Bos Telegram: WhatsApp Tidak Akan Pernah Aman

Oleh Andina Librianty pada 17 Mei 2019, 13:29 WIB
Pendiri Telegram Temui Kemkominfo

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Telegram, Pavel Durov, mengomentari celah keamanan WhatsApp. Ia menilai celah keamanan spyware yang terjadi pada WhatsApp, bisa membuat semua yang ada di dalam ponsel, termasuk foto, email, dan teks diakses oleh hacker.

Pendapatnya soal WhatsApp ini, ditulisanya di blog Telegram dengan judul "Wht WhatsApp Will Never Be Secure". Financial Times sebelumnya melaporkan, WhatsApp disusupi spyware yang dibuat oleh perusahaan asal Israel, NSO Group

Hacker menyebarkan spyware melalui panggilan telepon WhatsApp, bahkan tetap bisa dilakukan jika pengguna tidak menjawab panggilan tersebut.

"WhatsApp memiliki sejarah yang konsisten, dari nol enkripsi di awal hingga berhasil hingga suksesi masalah keamanan, yang anehnya cocok untuk keperluan pengawasan. Menengok ke belakang, belum ada satu hari dalam 10 tahun perjalanan WhatsApp ketika layanan tersebut aman," ungkap Durov dalam laman blog, seperti dikutip dari Independent, Jumat (17/5/2019).

"Setiap kali WhatsApp mengatasi kerentanan kritis dalam aplikasi mereka, muncul yang baru. Semua masalah kemanan mereka cocok untuk pengawasan, serta terlihat dan bekerja sangat mirip dengan backdoor," tulis Durov.

2 of 3

Harus Ada Perubahan Fundamental

Telegram
Ilustrasi Telegram (Sumber: Iran Human Rights)

Durov meyakini, aplikasi pesan WhatsApp tidak akan pernah aman kecuali secara mendasar mengubah cara kerjanya.

"Agar WhatsApp menjadi layanan yang berorientasi pada privasi, harus berisiko kehilangan seluruh pasar dan bentrok dengan pihak berwenang di negara asal mereka. WhatsApp tidak siap untuk itu," jelas Durov.

Sebelum Telegram, Durov mendirikan VK yang kerap disebut sebagai Facebook-nya Rusia. Ketika ia menolak mematuhi perintah pemerintah setempat terkait keamanan pengguna VK, Durov terpaksa meninggalkan negara asalnya itu.

Durov sendiri selama ini dikenal sangat menjaga keamanan data para pengguna layanannya. Komitmennya ini membuat Telegram dikritik berbagai negara, termasuk Rusia dan Iran, karena menolak tekanan untuk melemahkan keamanannya.

(Din/Isk)

3 of 3

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓