TikTok Tepis Kabar IPO

Oleh Mochamad Wahyu Hidayat pada 29 Okt 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 30 Okt 2019, 05:16 WIB
Ilustrasi TikTok

Liputan6.com, Jakarta - Rumor tentang rencana IPO dari ByteDance, perusahaan di balik jejaring sosial berbasis video TikTok, terkonfirmasi. ByteDance menyebut bahwa saat ini perusahaan tidak berencana untuk melantai ke bursa saham.

"Sama sekali tidak benar bahwa kami akan melantai ke bursa saham di Hong Kong pada kuartal pertama 2020," kata juru bicara ByteDance, dikutip dari Tech Crunch, Selasa (29/10/2019).

Adapun pernyataan ini merupakan tanggapan atas laporan The Financial Times yang menyebut bahwa ByteDance sedang menyiapkan rencana untuk melantai ke bursa saham.

Laporan itu juga mengatakan ByteDance menggandeng firma hukum K&L Gates dan menetapkan seorang Chief Legal Officer.

Rumor ini bermula pada tahun lalu ketika perusahaan meraih pendanaan sekitar USD 3 miliar dan valuasinya menyentuh angka USD 75 hingga 78 miliar dolar.

2 dari 3 halaman

Bos Facebook Kritik TikTok Gara-Gara Sensor Konten

CEO Facebook Mark Zuckerberg sempat menyinggung jejaring sosial berbasis video TikTok. Belum lama ini, dalam sebuah acara Zuckerberg mengkritik TikTok yang melakukan sensor konten tak hanya di Tiongkok, tetapi juga Amerika Serikat.

Mengutip laman Tech Times, Selasa (29/10/2019), Zuck menekankan konten-konten TikTok yang disensor adalah konten yang tidak mencitrakan pemerintah Tiongkok secara positif, termasuk mengenai konten yang berlangsung di Hong Kong.

"Layanan milik kami, seperti WhatsApp, digunakan oleh pengunjuk rasa dan aktivis di mana-mana karena perlindungan enkripsi dan privasi. Namun, aplikasi TikTok yang pertumbuhannya begitu tinggi di seluruh dunia, justru menyebutkan aksi protes di Hong Kong telah disensor, bahkan di AS," kata Zuckerberg.

3 dari 3 halaman

Ancaman Kebebasan Berpendapat

Sementara media lainnya, The Guardian mengungkapkan bahwa TikTok menginstruksikan moderator untuk menghapuskan penggunaan kata "Lapangan Tiananmen", kemerdekaan Tibet, dan kelompok Falun Gong.

Zuckerberg berpendapat, Tiongkok merupakan ancaman besar bagi kebebasan berbicara.

"Sampai saat ini, internet di hampir tiap negara di luar Tiongkok telah ditentukan oleh platform Amerika dengan ekspresi kebebasan yang kuat," katanya.

Sementara, satu dekade yang lalu, hampir semua platform internet utama adalah dari Amerika. Hari ini, 6 dari 10 aplikasi adalah milik Tiongkok.

Zuckerberg juga menyiratkan Facebook tak lagi mencoba memasuki Tiongkok. Pasalnya situs media sosial ini sudah dilarang di Tiongkok sejak 2009.

(Why/Isk)

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait