Prancis dan Jerman Sepakat Tolak Mata Uang Libra

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 17 Sep 2019, 09:00 WIB
Libra

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Prancis dan Jerman sepakat untuk menolak mata uang kripto (cryptocurrency) Libra milik Facebook. Demikian diungkapkan oleh menteri keuangan Prancis, beberapa hari lalu.

Dalam pernyataan bersaama, pemerintah Prancis dan Jerman menyebutkan, "Tidak ada entitas swasta yang bisa mengklaim kekuatan moneter, yang melekat pada kedaulatan bangsa."

Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire mengatakan, mata uang kripto milik Facebook tidak boleh diberi izin untuk beroperasi di Eropa.

Hal ini mengingat adanya kekhawatiran tentang kedaulatan dan risiko keuangan yang persisten. Tulis Reuters, yang dikutip Selasa (17/9/2019). 

Terpisah, regulator global sepakat untuk menanyai Facebook mengenai mata uang kripto Libra. Hal ini dilakukan di tengah kekhawatiran dari pemerintah Uni Eropa atas ancaman mata uang digital terhadap stabilitas keuangan wilayahnya.

2 of 3

Bertemu dengan Perwakilan Libra

Mata uang digital Libra garapan Facebook
Mata uang digital Libra garapan Facebook

Reuters melaporkan, pejabat dari 26 bank sentral termasuk bang sentral AS Federal Reserve US dan Bank of England bertemu dengan perwakilan Libra di Basel.

Bukan hanya itu, pendiri Libra juga diundang dalam pertemuan tersebut untuk menjawab sejumlah pertanyaan mengenai mata cakupan mata uang kripto Libra hingga desainnya.

Facebook tak segera memberikan jawaban mengenai pertanyaan Reuters. Sebelumnya, sejumlah negara di Eropa juga menolak kehadiran Libra karena dianggap bisa memberikan risiko untuk keuangan Uni Eropa.

3 of 3

Komitmen Libra

Ilustrasi Facebook
Ilustrasi Facebook (iStockPhoto)

Menanggapi pernyataan Bruno, kepala kebijakan dan komunikasi untuk Libra Association, Dante Disparte, mengatakan akan berkomitmen untuk bekerja sama dengan pihak berwenang.

"Komentar hari ini dari menteri ekonomi dan keuangan Perancis lebih jauh menggarisbawahi pentingnya proyek kami yang sedang berlangsung dengan lembaga dan pimpinan pengatur di seluruh dunia," ujar Dante.

(Tin/Why)

Lanjutkan Membaca ↓