Uni Eropa Siap Investigasi Facebook terkait Kasus Rekaman Suara Pengguna

Oleh Agustinus Mario Damar pada 29 Agu 2019, 07:30 WIB
Facebook

Liputan6.com, Jakarta - Uni Eropa dilaporkan bersiap untuk melakukan investigasi terhadap Facebook, menyusul temuan adanya pengguna Eropa yang menjadi bagian dari program perekaman percakapan pengguna beberapa waktu lalu.

Sekadar informasi, Facebook mengakui merekam percakapan pengguna untuk ditranskipsi dan dianalisis. Data itu lantas digunakan untuk meningkatkan kemampuan teknologi speech recognition perusahaan.

Parahnya lagi, rekaman percekapan itu dikirimkan ke pihak ketiga lebih dulu untuk ditranskipsi. Sontak, hal tersebut menuai respons publik mengingat ada indikasi pelanggaran data pribadi pengguna.

Namun belakangan, seperti dikutip Business Insider, Kamis (29/8/2019), terungkap ada 48 warga negara Eropa yang termasuk dalam program ini. Padahal, Facebook sebelumnya telah menyangkal. 

Oleh sebab itu, Uni Eropa dilaporkan bersiap melakukan investigasi dan tidak tertutup kemungkinan raksasa media sosial itu akan menghadapi hukuman. Terlebih, aturan soal data pribadi Eropa lebih ketat ketimbang Amerika Serikat.

Tidak hanya itu, ada kemungkinan regulator dari sejumlah negara yang warga negaranya masuk dalam program ini dapat melayangkan investigasi serupa. Sebab, 48 warga negara Eropa dalam program ini berasal dari 14 negara.

Facebook sendiri hingga saat ini belum berkomentar mengenai upaya investigasi dari Uni Eropa tersebut. Hanya, sejak persoalan ini muncul ke publik, Facebook menyatakan program tersebut tidak lagi dilanjutkan.

2 of 3

Facebook Akui Pakai Operator Manusia untuk Transkrip Percakapan

Ilustrasi Facebook
Facebook (JUSTIN SULLIVAN / AFP)

Sebelumnya, Facebook diketahui sengaja menyewa pihak ketiga untuk mengulas dan menulis transkrip percakapan audio yang dilakukan pengguna.

Namun seperti dikutip dari The Verge, Rabu (14/8/2019), Facebook mengaku sudah menghentikan praktik ini. Media sosial itu juga memastikan suara yang ditranskrip itu dilakukan secara anonim.

Untuk diketahui, praktik ini merupakan bagian dari fitur trankskrip pesan suara ke teks yang ada di aplikasi Messengers sejak 2015. Facebook menyebut fitur ini hanya aktif apabila pengguna memang menawarkan akses agar pesan suaranya ditinjau oleh pihak ketiga.

Metode yang dilakukan Facebook  dengan mengumpulkan suara pengguna memang dilakukan sejumlah perusahaan lain. Cara itu biasanya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan buatan besutannya. 

Hanya yang menjadi permasalahan, Facebook tidak mengungkap proses analisis suara itu melibatkan operator manusia, sehingga rentan adanya kebocoran privasi pengguna. 

3 of 3

Apple Tegur Developer Aplikasi yang Rekam Aktivitas Pengguna iPhone

Ilustrasi Apple
Ilustrasi Apple (AP Photo/Mark Lennihan)

Kasus serupa sebenarnya juga sempat terjadi pada Apple. Namun sedikit berbeda, perusahaan itu yang memperingatkan para developer untuk tidak mengganggu privasi pengguna.

Apple mengatakan kepada para developer aplikasi bahwa mereka akan "ditendang" dari App Store, jika tidak menghilangkan atau mengungkapkan secara tepat kode analisis yang digunakan untuk merekam cara pengguna berinteraksi dengan aplikasi-aplikasi di perangkatnya.

Hal ini disampaikan oleh juru bicara Apple kepada TechCrunch. Juru bicara Apple mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan pemberitahuan tersebut kepada para developer yang tidak mengikuti ketentuan dan pedoman perusahaan.

Apple akan mengambil langkah cepat jika developer tidak juga melakukan perubahan yang diwajibkan, serta aplikasi mereka akan dihapus dari App Store.

"Melindungi privasi pengguna adalah hal penting dalam ekosistem Apple. Review Guidelines App Store kami mengharuskan aplikasi meminta persetujuan pengguna secara eksplisit, dan memberikan indikasi visual yang jelas saat merekam, mencatat, atau membuat catatan aktivitas pengguna," ungkap juru bicara tersebut.

(Dam/Why) 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Lanjutkan Membaca ↓