Startup Ini Ingin Tanamkan Google ke Otak Manusia

Oleh Jeko I. R. pada 27 Mar 2019, 12:00 WIB
Diperbarui 28 Mar 2019, 11:13 WIB
Ilustrasi Otak

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi IQ dan otak seseorang sejatinya bisa diubah, terlebih jika orang tersebut memang berniat ingin belajar lebih baik. Hal ini pun, bisa diwujudkan layaknya sihir oleh Fountech.ai. 

Ya, startup yang satu ini, punya tujuan dengan ingin membuat semua otak manusia bisa lebih cerdas layaknya mesin pencarian Google Search.

Mereka bahkan tengah mengembangkan teknologi di mana akan mengimplan ‘chip’ khusus yang akan membantu otak manusia bisa dengan mudah mencari informasi yang diinginkan.

Founder Fountech.ai Nikolas Kairinos, percaya bahwa di masa depan metode ini bisa dicanangkan ke manusia—khususnya anak-anak dan membantu proses pembelajaran mereka, di mana yang tadinya mereka harus menghafal sesuatu, menjadi tak perlu melakukan apa-apa lagi karena sudah memiliki akses yang luas.

“Dengan chip ini, pembelajaran manual yang membutuhkan effort tak lagi akan digunakan (di masa depan),” ujar Kairinos seperti dilansir Mirror pada Rabu (27/3/2019).

“Fungsinya nanti akan seperti memiliki asisten pintar dengan tingkat kecerdasan yang sama denganmu,” tambahnya.

Canggihnya lagi, chip tersebut akan memungkinkan manusia menemukan jawaban tanpa harus bertanya dengan suara.

“Dengan chip ini, pengguna bisa bertanya sesuatu dalam hati seperti ‘apa bahasa Prancisnya meja?’, dan mereka akan mendapatkan jawaban atau informasi dari chip implan tersebut secara langsung,” terang Kairinos.

 

 

 

 

2 of 3

Kecerdasan Buatan Jutaan Kali Lebih Pintar dari Manusia?

Peristiwa tunggal pemusnah manusia (5)
Ilustrasi kerjasama manusia dengan mesin kecerdasan buatan (AI). (Sumber Pixabay)

Entah bisa disebut bahaya atau tidak, kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) diprediksi bakal bisa lebih cerdas jutaan kali daripada manusia di masa depan.

Hal tersebut diyakini oleh pakar kecerdasan buatan Ian Person. Karena itulah, manusia harus melakukan sesuatu demi bisa bertahan.

“Jadi, kita harus melakukan sesuatu untuk memastikan bahwa kita memiliki beberapa cara untuk bertahan,” ujar Pearson, seperti dikutip Dream via CNBC, Kamis (18/10/2018).

Pearson mengatakan, ada cara yang bisa digunakan manusia agar tak terlindas oleh kemajuan kecerdasan buatan.

Cara tersebut, bisa dilakukan dengan menggabungkan otaknya dengan kecerdasan buatan. Ini akan membuat kecerdasan yang dimiliki manusia jadi setara.

“Saya tidak menjamin ini akan aman. Seperti Elon Musk (CEO Tesla dan SpaceX) yang mengembangkan komputer superhumans sampai kita bisa terhubung langsung dengan otak manusia,” terang dia.

Sekadar informasi, pada World Government Summit yang diadakan tahun lalu, Elon Musk mewanti-wanti manusia agar menggabungkan otaknya dengan kecerdasan buatan agar mampu menghasilkan teknologi superpower.

“Saya melihat kita akan bisa melihat kemungkinan untuk merger kecerdasan alami dengan kecerdasan digital. Ini berkaitan dengan kecepatan koneksi antara otak dengan tubuh versi digital,” kata dia waktu itu.

3 of 3

Kecerdasan Buatan Bisa Deteksi Kanker Payudara Lebih Akurat dari Dokter

Ilustrasi Kecerdasan Buatan. Kredit: Geralts via Pixabay
Ilustrasi Kecerdasan Buatan. Kredit: Geralts via Pixabay

Google, dalam hal ini, menjadi salah satu perusahaan yang begitu agresif mengembangkannya.

Salah satu terobosan terbaru kecerdasan buatan dari Google adalah kemampuannya yang bisa mendeteksi kanker payudara.

Berbekal tool deep learning, kemampuan kecerdasan buatan besutan raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) ini dalam mendeteksi kanker payudara, bahkan diklaim lebih akurat ketimbang dokter.

Dilansir Geek, Kamis (18/10/2018), tool bernama Lymph Node Assistant (LYNA) tersebut, sudah dilatih untuk bisa menerka karakteristik metastatis kanker.

Metastasis sendiri adalah penyebaran kanker dari suatu organ tubuh ke organ tubuh lain, seperti otak, tulang, paru-paru, atau juga hati. Pada kenyataannya, mendeteksi kondisi metastasis sendiri dibilang cukup sulit.

Namun dengan kecerdasan buatan LYNA yang juga dikembangkan oleh peneliti di Naval Medical Center San Diego AS, kesulitan proses deteksi kanker bisa berkurang hingga 40 persen.

Secara teknis, LYNA berbasis model image recognition dari TensorFlow milik Google. Tool ini sebetulnya dirancang untuk membantu dokter menganalisa dan mencari penyebab kanker, bukan ditugaskan untuk bekerja sendiri.

"Kami sudah melihat benefit potensial dari LYNA, ia bisa membantu sejumlah hal bagi para ahli patologi untuk bisa meninjau dan memutuskan diagnosis akhir," ujar pimpinan teknis kecerdasan buatan Google, Martin Stumpe dalam keterangannya.

Ke depannya, LYNA akan diuji coba untuk digunakan ahli patologi dalam mendeteksi kanker di sejumlah rumah sakit.

Jika benar membantu, bukan tidak mungkin tool ini bisa menjadi tool bawaan yang dapat dimanfaatkan dokter dan ahli patologi dalam membantu pasiennya untuk sembuh dari kanker.

(Jek/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓