Ilmuwan Ingin Buktikan Ada Kehidupan Setelah Kematian

Oleh Liputan6.com pada 18 Apr 2019, 06:30 WIB
Ilustrasi menuju alam baka

Liputan6.com, Jakarta - Ilmuwan dan ahli bedah asal Inggris, Sam Parnia, dulu pernah tenar karena sempat menulis karya ilmiah tentang near-death experience, atau biasa dikenal dengan sakaratul maut.

Sang ilmuwan sendiri masih mendukung pemikirannya sendiri soal kematian itu bukan akhir dari segalanya, ia menyebut bahwa ada kehidupan setelah meninggal dan kematian tak akan memusnahkan jiwa.

Satu dekade lalu, menurut laporan Medical Daily, Parnia menggelar proyek bernama AWARE yang meneliti pengalaman mental dan hubungannya dengan kematian.

Ia mengklaim bahwa dalam beberapa menit pertama setelah meninggal, kesadaran manusia masih ada.

Selain itu, hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa 40 persen orang yang selamat dari serangan jantung setelah dinyatakan mati secara klinis, menyebut dirinya dalam keadaan sadar alih-alih mati.

Sebagian besar dari pasien ini sendiri melaporkan pengalaman aneh ketika 'meninggal' sehingga dipastikan mereka dalam keadaan sadar.

 

2 of 3

Penjelasan Ilmiah Soal Near Death Experience

Ilustrasi tangan
Tangan Mati Rasa. Ilustrasi: pixabay

Kontras dengan deretan klaim dari Dr. Parnia, para ilmuwan telah secara gamblang menjelaskan bagaimana kehidupan setelah mati yang dimaksud sang ilmuwan di atas.

Salah satu penjelasan soal bagaimana seseorang masih sadar ketika dianggap meninggal secara klinis, ternyata sudah ada.

Dalam studi terbaru, hal ini justru karena kerusakan di salah satu bagian otak, yakni temporoparietal junction.

Temporoparietal junction adalah bagian di otak yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan data yang didapat oleh berbagai panca indera dan organ tubuh dalam bentuk persepsi.

Ketika bagian ini rusak, sangat mungkin berbagai hal terjadi. Paling sering adalah pengalaman keluar dari tubuh. Hal ini karena persepsi seseorang tak tergambar dengan baik.

Meski pengalaman ini terasa nyata, bahkan studi ilmiah dari jurnal Coma telah membuktikan kalau kegiatan ini bisa disimulasikan dengan tanpa harus membawa seseorang mendekati ajal terlebih dahulu, dan berhasil.

Dr. Parnia pun juga mengungkap berdasar hasil dari penelitiannya, bahwa ketika meninggal, pasien merasakan sukacita dan perasaan damai yang luar biasa. Nah, hal ini pun ada penjelasannya. Ini merupakan halusinasi.

3 of 3

Halusinasi

Awas, Patah Hati Berisiko Kematian
Foto Ilustrasi

Halusinasi yang dialami seseorang yang sedang meninggal klinis, seringkali memperlihatkan bagaimana kawan dan keluarga yang telah meninggal tersebut akan 'mengajak' ke kehidupan selanjutnya.

Perlu diingat, sains tidak mempercayai hal mistis seperti arwah, sehingga hal semacam ini ada penjelasan ilmiahnya. Dilansir dari Live Science, hal ini bisa terjadi karena kekurangan oksigen. Ketika seseorang yang kelebihan kadar karbon dioksida akan mengalami permasalahan di penglihatan, kekurangan oksigen dalam darah bisa sebabkan halusinasi dan adanya perasaan euforia.

Euforia inilah yang mungkin disebut oleh Dr. Parnia sebagai sukacita dan perasaan damai luar biasa.

Kekurangan oksigen maupun kelebihan karbon dioksida merupakan hal yang cukup masuk akal, pasalnya ketika sakaratul maut biasanya hal ini diikuti dengan serangan jantung, yang terjadi karena darah lajunya terhalau menuju otak.

Reporter: Indra Cahya

Sumber: Merdeka.com

(Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by