Eksistensi Pemain Drum Terancam Digantikan Kecerdasan Buatan?

Oleh Liputan6.com pada 07 Agu 2019, 09:30 WIB
Diperbarui 07 Agu 2019, 09:30 WIB
Mengintip Latihan The Resonanz Music Studio Jelang Konser Sabda Semesta
Perbesar
Seorang drummer berlatih jelang konser Sabda Semesta di Jakarta, Senin (25/9). Konser Sabda Semesta didukung Bakti Budaya Djarum Foundation, Jakarta Concert Orchestra, dan para komponis muda dunia. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta - Sony baru saja masuk dalam industri musik berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Minggu ini, perusahaan mengungkapkan para peneliti telah menciptakan machine learning yang bisa membuat pelacakan kick-drum atau bass drum. 

Akankah posisi drummer atau pemain drum terancam digantikan kecerdasan buatan?

Dilansir Engadget, Rabu (7/8/2019), menurut Sony, kecerdasan buatan mampu membangun pola drum yang "masuk akal" berdasarkan instrumen yang dapat digunakan dalam lagu.

Untuk melatih sistem AI, para peneliti Sony mengumpulkan data sebanyak 665 lagu yang berbeda dari berbagai genre, termasuk pop, rock, dan electronica.

Semua fitur instrumen lagu, seperti ritme, bass, kick, dan snares disediakan sebagai trek audio 44.1 kHZ secara terpisah.

Dengan menggunakan sinyal kontekstual dari trek tersebut, para peneliti menciptakan kick drum di semua puncak amplitudo.

Sistem kecerdasan buatan secara kondisional menghasilkan pola kick-drum berdasarkan karakteristik materi lain yang ada di sekitarnya, terlepas dari tempo lagu dan perubahan kecepatan atau durasi.

Meski kecerdasan buatan dinilai mampu beradaptasi dengan sangat cepat, posisi manusia (pemain drum) belum bisa tergantikan karena memiliki intuisi yang jauh lebih kuat. 

 

2 dari 2 halaman

Facebook Sudah Lebih Dulu

AI
Perbesar
AI

Sebagai informasi, Sony bukan satu-satunya perusahaan yang bermain di industri ini. Perusahaan yang sudah memanfaatkan AI untuk musik sebelum Sony yaitu Facebook.

Facebook menggunakan AI untuk mengonversi musik dari satu genre ke sejumlah gaya yang lain. Tak hanya itu, Google juga sudah melakukan eksperimen dengan kemampuan AI untuk menciptakan seni.

Salah satunya, membangun sebuah proyek yang disebut Magenta dengan menghasilkan kreasi musik dan visual.

Selain itu, juga berhasil menggunakan machine learning untuk menciptakan riff gitar dan musik yang lengkap, meskipun dari sisi kualitas masih dipertanyakan.

(Linda Fahira Putri/Isk)

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Rezekiku dari Offline ke Online