Indonesia membutuhkan talenta muda berbakat untuk membawa dunia digital dan teknologi Indonesia semakin maju. Kini belajar Full Stack Developer juga lebih mudah karena adanya teknologi online learning serta ajang ini," tutur On Lee yang berpengalaman lebih dari 30 tahun menjadi praktisi IT di Silicon Valley, Amerika Serikat.

Program pintaria SUPER30 dapat diikuti secara online (live session) oleh mereka yang telah lulus dari SMA/SMK sederajat atau Perguruan Tinggi. Mereka harus berusia minimal 18 tahun.

Selain peluang kerja, mereka yang belum bergelar sarjana akan mendapatkan beasiswa penuh untuk menempuh kuliah S1 Teknologi Informasi atau Sistem Informasi di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) dengan metode blended learning, sehingga mereka dapat kuliah sambil bekerja.

Pintaria mengklaim satu pekan setelah pembukaan pendaftaran di super30.pintaria.com, ribuan orang telah mendaftar. Pendaftaran ditutup tanggal 23 Februari 2020.

(Why/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓