Alibaba Izinkan Pelaku Usaha AS Berjualan

Oleh Mochamad Wahyu Hidayat pada 26 Jul 2019, 17:30 WIB
Ilustrasi Alibaba

Liputan6.com, Jakarta - Pelaku usaha Amerika kini berpeluang untuk dapat menjual produknya di Alibaba.com. Hal itu merupakan salah satu upaya Alibaba untuk melakukan ekspansi ke segmen B2B.

Komisi Perdagangan Internasional AS menyebut, potensi pasar e-commerce segmen B2B bernilai sekitar US$ 23,9 triliun. Sementara potensi pasar e-commerce segmen B2C bernilai US$ 3,8 triliun.

"Anda dapat berkompetisi dan bersikap seperti perusahaan multinasional dengan cara baru karena kehadiran alat atau teknologi,” kata John Caplan, kepala B2B Amerika Utara di Alibaba Group dikutip dari Reuters, Jumat (26/7/2019).

Amerika Serikat, kata Caplan, merupakan pasar pertama di mana perusahaan berfokus pada pasokan global.

Adapun sepertiga pembeli di Alibaba.com berbasis di Amerika. Dari sisi penjual, kebanyakan di antara mereka, tepatnya lebih dari 95 persen, berasal dari Tiongkok.

Untuk bisa berjualan di Alibaba.com, pelaku usaha Amerika harus merogoh kocek untuk biaya keanggotaan sekitar US$ 2.000. Sebagai perbandingan, salah satu rival bisnis Alibaba, Amazon, membebankan biaya kepada penjual pihak ketiga berdasarkan item yang terjual atau bulanan.

Pada bulan lalu perusahaan e-commerce asal Tiongkok itu meluncurkan Tmall Global versi bahasa Inggris yang ditujukan untuk pelaku usaha internasional. Ini diharapkan dapat menaikkan jumlah merek internasional yang dijual di Tmall Global menjadi 40.000 dalam tiga tahun ke depan.

 

2 of 2

Ekspansi ke Beberapa Negara

Diwartakan sebelumnya, Alibaba telah memungkinkan penjual dari luar Tiongkok berjualan di salah satu platform miliknya.

Menurut laporan The Financial Times, AliExpress sudah membuka tokonya di Italia, Rusia, Spanyol dan Turki. Hal ini diharapkan bisa membantu Alibaba mengembangkan bisnis ritel mereka di seluruh dunia.

AliExpress, yang konsisten menjalankan bisnis ritel mereka, dikenal karena menjual barang-barang yang murah tapi berkualitas, seperti casing iPhone seharga 49 sen (Rp 7 ribu) atau tas-tas mewah palsu atau KW seharga beberapa dolar Amerika saja.

Ekspansi global yang dilakukan Alibaba tertuju langsung pada Amazon, yang saat ini menyandang gelar sebagai bisnis ritel terbesar di dunia.

Sementara Amazon sendiri kesulitan melakukan penetrasi ke Tiongkok karena sebagian besar masyarakat lebih memilih Alibaba dan JD.com untuk transaksi online.

(Why/Ysl)

Lanjutkan Membaca ↓