Tantangan Tim JD.ID HSL untuk Masukkan Esports ke Kurikulum Sekolah

Oleh Yuslianson pada 18 Okt 2019, 09:00 WIB
JD.ID HSL

Liputan6.com, Jakarta - Liga esports antarsekolah menengah atas (dan sederajat) se-Indonesia, atau lebih dikenal dengan JD.ID High School League (JD.ID HSL), memasuki musim kompetisi ke-2 pada tahun ini.

Pada musim ini, tim HSL berkomitmen membangun prestasi dunia esports Indonesia masa depan dengan melibatkan dunia pendidikan (guru, siswa, dan orang tua murid).

Tak hanya itu, mereka juga ingin mengukuhkan diri sebagai liga yang semakin diterima dan diminati oleh dunia pendidikan formal.

"Minat dunia pendidikan untuk berkompetisi di JD.ID HSL menunjukkan tren yang terus meningkat. Jika musim lalu hanya diikuti 223 tim esports SMA/SMK, jumlah tim esports yang berpartisipasi di musim kedua meningkat menjadi 298," tutur Christian Suryadi, Business Development Director, JD.ID HSL.

Mendapatkan tanggapan positif dari dunia pendidikan Tanah Air, kini tim HSL dihadapkan pada tantangan untuk memasukkan esports ke dalam kurikulum sekolah.

"Kita memang saat ini sedang menyasar supaya esports (menjadi) eligible (layak) masuk ke dalam kurikulum sekolah, tapi (ada) kesulitan menghubungi pihak Kemendikbud atau tim yang terkait," ujar Christian.

Selain pihak pemerintah, Christian juga sempat bingung perihal asosiasi mana yang bisa dikontak untuk membantu mengembangkan HSL ini.

"Kita sangat terbuka bilamana ada pihak dari asosiasi esports (IESPA, FEI, dan AVGI) Indonesia yang tertarik mengembangkan HSL ini. Namun harus diingat, kita berdiri netral dan memposisikan di dunia pendidikan, bukan mengambil untung," kata Christian, 

2 of 4

Musim ke-2 JD.ID HSL 2019

Henry Yacob, Head of Gaming and Computer Accesories JD.ID (kanan) dan Christian Suryadi, Business Development Director JD.ID HSL (kiri). (Liputan6.com/ Ysl)

Sebagai nformasi, di musim kedua turnamen JD.ID HSL 2019 sudah ada 16 tim esports yang telah lolos dari kualifikasi sebelumnya (tim penghuni SERI A).

Setelah itu, 124 tim yang mengikuti kualifikasi kompetisi DOTA 2 musim ini dan 158 tim mengikuti kompetisi eksibisi PUBG Mobile.

"Mereka berasal dari 71 kota di seluruh Indonesia dan tim paling jauh adalah tim esports SMA Mandala Triloka Papua," kata Christian. 

3 of 4

Membangun Konsistensi Prestasi Tim Sekolah

Kisah Heroisme Tim Esports SMA Marsudirini Bekasi untuk Sekolahnya. (Doc: HSL)

Berkaca pada kompetisi musim sebelumnya, konsistensi mempertahankan prestasi yang berhasil diraih di sesi sebelumnya masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh kebanyakan tim esports SMA/SMK.

"Kami berharap, prestasi konsisten yang mampu diraih oleh SMA Marsudirini Bekasi dapat menjadi inspirasi dan studi kasus menarik bagi tim-tim lain," tutur Christian menambahkan.

Pada JD.ID HSL 2019 musim kompetisi kedua ini, SMA Marsudirini Bekasi menjadi unggulan utama untuk kategori DOTA 2 dan harus bersiap menerima tantangan dari tim-tim esports tangguh penghuni SERI A lainnya, serta 4 tim baru yang berhasil lolos dari kualifikasi DOTA 2 yang diikuti oleh 124 Tim.

Salah satu peraturan unik JD.ID HSL yang terus dipertahankan adalah tata cara pendaftaran dan pertandingan.

"Tim peserta yang ingin turut serta harus mendapatkan persetujuan resmi terlebih dulu dari pihak sekolah. Ketika bertanding, dari babak kualifikasi hingga final, mereka wajib didampingi guru pembina," imbuh Christian.

4 of 4

Uang Hadiah Turnamen

Babak final JD.ID HSL 2018 digelar hari ini. (Doc: HSL)

Adapun total hadiah yang diperebutkan untuk JD.ID HSL 2019 musim kompetisi ke-2 ini adalah sebesar Rp410.000.000.

Hadiah berupa beasiswa akan disalurkan ke tim esports sekolah yang menjadi pemenang.

Pihak penyelenggara dan sponsor berharap hadiah ini nantinya dapat digunakan pihak sekolah untuk memajukan esports di lingkungannya.

(Ysl/Why)

Lanjutkan Membaca ↓