Google Calendar Punya Fitur Dark Mode

Oleh Andina Librianty pada 27 Mei 2019, 13:02 WIB
Diperbarui 27 Mei 2019, 20:13 WIB
Google Calendar

Liputan6.com, Jakarta- Google mengumumkan kehadiran fitur dark mode untuk dua aplikasinya, Calendar dan Keep. Google memutuskan menghadirkan dark mode untuk lebih banyak aplikasi menjelang peluncuran Android Q.

Dikutip dari Phone Arena, Senin (27/5/2019), pengumuman dark mode disertai oleh screenshot yang memperlihatkan aplikasi Calendar dan Keep dengan fitur tersebut. Cara penggunaan dark mode pun cukup mudah.

Untuk Google Calendar, pengguna bisa mengaktifkannya di Settings, lalu pilih General dan Theme, kemudian akan terlihat opsi Dark Mode. Pengguna Google Keep pun hanya perlu mengakses Settings, dan memilih Enable Dark Mode.

Menurut keterangan Google, pembaruan yang menghadirkan dark mode untuk Calendar dan Keep ke berbagai perangkat Android kompatibel akan berlangsung selama 15 hari. Peluncurannya sudah dimulai pada 16 Mei 2019 untuk Google Calendar, dan mulai 20 Mei pada Google Keep.

Google Calendar dan Keep merupakan dua aplikasi besutannya Google. Pengguna bisa mengunduhnya secara gratis di Play Store.

2 of 2

Google Hadirkan Live Transcribe, Bantu Penyandang Tunarungu Berkomunikasi

Live Transcribe
Presentasi apliaksi Live Transcribe (Foto: Andina Librianty / Liputan6.com)

Lebih lanjut,  Google sebelumnya menghadirkan aplikasi Live Transcribe untuk membantu penyandang tunarungu atau sulit mendengar, berkomunikasi dengan orang lain. Kehadiran aplikasi ini merupakan salah satu bentuk komitmen Google untuk menghadirkan berbagai produk yang mudah diakses oleh siapa pun.

Live Transcribe ini menggunakan teknologi pengenalan suara otomatis dengan mentranskripsikan pembicaraan menjadi tulisan secara real-time. Sederhananya, teknologi dalam aplikasi ini akan mendeteksi pembicaraan, kemudian menerjemahkannya ke dalam teks untuk dibaca.

Google berharap kehadiran aplikasi ini dapat lebih membantu penyandang tunarungu atau sulit mendengar berkomunikasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada 466 juta tunarungu dan sulit mendengar.

"Live Transcribe ini akan sangat membantu tunarungu, karena ketika ada orang berbicara, maka teksnya akan muncul. Sehingga membuat komunikasi mereka menjadi lebih baik," tutur Product Manager Google AI Research Group, Sagar Savla, melalui video press conference di kantor Google Indonesia, beberapa waktu lalu.

Live Transcribe saat ini sudah mendukung 70 bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia dan juga bahasa daerah Jawa. Bahasa lain di antaranya Inggris, Belanda, Bahasa Melayu, dan Prancis.

(Din/Isk)

Lanjutkan Membaca ↓