Menkominfo Tepis Kabar Pembatasan SMS dan Telepon di Papua

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 29 Agu 2019, 23:56 WIB
Menkominfo Rudiantara di Seminar Konsolidasi untuk Sehatkan Industri Telekomunikasi. Dok: Indonesia Technology Forum

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) akhirnya memberikan pernyataan terkait dengan padamnya akses SMS dan telepon di Papua.

Dalam pernyataan resmi yang diterima Tekno Liputan6.com, Rabu (29/8/2019) malam, Menkominfo Rudiantara menepis kabar mengenai pembatasan layanan SMS dan telepon.

"Kebijakan pemerintah hanya melakukan pembatasan atas layanan data atau tidak ada kebijakan blackout. Sementara layanan suara serta SMS tetap difungsikan," kata Rudiantara dalam keterangannya.

Menkominfo pun menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi di Jayapura.

"Yang terjadi di Jayapura, ada yang memotong kabel utama jaringan optik Telkomsel yang mengakibatkan matinya seluruh layanan telekomunikasi di beberapa wilayah Jayapura," kata Rudiantara.

Dia menyebut, Telkomsel kini tengah berupaya untuk memperbaiki kabel yang diputus atau melakukan pengalihan trafik agar layanan telepon dan SMS bisa difungsikan kembali.

Rudiantara juga mengatakan tengah berkoordinasi dengan kepolisian RI dan TNI untuk membantu pengamanan perbaikan di ruang terbuka.

2 of 2

Isu Pembakaran Kantor Telkom

Diwartakan sebelumnya, akses telekomunikasi di Papua dan Papua Barat dikabarkan telah diputus oleh pemerintah. Informasi ini dicuitkan oleh SAFEnet (Southeast Asian Freedom of Expression Network) melalui Twitter.

Menurut informasi dari SAFEnet, pemadaman akses selular di Jayapura, Papua dilakukan oleh pemerintah pada 15.35 WIT.

"Pukul 15:35 WIT, jaringan selular di Jayapura dimatikan," kata SAFEnet lewat akun Twitternya, Selasa (29/8/2019).

Karena pemadaman seluruh akses seluler, masyarakat di Jayapura, Papua tidak bisa terhubung melalui internet, SMS, maupun telepon.

Tekno Liputan6.com telah meminta informasi dari Ombudsman mengenai hal ini, tetapi Ombudsman mengatakan kabar tersebut masih simpang siur.

Komisioner Ombudsman Alvin Lie juga menyebut, belum ada informasi apakah pemerintah memutus seluruh akses telekomunikasi di Papua atau hal ini merupakan dampak dibakarnya kantor Telkom di provinsi paling timur Indonesia itu.

"Belum tahu, apakah (akses seluler) dimatikan atau terjadi kerusakan karena menurut berita, kantor Telkom diserang massa. Kabarnya masih simpang siur. Kalau kantor Telkom diserang dampaknya bisa ke kerusakan jaringan telepon dan SMS," tutur Alvin saat dihubungi Tekno Liputan6.com.

Sementara itu, Damar Juniarto, Koordinator SAFENet, mengatakan bahwa keterangan Dirjen Aptika Kemkominfo kepada dirinya menegaskan tidak ada pemutusan telekomunikasi.

"Menurut Dirjen Aptika, tidak ada pemutusan telekomunikasi. Dari laporan operator, kabel koneksi antar BTS dibakar massa. Ini yang mengakibatkan jaring selular mati. Ada 313 BTS yang tidak berfungsi," kata Damar.

Kami juga menghubungi Telkom untuk meminta konfirmasi terkait kabar pengrusakan kantor Telkom. Dalam pernyataan resminya Telkom menyebut telah melakukan sejumlah antisipasi terhadap aset dan layanan TelkomGroup sehubungan dengan kerusuhan di Papua.

(Tin/Why)

Lanjutkan Membaca ↓