Huawei Akan Garap TV 8K dengan Dukungan 5G

Oleh Agustinus Mario Damar pada 02 Mei 2019, 16:30 WIB
Salah satu toko resmi Huawei di Beijing, China (AP/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Jakarta - Huawei dilaporkan ingin terjun ke bisnis TV. Tak tanggung-tanggung, TV ini disebut-sebut akan memiliki resolusi 8K dan menjadi TV pertama di dunia yang mendukung jaringan 5G.

Menurut laporan Nikkei Asian Review, keputusan Huawei terjun ke bisnis TV adalah untuk melawan dominasi Samsung dan Apple.

Oleh sebab itu, perusahaan asal Tiongkok itu ingin membangun ekosistem untuk produk elektroniknya sendiri.

Dikutip dari CNET, Kamis (2/5/2019), TV yang mendukung 5G ini diperkirakan dapat menawarkan konten gim dan virtual reality yang lebih cepat. Selain itu, pengguna tidak memerlukan lagi cable box atau koneksi satelit.

Terlebih, tren masa depan memprediksi konten berkualitas 8K akan mulai banyak, meski saat ini masih jarang. Karenanya tidak heran, sejumlah manufaktur mulai bersiap dengan merilis TV yang mendukung 8K.

Huawei sendiri sekarang belum mau berkomentar mengenai rumor tersebut. Karenanya, menarik untuk menunggu pengumuman resmi dari Huawei terkait kehadiran TV ini.

Sekadar informasi, TV ini bukan perangkat perangkat konsumen 5G pertama dari Huawei. Sebelumnya, perusahaan sudah lebih dulu memperkenalkan Huawei Mate X 5G saat Mobile World Congress (MWC) 2019.

Selain Huawei, perusahaan lain yang juga sudah menawarkan TV dengan kemampuan 8K adalah Samsung dan Sony. Namun, keduanya memang belum menawarkan TV yang mendukung jaringan 5G.

2 of 3

CIA Sebar Isu Huawei Didanai Tentara dan Intelijen Tiongkok

Huawei HQ
Device Laboratory milik Huawei di Beijing, Tiongkok. Liputan6.com/Andina Librianty

Terlepas dari rumor tersebut, Agensi Intelijen Amerika Serikat atau kerap disingkat CIA, menuding Huawei menerima pendanaan dari Tentara Pembebasan Rakyat, komisi Keamanan Nasional Tiongkok, dan jaringan intelijen negara Tiongkok.

Informasi ini dilaporkan oleh media Inggris The Times dengan mengutip seorang sumber dari Inggris.

Sebagaimana dikutip Tekno Liputan6.com dari Gizmodo, Senin (22/4/2019), CIA mengungkapkan sejumlah bukti dari klaimnya tentang Huawei.

Bukti-bukti ini dipaparkan kepada sejumlah negara antara lain adalah Australia, Kanada, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Inggris.

Media tersebut menulis, CIA memberikan memberikan kepastian yang kuat atas bukti ini. Selain CIA, FBI kabarnya juga percaya bahwa kementerian keamanan negara Tiongkok ikut memberikan pendanaan kepada Huawei.

Sekadar informasi, pemerintah Amerika Serikat memang telah lama bersikeras bahwa Huawei merupakan ancaman keamanan nasional.

Bahkan, Amerika Serikat melarang agen-agen federal untuk menggunakan teknologi besutan Huawei.

Amerika Serikat kabarnya juga mengajak negara-negara sekutunya untuk tidak membiarkan Huawei membangun infrastruktur 5G jaringan nirkabel di negara-negara mereka.

Huawei sendiri telah menjadi perhatian internasional setelah CFO mereka Meng Wanzhou ditahan di Kanada dan hendak diekstradisi ke Amrika gara-gara dituduh melanggar aturan datang Amerika ke Iran.

Huawei pun telah dituduh mencuri rahasia dagang dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. 

3 of 3

Bantah Tudingan

Huawei P9
Logo Huawei dan Leica terpampang jelas di acara peluncuran Huawei P9 di Battersea Evolution, London, Inggris (Liputan6.com/ Andina Librianty)

Huawei pun membantah tudingan bahwa mereka beroperasi sebagai perpanjangan tangan dari aparat keamanan dan intelijen Tiongkok.

Bahkan pendiri Huawei Ren Zhengfei pun mengeluarkan pernyataan yang menolak tudingan itu.

Kepada The Times, juru bicara perusahaan mengatakan, "Huawei tidak mengomentari tuduhan yang tak berdasar yang tidak memiliki bukti, serta dari sumber anonim."

Sementara itu, Duta Besar Tiongkok untuk Inggris Liu Xiaoming mengatakan, "ini adalah kemarahan pemerintah dan media barat menyebut perusahaan-perusahaan Tiongkok sebagai ancaman keamanan."

Dia menegaskan bahwa tudingan semacam ini tidak berdasar dan menyudutkan. "Jika dibiarkan bisa menganggu aturan pasar, meracuni kerja sama bisnis, dan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dunia," katanya.

(Dam/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Lanjutkan Membaca ↓